Connect with us

Dakwah

Ayo, Jadi Mujahid Media!

Published

on

Oleh ASM. Romli

Tidak ada yang meragukan peran media massa dalam efektivitas penyebaran informasi. Tidak ada pula yang meragukan betapa besarnya atau “powerful” pengaruh media dalam membentuk opini publik, pendapat umum, atau memengaruhi pemikiran dan sikap masyarakat.

Sudah “terlalu banyak” contoh atau bukti, sebuah tulisan dapat “mengubah dunia” dan menggerakkan orang untuk berpikir dan bersikap terhadap sesuatu. Contoh terbaru adalah “gejolak dunia Arab” –revolusi Tunisia dan Mesir yang diikuti pergolakan di Bahrain, Yaman, Maroko, dan Libya— yang digerakkan melalui tulisan di Facebook dan Twitter.

Contoh sekaligus “bukti klasik”-nya adalah kasus Amerika Serikat (AS). Berkat penguasaan media, Zionis Yahudi menjadi penguasa sesungguhnya di negara itu. Hasil kajian “National Vanguard Books” bertajuk “Who Rules America?” menunjukkan, kaum Yahudilah yang menjadi penguasa sejati Amerika.

Lewat media massa, kaum Yahudi mampu mengendalikan pemikiran dan sikap warga Amerika dan warga dunia umumnya. Kekuatan lobi Yahudi yang terkenal itu pun berkat kekuatan media.

“Kapan pun Anda menonton televisi, sekalipun stasiun penyiaran lokal yang kecil atau via televisi kabel atau satelit; kapan pun Anda menonton film feature di teater atau di rumah; kapan pun Anda mendengarkan radio atau musik rekaman; kapan pun Anda baca surat kabar, buku, atau majalah –semua informasi atau hiburan yang Anda terima itu diproduksi dan/atau disebarkan oleh media-media milik orang Yahudi,” demikian salah satu kesimpulan kajian yang dimuat di situs natall.com.

Sikap Islamophobia, anti-masjid, anti-jilbab, anti-cadar, anti-syariat Islam, dan sejenisnya di masyarakat Barat (Eropa dan Amerika) dewasa ini juga digerakkan oleh tulisan-tulisan di media massa.

Masyarakat Barat umumnya mengetahui dan memahami Islam dan kaum Muslim dari pemberitaan media, juga tulisan-tulisan para orientalis anti-Islam, bukan dari sumbernya langsung (Quran-Hadits) ataupun berinteraksi langsung dengan kaum Muslimin.

Wajar jika Karen Armstrong –penulis buku Muhammad Prophet for Our Time— mengeluh:

”Padahal jika Barat memahami Islam langsung dari sumbernya, tidak terpengaruh oleh segala opini negatif yang ada saat ini serta jujur terhadap sejarah maka merekapun akan menyadari bahwa segala prasangka mereka kepada Islam adalah salah.”

Menurut survei Gallup World Religion Survey (2010), warga Amerika Serikat punya prasangka buruk terhadap orang Islam dan 63% memiliki sedikit atau tidak punya pengetahuan tentang Islam. “Mayoritas orang Amerika (53%) juga tidak menyukai Islam,” demikian salah satu kesimpulan survei (Associated Press, 21/1/2010).

SAAT ini sangat banyak buku dan artikel keislaman, juga media-media Islam, utmanya media online. Namun, rupanya itu belum cukup, masih kalah secara kualitas maupun kuantitas dengan media yang “tidak bersahabat” dengan Islam.

Akibatnya, yang masih dominan tampil atau “dimunculkan” adalah Islam dan Muslim “versi mereka”, bukan “versi kita”.

Media-media Islam itu mungkin belum ditangani secara profesional, dalam pengertian secara teknis jurnalistik dan manajemen media, yang berakar masalah dari “masalah klasik”: minim dana dan SDM.

Hingga kini saya masih “menduga”, kesadaran bermedia dan berdakwah lewat tulisan masih kurang di kalangan umat Islam, termasuk di kalangan aktivis ormas Islam dan aktivis masjid. Hampir semua organisasi Islam punya media, minimal blog, tapi masih “miskin update”.

