Seri Pembinan Kader (1): Allah Tujuan Pengabdian Kami
June 28, 2010
Mukadimah
Manusia diciptakan Allah SWT di alam dunia dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya dalam surat Adz Dzariyat ayat 56:“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
Namun, manusia dalam menentukan tujuan hidupnya berbeda-beda dan beraneka ragam, seperti misalnya:
1. Untuk menyebarkan fitnah, kejahatan dan kerusakan. Digambarkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya surat Al-Baqarah ayat 204-205, “Dan di antara manusia ada orang yang pembicaraannya tentang kehidupan dunia mengagumkan engkau(Muhammad) dan dia bersaksi kepada Allah mengenai isi hatinya, padahal ia adalah penentang yang paling keras. Dan apabila dia berpaling (dari engkau) ia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi, serta merusak tanam-tanaman dan ternak, sedang Allah tidak menyukai kerusakan.”
2. Untuk perhiasan dunia dan harta benda, ini adalah tujuan hidup orang-orang yang dikendalikan oleh hawa nafsu dan syahwat. Allah SWT berfirman, “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (Surat Ali Imran ayat 14).
3. Untuk menikmati kesenangan dan makan, ini adalah tujuan hidup orang kafir, sesuai dengan wahyu Ilahi dalam surat Muhammad ayat 12, “…Dan orang-orang yang kafir menikmati kesenangan(dunia) dan mereka makan seperti hewan makan dan (kelak) neraka-lah tempat tinggal bagi mereka.”
4. Membimbing manusia ke jalan Allah, menunjukan masyarakat kepada kebaikan dan menerangi alam semesta dengan cahaya Islam. Ditegaskan Allah dalam kalam-Nya,
“Wahai orang-orang yang beriman ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebaikan, agar kamu beruntung. Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama (ikutilah) agama nenek moyangmu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur’an) ini, agar Rasul(Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan berpegang teguhlah kepada Allah. Dialah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.” (Surat Al-Hajj ayat 77-78).
Dari beberapa tujuan manusia diatas tentunya tujuan yang ke empat atau yang paling terakhir yang menjadi pilihan kader dakwah dan menolak dengan tegas ke tiga tujuan lainnya.
Dalam Risalah “Ilaa ayyi syaiin nad’uu an-naas karya Imam Syahid Hasan Al-Bana,”Maka demi Allah, wahai saudaraku yang mulia, apakah kaum muslimin telah memahami makna itu dari Al-Qur’an, sehingga jiwa mereka membumbung tinggi, terbebas dari perbudakan materialisme, membersihkan diri dari syahwat dan hawa nafsu, menghindari masalah-masalah sepele dan tujuan-tujuan rendah, dapat mengarahkan wajah dengan lurus kepada Allah yang telah menciptakan langit dan bumi, menegakkan kalimat Allah, berjuang di jalan-Nya, serta menyebarkan agama-Nya dan membela syariat-Nya? Ataukah mereka justru telah menjadi tawanan syahwat serta budak hawa nafsu dan keserakahan, dimana yang mereka pikirkan hanya makanan yang lezat, kendaraan mewah, pakaian indah, tidur yang menyenangkan, istri yang cantik, penampilan perlente dan gelar-gelar palsu serta panggilan-panggilan kosong. Mereka puas dengan angan-angan dan sibuk dengan kepentingan pribadi. Mereka klaim telah selami laut perjuangan tetapi mereka sedikitpun tak basah oleh air. Sungguh benar Rasulullah saw yang bersabda:”Celakalah hamda dinar, celaka hamba dirham, celakalah hamba selimut.”
