Top

Mengokohkan Tiga Landasan Utama dalam Aqidah

July 18, 2010

* Mutiara Hadits Ishlahul Aqidah (2)

Oleh Eka Hardiana

Rasulullah saw bersabda: “Telah merasakan lezatnya iman, orang yang ridha bahwa ALLAH sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai rasul.”(Diriwayatkan Imam Muslim dari Abbas bin Abdul Muthalib ra.)

Penilaian terhadap Hadits
Hadits shahih diriwayatkan Muslim dalam shahihnya; bab Ad-Dalil ‘ala Anna Man Radhiya billah Rabban…(11/56)

Kilas Penjelasan
Hadits ini menegaskan, seorang muslim tidak boleh menjadikan selain ALLAH sebagai Tuhan yang disembah dan dituju, tidak berjalan kecuali di atas jalan Islam dan tidak melakukan suatu amalan kecuali berdasarkan ajaran dan syariat Muhammad saw. Apabila telah merealisasikan hal ini, maka ia telah merasakan lezatnya iman.

Hikmah Tarbawiyah
Pengertian dan Syarat-Syarat Kesempurnaan Ridha.
Ridha adalah merasa puas dengan sesuatu sehingga tidak mencari yang lainnya. Sebagian ulama menyebutkan beberapa syarat kesempurnaan ridha berdasarkan makna secara bahasa sebagai berikut:

a. Tidak ada kebencian dan kemurkaan sedikit pun terhadap yang diridhai.
Ridha secara bahasa adalah lawan dari “sakhath” (kebencian dan kemurkaan). Jadi, kalau kita mengaku ridha bahwa ALLAH sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad saw sebagai rasul, hendaknya kita tidak menyimpan sedikit pun kebencian kepada ketiga prinsip aqidah ini.

b. Mempersembahkan apa yang dimiliki kepada yang diridhai sehingga yang diridhai merasa ridha kepadanya.

Dikatakan “Ardhaahu”, (berarti memberikan kepadanya apa yang menjadilkannya ridha). Berarti kita harus mempersembahkan semua iyang kita miliki untuk meraih ridha ALLAH, ridha Islam dan ridha Rasulullah saw sesuai ketentuan yang telah digariskan.

c. Menaati semua kebijakan yang ditetapkan oleh yang diridhai.
Karenanya, “ar-radhi” memiliki “al-muthi’” (orang yang menaati). Berarti kita harus menaati perintah-perintah ALLAH, Islam dan Rasul-Nya kalau kita mengaku ridha kepada ketiga landasan utama ini.

d. Senantiasa membela yang diridhai dan menjadi penjamin keselamatan bagi yang diridhai. Karenanya, “ar-radhi” memiliki “adh-dhamin” (pemberi jaminan). Berarti kita harus berusaha menjadikan diri kita sebagai perisai hidup untuk menjaga dan melindungi agama ALLAH dan Rasul-Nya. Sebagaimana perkataan Abu Bakar ra., “Apakah agama ini akan berkurang, sedangkan Abu Bakar masih hidup?”

e. Memandang bahwa yang diridhai adalah yang paling layak untuk diridhai dan dicintai.

Dikatakan “Irtadhaahu”, berarti (memandangnya layak untuk dirinya). Jadi, kita harus merasa puas dan bangga dengan menjadikan ALLAH sebagai Tuhan karena selain-Nya sama sekali tidak layak untuk disembah. Puas dan bangga dengan menjadikan Islam sebagai agama karena selainnya adalah sesat dan menyimpang. Puas dan bangga menjadikan Muhammad saw sebagai penutup dan penghulu para Rasul, serta sebaik-baik manusia yang paling layak menjadi teladan umat manusia.

f. Rela bersusah payah untuk yang diridhai.
Dikatakan, “Taradh-dhaituhu”, yakni”aku menjadikannya ridha setelah berusaha dengan susah payah.” Hendaknya kita mencurahkan segenap tenaga untuk memperjuangkan agar hanya ALLAH sebagai Tuhan yang disembah, Islam sebagai agama yang menjadi pedoman hidup umat manusia di seluruh dunia, dan Muhammad saw sebagai Rasul dan manusia paling agung di atas semua makhluk ALLAH. Firman-Nya, “Dan perangilah mereka, supaya tidak ada lagi fitnah dan agama itu semata-mata untuk ALLAH.”(Al-Anfal:39)
(Lihat Lisanul ‘Arab/1/492)

Itulah syarat-syarat kesempurnaan ridha yang harus kita realisasikan ketika kita mengaku ridha bahwasanya ALLAH sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad saw sebagai rasul.

(Syarhu Ahaditsil Arba’in Tarbawiyah, karya ust Fakhrudin Nursyam,Lc. Penerbit Bina Insani Press).

– Eka Hardiana, Ketua Bidang Dakwah dan Koordinator Antar-Daerah Pimpinan Wilayah Persatuan Ummat Islam (PUI) Provinsi Jawa Barat.

Share on Facebook
Print This Article Print This Article

TULISAN TERKAIT

Comments

TULIS KOMENTAR





Bottom