Kehadiran Facebook dan Twitter memperparah keadaan. Budaya menulis pelan-pelan, sadar atau tidak sadar, makin terpuruk dan tenggelam. Aktivis dakwah lebih suka “menulis supersingkat” di akun FB/Twitter, ketimbang di blog atau situs organisasinya!

Kita rupanya belum tersadarkan oleh “manhaj dakwah” para ulama terdahulu (salaf), yakni menulis (bil qolam) selain dengan ceramah/khotbah (bil lisan). Tulisan atau buku-buku karya mereka dapat kita nikmati hingga kini. Nama mereka pun terus populer dan akrab di kalangan umat, seakan-akan mereka masih ada, karena pemikirannya tetap menjadi acuan.

Seorang ulama yang populer semasa hidupnya, lambat-laun akan “tenggelam” namanya di kalangan umat, jika ia tidak “mewariskan ilmu” dalam bentuk karya tulis (buku).

Tidak semuanya harus demo, tapi harus ada yang mengabarkan aksi demo itu kepada dunia lewat tulisan (berita). Nasihat atau materi penceramah di masjid atau majelis taklim, dapat diterima pula oleh mereka yang tidak hadir, jika salah seorang jamaah yang hadir menuliskan dan menyebarkannya melalui media. “Hendaklah yang hadir menyampaikannya kepada yang tidak hadir,” demikian sabda Nabi Saw. “Ayyuballighul hadirul ghaiba”.

Allah SWT mengingatkan:

”Tidak sepatutnya bagi orang-orang mukmin itu pergi semuanya ke medan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At-Taubah:122).

Jangan semua ikut perang, sebagian harus tinggal dan “menjaga ilmu agama”. Jangan semua demo, sebagian harus menuliskan substansi atau pesannya dan mengabarkan pesannya kepada publik. Betul tidak….? Ayo, jadi mujahid media! Mujahid da’wah bil qolam! Wallahu a’lam. (www.romeltea.com).*

– Tulisan ini dimuat di Majalah Hidayatullah Edisi Agustus 2011.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dakwah

JANGAN MERUSAK AMALMU

Published

on

EMBUN PAGI (Oleh: Eka Hardiana)

Ayat Alquran yang membuat orang beriman gemetar dan takut di antaranya adalah ayat ini : 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَلَا تُبْطِلُوْۤا اَعْمَا لَـكُمْ 

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan janganlah kamu merusakkan segala amalmu.”
(QS. Muhammad [47]: Ayat 33)

Ibnu ‘Umar radhiyallahu anhu pernah berkata: “Kami sekelompok shahabat Rasulullaah mengira bahwa tidak ada sedikitpun kebaikan, kecuali PASTI DITERIMA (ALLAH). Hingga turunlah ayat (diatas).” 
(Diriwayatkan Ibnul Mubaarak; dikutip dari Tafsir IBnu Katsiir)

Sesungguhnya kebaikan, dapat menghapuskan keburukan; dan sesungguhnya keburukan dapat menghapuskan kebaikan.

Yang dimaksud dengan “merusak amal” adalah: 

  1. Janganlah engkau merusak amal ketaatan dengan melakukan dosa-dosa besar.
  2. Janganlah engkau merusak amalmu dengan bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.
  3. Janganlah engkau merusak amalmu dengan RIYAA’, UJUB, SUM’AH, KERAGU-RAGUAN, GHIBAH, dan NIFAQ.


Diantara pelajaran penting ayat diatas, yang dapat kita petik adalah sikap para sahabat : “Janganlah kita merasa bahwa Allah telah menerima amalan kita (sedangkan kita tidak tahu secara pasti hal tersebut) yang akibat anggapan tersebut (merasa amalan kita sudah banyak, dan kita menjadi takabbur dan ujub karenanya), menjadikan kita bermudah-mudahan terhadap dosa, sekecil apapun itu.

Sahabat Umar radhiyallahu ‘anhu menanyakan kepada para shahabat tentang tafsir ayat diatas. Ibnu Abbas menjawabnya:

“Yakni perumpamaan orang yang RAJIN beramal dengan ketaatan kepada Allah, lalu Allah mengirimkan setan kepadanya (kemudian ia mengikuti jejak langkah syaithan tersebut), lalu dia banyak bermaksiat sehingga amal-amalnya terhapus” 
(Fathul Baari (VII/49); al-Bukhari (4538)

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا

“Aku benar-benar mengetahui diantara umatku pada hari Kiamat nanti, ada yang datang dengan membawa kebaikan sebesar gunung di Tihamah yang putih, lalu Allah Azza wa Jalla menjadikannya seperti kapas berterbangan (menjadikannya sia-sia.).”