Hal-hal penting yang menjaga tetap komitmen kepada Allah tujuan pengabdian kami:
1. Ma’rifatul Ghayah (mengetahui tujuan), Allah adalah tujuan pengabdian kami, tujuan dakwah yang kita lakukan hanyalah karena Allah, bukan karena jabatan, harta benda, kendaraan dan fasilitas lainnya, sehingga penampilan seorang kader dakwah adalah penampilan ahlullah, bukan penampilan ahluddunya yang menjadi fokus perhatiannya adalah memperbaiki niatnya dengan ikhlas dan bekerja sungguh-sungguh untuk keridhaan Allah, bukan memperbaiki penampilan fisik dan mencari perhatian publik. Firman Allah dalam surat Al-An’am ayat 161-162:
“Katakanlah(Muhammad),”Sesungguhnya Tuhanku telah memberiku petunjuk ke jalan yang lurus, agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus. Dia (Ibrahim) tidak termasuk orang-orang yang musyrik”. Katakanlah (Muhammad),”Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam.”
2. Ma’rifatuth-thariq ila al-Ghayah (mengetahui jalan menuju tujuan), jalan menuju Allah (tujuan) adalah dengan cara ihyaaul qulub (menghidupkan hati) dengan cara sebagai berikut:
a. Dawamu at-Tadzkir billah/bilghayah (selalu mengingatkannya akan Allah/tujuan). Sebagaimana yang digambarkan dalam Al-Qur’an surat Al Hasyr ayat 19:”Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa kepada diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.”
b. Wiqoyah al-Qulub minal Muatstsirat al-mukhtalifah (melindungi hati dari berbagai hal yang mempengaruhinya); seperti: pengaruh ekonomi, syahwat, pergaulan, perempuan, jabatan dan kekuasaan. Semuanya berdampak pada prilaku dan gaya hidup seseorang, tak terkecuali kader dakwah.
3. Ikhtiyar al-Biah as-Shalihah (memilih lingkungan yang baik), lingkungan yang senantiasa menjalankan fungsi amar ma’ruf dan nahi munkar, membudayakan taushiah bilhaq dan bishshab. Sesuai firman Allah SWT dalam surat al-Ashr ayat 1-3: “Demi masa. Sungguh manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.”
Lingkungan sangat besar pengaruhnya dalam membentuk prilaku dan kepribadian seseorang, kalau lingkungannya baik ia akan menjadi baik, kalau buruk ia akan menjadi buruk. Imam Ghazali berkata:”Bahwa menyaksikan kemaksiatan akan menjadikan seseorang menganggap ringan terhadap maksiat tersebut dan menyebabkan lemahnya sensitifitas hati padanya”
Penutup
Ikhwah fillah, masihkah tujuan dakwah kita terpelihara? Yaitu Allah tujuan pengabdian kami!, atau sudah bergeser; kepentingan, jabatan, dunia, harta benda menjadi tujuan? Na’udzu billah min dzalik.
Seiring dengan terbukanya peluang dunia dan berbagai tantangan lainya di depan dakwah dan para aktivis dakwah, sudah mulai terlihat tanda-tanda bergesernya orientasi dakwah dengan perubahan gaya hidup, penampilan dan selera di kalangan sebagian aktivis dakwah yang kadang kala memaksakan diri untuk menyesuaikan diri dengan masyarakat luas walaupun harus berhutang atau melupakan para aktivis dakwah yang memerlukan uluran tangan.
Zuhud, hidup sederhana, qanaah, sabar dan hidup bersahaja, hanyalah pelajaran masa lalu yang seakan sudah tidak relefan lagi. Astaghfirullah al-azhim. Ikhwah fillah pertahankan idealisme dakwah ini dan jaga nilai-nilai, prinsip dan cita-cita luhur kita:
Allah tujuan pengabdian kami
Ikhlash dasar pengabdian kami
Perbaikan jalan pengabdian kami
Cinta lambang pengabdian kami
Wallahu a’lam bishshawwab.
– Disampaikan dalam KAJIAN INTISABI PW PUI Provinsi Jawa Barat. Penulis adalah Ketua Bidang Dakwah dan Korada PW PUI Provinsi Jawa Barat, Ketua Dewan Pembina PW Pemuda PUI Provinsi Jawa Barat, Wakil Ketua Komisi B DPRD Provinsi Jawa Barat.*
Print This Article



Comments
TULIS KOMENTAR