MENATA NIAT SEBELUM BERAMAL
July 20, 2010
* Mutiara Hadits “ISHLAHUL IBADAH” (1)
“Yusyarun-Naasu ‘alaa niyyaatihim” (Rawaahu al-Bayhaqy ‘an Jabir).
Rasulullah saw bersabda: “Umat manusia dihimpun (pada hari Kiamat nanti) berdasarkan niat mereka” (HR.Baihaqi dari Jabir ra.)
Penilaian terhadap Hadits:
Hadits ini dishahihkan Syaikh Nashiruddin Al-Albani dalam “Shahihul Jami’”(8042)
Kilas Penjelasan
Seorang muslim hendaknya memperhatikan niatnya ketika hendak melakukan suatu amalan (tash-hihun-niyyah qablal-’amal). Karena niat inilah yang akan menentukan masa depannya di akhirat nanti. Jika ia memiliki niat yang jahat dalam setiap amal kebaikan yang dilakukan, maka amal kebaikan itu tidak akan diterima oleh ALLAH dan di hari kiamat nanti ia akan dihimpun bersama orang-orang yang celaka. Jika ia memiliki niat yang baik dalam setiap amal kebaikan yang dilakukan, maka amal kebaikannya akan diterima ALLAH, pahalanya dilipatgandakan dan di hari kiamat nanti ia akan dihimpun bersama orang-orang yang selamat dan bahagia. Semua ini menegaskan betapa pentingnya niat baik untuk senantiasa kita hadirkan dan betapa bahayanya niat jahat sehingga harus senantiasa kita hindarkan.
Nilai-nilai Ruhiyah:
Keutamaan Niat yang Baik.
a. Niat yang baik akan mengantarkan pelaku kebaikan menuju ridha ALLAH dan Rasul-Nya serta melipatgandakan pahalanya. Rasulullah saw bersabda, “Segala amal perbuatan tergantung niatnya dan bagi setiap orang apa yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena ALLAH dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu menuju ALLAH dan Rasul-Nya…”(Muttafaqun ‘Alaih).
Artinya, kalau ia berhijrah demi meraih keridhaan ALLAH, maka hijrahnya akan diterima dan diberi balasan kebaikan oleh ALLAH Ta’ala. Beliau juga bersabda, “Jika seorang hamba meniatkan kebaikan, lalu ia mengamalkannya, maka ALLAH akan mencatat untuknya 10 kebaikan hingga 700 kali lipat kebaikan, bahkan hingga berlipat ganda banyaknya.”(Muttafaqun ‘Alaih).
b. Niat yang baik akan mendatangkan pahala kebaikan meskipun ia belum sempat mengamalkannya.
Rasul saw bersabda,” Seorang hamba yang dikaruniai ALLAH harta dan ilmu, lalu ia bertakwa kepada ALLAH dalam mengelola hartanya. Ia menggunakan hartanya untuk mengokohkan jalinan silaturahim dan mengetahui hak ALLAH pada hartanya. Orang ini berada pada posisi yang paling mulia. Dan seorang hamba yang dikaruniai ilmu oleh ALLAH namun tidak dikarunia harta sedangkan ia tulus dalam niatnya. Ia mengatakan,’Seandainya aku memiliki harta,niscaya aku akan melakukan seperti yang dilakukan si fulan.’ Maka dengan niatnya ini, keduanya mendapatkan pahala yang sama”(HR. Tirmidzi).
c. Perpaduan antara niat yang baik dengan amal yang baik akan mampu mengejar ketertinggalan seorang Muslim dari rekan-rekannya yang telah berhasil meraih dan mempertahankan pahala yang besar karena melakukan amal kebaikan yang sangat spektakuler. Hal itu karena niat yang baik akan memperbesar suatu kebaikan yang kecil hingga mampu mengimbangi kebaikan yang besar.
Ibnul Mubarak berkata,”Bisa jadi suatu amalan yang kecil akan diperbesar oleh niatnya. ” Sebagai contoh adalah riwayat Sa’ad bin Waqqash, ia berkata,” Ya Rasulullah, mungkin aku akan tinggal di Makkah setelah sahabat-sahabatku(berhijrah meninggalkanku)?”
Rasul menjawab,”Tidaklah kamu tinggal (di Makkah setelah berhijrah darinya) lalu kamu melakukan suatu amalan yang kamu niatkan untuk meraih ridha ALLAH, melainkan dengan amalan itu kamu telah meningkatkan derajat dan kemulianmu.”(HR. Muslim).
Sebagaimana kita ketahui bahwa Rasulullah saw menyayangkan sebagian shahabat yang sudah berhijrah meninggalkan Makkah lalu kembali ke Makkah untuk tinggal di sana sampai tutup usia. Namun jika seseorang terpaksa tinggal di Makkah setelah ia berhijrah meninggalkannya, maka hendaknya ia melakukan amal kebaikan disertai niat yang tulus untuk meraih ridha ALLAH. Dengan begitu ia akan mampu mengejar ketertinggalannya dari para shahabat yang mempertahankan hijrahnya dan tetap tinggal di Madinah.
d. Niat yang baik dari seorang Muslim kadang lebih baik dari amalnya. Dalam atsar disebutkan,”Niat seorang mukmin (kadang) lebih baik dari amalnya.”(Dha’iful jami’:5976).
Yahya bin Abi Katsir berkata,”Pelajarilah niat, karena sesungguhnya niat itu lebih jelas dari amalan.”Sebagai contoh, ada seorang wanita mrnjenguk Imam Syafi’i yang sedang terbaring sakit. Lalu ia memanjatkan doa demi kesembuhan beliau seraya mengucapkan,”ALLAHU Yusyfiika” dengan dhammah yang berarti semoga ALLAH membinasakanmu.”. Padahal seharusnya ia mengucapkan, “ALLAHU Yasyfiika” dengan fathah yang berarti “Semoga ALLAH menyembuhkanmu.”
Mendengar doa itu, Imam Syafi’i mengucapkan,”Ya ALLAH, kabulkanlah apa yang menjadi niat dalam hatinya dan bukan apa yang terucap di bibirnya.”
e. Bahkan niat yang tulus dan baik bisa menjadi amal kebaikan yang paling utama. Dalam sebuah atsar disebutkan,”Amal yang paling utama adalah niat yang tulus.” (Dha’iful Jami’: 1030).
Dawud Ath-Tha’i berkata, ” Aku melihat bahwa semua kebaikan terhimpun dalam niat yang baik. Cukuplah niat yang baik sebagai suatu kebaikan bagimu meskipun kamu tidak pernah melakukannya.” (Jami’ul ‘Ulum wal hikam:18).
f. Niat yang baik juga dapat mendatangkan keuntungan dan kebahagiaan duniawi. Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa yang akhirat menjadi niatnya, menyempurnakan kekayaan dalam hatinya dan dunia akan menghampirinya meskipun ia tidak menyukainya.” (Ash-Shahihah: 1408).*
(Syarah Ahadits al-Arba’in ar-Ruhiyyah, karya ust Fakhruddin Nursyam Lc. Penerbit Bina Insani Press Solo).
– Kiriman: Eka Hardiana, Ketua Bidang Dakwah dan Koordinator Antar Daerah Pimpinan Wilayah Persatuan Ummat Islam (PW PUI) Provinsi Jawa Barat
Share on Facebook
Print This Article


Syukur Alhamdulilah PW PUI sekarangmah sudah punya website biar kami bisa berkomunikasi