قَالَ ثَوْبَانُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لَا نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَا نَعْلَمُ قَال

Tsauban bertanya, “Ya Rasulullah, jelaskan kepada kami siapa mereka itu agar kami tidak seperti mereka sementara kami tidak mengetahui!” Beliau bersabda,

أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنْ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا

“Sesungguhnya mereka adalah saudara-saudara kalian dan dari golongan kalian, mereka shalat malam sebagaimana kalian mengerjakannya, tetapi mereka adalah kaum yang jika kembali kepada apa yang di haramkan Allah (berbuat dosa), maka mereka terus mengerjakannya.”
(HR. Ibnu Majah, disahihkan oleh Syaikh Al-Bani dalam Silsilatul Ahaadits Shahihah No. 505).

Kita berlindung kepada Allah dari ketertipuan terhadap amalan-amalan kita; sehingga menjadikan kita takabbur, sehingga menjadikan kita menganggap mudah untuk melakukan dosa.

Tanda baiknya amalan kita adalah amalan yang mengiringinya. Jika kita mengamalkan amalan buruk, maka itulah buah dari amalan sebelumnya (meskipun amalan sebelumnya terlihat “baik”).

Oleh karenanya jika ternyata kita dapati dalam diri kita sibuk dengan amalan ketaatan, tapi sering jatuh kepada maksiat; maka mungkin “amalan ketaatan” yang kita lakukan tersebut hanyalah secara zhahirnya saja yang saleh; tapi secara batin, penuh dengan kedustaan (riyaa’/sum’ah). Na’udzubillah.

Maka kita memohon kepada Allah, agar dimudahkan serta diberikan kekuatan untuk beramal saleh secara TERANG-TERANGAN maupun secara SENDIRIAN; baik secara LAHIR maupun BATHIN.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa Salam bersabda:

وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا

Sungguh amalan itu tergantung dengan penutupannya.” 
(HR. Bukhari)

Beliau juga bersabda:

لَا عَلَيْكُمْ أَنْ لَا تَعْجَبُوا بِأَحَدٍ حَتَّى تَنْظُرُوا بِمَ يُخْتَمُ لَهُ

“Janganlah kalian merasa kagum dengan (amalan) seseorang hingga kalian dapat melihat akhir dari amalnya.

Said bin Jabir berkata :
“Sesungguhnya seorang hamba melakukan perbuatan kebaikan lalu perbuatan baiknya itu menyebabkan ia masuk neraka, dan sesungguhnya seorang hamba melakukan perbuatan buruk lalu perbuatan buruknya itu menyebabkan dia masuk syurga. Hal itu kerana perbuatan baiknya itu menjadikan, dia bangga pada dirinya sendiri (takabbur, kemudian ujub), sehingga dengan sebab takabbur dan ujubnya tersebut; maka Allah mewafatkannya diatas keburukan tersebut. Sementara seseorang yang melakukan perbuatan buruk (senantiasa hatinya mengingkari dan merasa bersalah atas perbuatannya tersebut), hingga menjadikan ia senantiasa memohon ampun serta bertaubat kepada Allah kerana perbuatan buruknya itu (dengan sebab rasa takutnya tersebut, maka Allah memberinya petunjuk, dan mewafatkannya diatas taubatnya tersebut).”

و اللّٰه اعلم بالصواب 

Pamoyanan, 18 Rajab 1441 H/13 Maret 2020 M (Zoom)
Continue Reading

Dakwah

KARENA BEDA, KITA BERSATU

Published

on

Oleh: Egi Sopian. (Ketua Biro Dakwah DPW PUI Jawa Barat)

Perbedaan yang terjadi di tengah-tengah kehidupan manusia baik dalam urusan agama maupun urusan dunia sejak dahulu kala dan akan tetap ada sampai hari kiamat nanti. Hal ini merupakan hikmah ilahiyah supaya tampak jelas antara yang haq dan yang batil, tetapi orang-orang yang mendapat rahmat dan petunjuk Allah SWT tidak akan berbeda pendapat dalam perkara ushuuluddiina/dasar-dasar agama karena mereka mengetahui jalan kebenaran dan mengikutinya untuk kemaslahatan umat manusia. 

ولو شاء ربك لجعل الناس أمة واحدة ولايزالون مختلفين. إلا من رحم ربك ولذلك خلقهم.

Artinya: “Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Allah jadikan umat yang satu. Tetapi, mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Untuk itulah, Allah menciptakan mereka” (QS. Hud [11]: 118-119).

Kendati perbedaan pendapat, tujuan, orientasi dan cita-cita merupakan fitrah manusia, tetapi upaya untuk menghilangkan konflik dan memperkecil jurang perpecahan merupakan tugas mulia seorang muslim. Karena itu, dia sadar bahwa perbedaan adalah rahmat untuk mencari meeting of mind/ titik temu, mendinamiskan serta memperkaya khazanah kehidupan. Oleh karena itu, segala bentuk prasangka, sentimen, serta niat saling mengungguli dalam pengertian negatif harus dihindari seoptimal mungkin karena akan meruntuhkan tatanan pergaulan manusia dan mengkhianati posisi kebersamaan. 
Pancaran sikap dan karakter seorang muslim justru karena cinta, dia tidak ingin orang lain merasa terancam, resah serta tersakiti karena kehadiran dirinya, memprioritaskan kemanusiaan di atas kepentingan individu. Secara umum, hal ini disabdakan Rasulullah SAW: “Sayangilah penduduk bumi niscaya yang di atas langit pun akan menyayangi kalian” (HR. Abu Dawud).
Dalam perbedaan inilah terdapat keindahan dan kesempurnaan hidup, sekaligus menunjukkan kuasa Allah SWT. Adapun sebab-sebab perbedaan itu sendiri, di antaranya adalah: 
Pertama, Tidak Sanggup Memahami Permasalahan. 
Masing-masing belah pihak tidak sanggup memahami permasalahan secara komprehensif/ lengkap. Hal ini diumpamakan seperti sekelompok orang buta yang memegang seekor gajah besar. Orang pertama memahaminya melalui satu sisi, orang kedua juga memahaminya melalui sisi yang lain, begitulah orang ketiga dan seterusnya. 
Setiap mereka memberikan ciri-ciri gajah berdasarkan apa yang mereka pegang. Sejatinya, jika telah diketahui inti permasalahan yang diperselisihkan, maka lenyaplah segala bentuk perbedaan. 
Syaikh Muhammad Abu Zahrah berkata: “Pandanglah pada kebenaran, bagaimana mampu menyatukan mereka, pandanglah kebohongan dan kesalahan yang masuk pada diri mereka hingga meretakkan persatuan mereka”.
Kedua, Fanatisme Golongan. 
Sejarah mencatat, ketika terjadi pertempuran antara blok Musailamah Al-Kadzdzab dengan kaum Muslim, salah seorang kaki tangannya berkata: “Demi Allah, sesungguhnya tampak jelas bahwa tampangmu adalah tampang pendusta, tetapi tidaklah mengapa aku menjadi kaki tanganmu, karena bagiku seorang pendusta yang membawa keberuntungan lebih baik dari pada orang jujur yang membahayakan”.
Ketiga, Melakukan Taklid Tanpa Ilmu. 
Taklid buta semestinya tidak dilakukan seorang muslim, apalagi jika disertai dengan sikap keras kepala, mengingkari kebenaran, dan tunduk kepada hawa nafsu. Seyogyanya dia mengetahui dalil dari Al-Qur’an dan sunnah yang menjadi landasan orang yang diikutinya tersebut. 
Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya, pendengaran, penglihatan dan hati, semua akan diminta pertanggung jawaban” (QS. Al-Isra’ [17]: 36).
“Ya Allah, satukanlah hati kami, perbaikilah hubungan sesama kami, tunjukkanlah kami jalan kebenaran, selamatkanlah kami dari kegelapan menuju cahaya, jauhkanlah kami dari perbuatan-perbuatan keji yang nampak maupun yang tersembunyi” aamiin. (Zoom)
Continue Reading

Berjiwa Besar

MEREKA BERJIWA BESAR

Published

on

Oleh: Egi Sopian. (Ketua Biro Dakwah DPW PUI Jawa Barat)
Jiwa besar adalah semangat untuk memaafkan sekaligus melupakan kesalahan yang sempat dilakukan orang lain terhadapnya to forgive and to forget. Dikatakan berjiwa besar karena seseorang bisa jadi memaafkan, namun tidak berangkat dari lubuk hati yang tulus sehingga tidak berkenan melupakan segala dendam kesumat, baik secara pribadi maupun kelompok. Maka, setiap kebulatan hati apabila tidak dibarengi dengan kesadaran hanya akan melahirkan sikap keras kepala dan membuahkan kegelisahan pelakunya.
Allah swt menunjukkan salah satu ciri orang yang cerdas secara ruhaniah adalah mereka yang mampu menghapus bekas luka hatinya sebagai bentuk kesalehan, kepeduliannya terhadap kemanusiaan untuk membangun kualitas moral yang lebih baik lagi. Sebagaimana dalam firman-Nya, 
وأن تعفوا أقرب للتقوى ولا تنسوا الفضل بينكم إن الله بما تعملون بصير. 
Artinya: “Pemaafan kamu itu lebih dekat kepada takwa. Janganlah kamu lupa kebaikan di antara kamu. Sesungguhnya, Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Baqarah [2]: 237).
Hubungan baik, antara lain dicerminkan oleh kesediaan untuk saling memaafkan, menuturkan kebaikan, dan melupakan keburukan sehingga menjadi pahala semuanya. Hal ini benar-benar membuktikan jiwa yang sudah teruji dan terlatih dengan takwa.
Ketika Rasulullah SAW dihina, dicemooh dengan kata-kata kotor dan dilempari batu hingga terluka bercucuran darah oleh penduduk Thaif. Pada saat itu, Malaikat Jibril mendatanginya dan menawarkan bantuan untuk membalaskan kepedihan hatinya seraya berkata: “Apakah engkau mau aku timpakan dua gunung kepada mereka? “. Tapi, Rasulullah SAW tidak menghendakinya dan dijawab tawaran tersebut dengan do’a, “Ya Allah, ampunilah mereka, karena sesungguhnya mereka itu kaum yang tidak mengerti”.
Inilah leadership by example/ kepemimpinan dengan keteladanan yang menunjukkan kearifan, optimisme yang luar biasa dan menampakkan jiwa besar Rasulullah SAW. Keagungan akhlaknya menggaung ke seantero jagad dan diabadikan dalam firman-Nya, “Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS. Al-Qalam [68]: 4).
Manshur bin Muhammad Al-Kuraizi berkata: “Aku akan paksakan sifat pemaaf pada diriku untuk orang-orang yang berbuat keburukan mereka kepadaku. Karena manusia itu tidak lebih lebih dari tiga golongan (yaitu) orang yang mulia, orang yang tidak mulia, dan orang yang seimbang dengan kita. Adapun orang yang lebih dariku, maka aku mau mengakui keutamaan dia dan aku mengikuti kebenaran padanya. Karena kebenaran itu harus diikuti. Kalau ternyata orang itu lebih rendah kemuliaannya dariku dan ternyata dia berbuat buruk kepadaku, maka aku sudah melindungi diriku dengan cara aku untuk tidak menjawab dia. Kalau ternyata dia seimbang denganku lalu terpeleset di dalam kesalahan, maka aku sudah berbuat kebaikan. Karena sifat halim/ penyantun merupakan sifat yang lebih baik bagi orang yang bijak”.
Dengan demikian, berjiwa besar merupakan orang yang menyikapi sesuatu untuk satu kepentingan besar, kemaslahatan Islam dan muslimin, bukan jiwa kerdil yang senang jika dipuji dan marah jika dikritik, begitu pula tidak lagi menghargai kebersamaan yang pernah dijalin waktu silam. Satu keburukan di mata manusia bisa menghapus semua kebaikan, tetapi satu kebaikan di mata Allah bisa menghapus semua keburukan. 
Allah swt berfirman: “Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan. Tolaklah (keburukan itu) dengan cara yang lebih baik, maka orang-orang yang antaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang amat setia” (QS. Fushshilat [41]: 34).
“Ya Allah, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, agar mereka mengerti perkataanku” aaminn. (Zoom)
Continue Reading

@ Copyright - Infokom DPW PUI Jabar