Connect with us

Berita PW

Jawa Barat Basis Gerakan Dakwah PUI

Published

on

Persatuan Umat Islam (PUI) merupakan ormas yang berbasis di Jawa Barat. Dalam perkembangannya mengalami pasang surut. Padahal bila melihat aset lembaga pendidikan PUI, termasuk ormas yang paling banyak lembaga pendidikannya khususnya di Jawa Barat.

Di tingkat wilayah, forum tertinggi pengambilan keputusan organisasi adalah Musyawarah Wilayah (Muswil). Pengurus Wilayah Jawa Barat saat ini dihasilkan dalam Muswil PUI yang berlangsung 25-26 Maret 2006 di Bandung. Setiap pelaksanaan Musywil, kita selalu berharap forum tersebut bukan sekadar memenuhi rutinitas konstitusi organisasi.Momentum Muswil PUI Jabar saat ini sangatlah strategis untuk membawa perubahan yang lebih baik.

Beban persoalan PUI yang paling banyak adalah di Jabar karena basis terbesarnya. PUI tidak bisa menutup mata terhadap persoalan yang dihadapi. Mulai dari pemahaman jati diri PUI, komitmen SDM, pengokohan struktur, pendidikan, kejelasan aset-aset wakaf PUI, dll. PUI Jabar paling tidak pada kurun waktu 20 tahun terakhir belum terlihat perubahan yang mendasar dan signifikan pada setiap persoalan PUI.

Periode H. Djadja Djahari (2003-2007 dan 2007-2011) kegairahannya mulai terlihat. Tapi belum menyeluruh pada setiap pengurusnya. Prestasi di akhir periodenya, PUI telah memiliki sekretariat. Tetapi masih cukup banyak agenda PUI Jabar yang belum menyentuh pada persoalan inti PUI. Menghadapi kompleksnya persoalan PUI, tidak cukup mengandalkan kekuatan personal saja, tapi harus ada kekuatan kerja kolektif (amal jama’i) dalam menyelesaikannya.

PUI Jabar ke Depan

Pasca reformasi, seharusnya menjadi peluang kegairahan PUI dalam pendidikan dan dakwahnya. Pengembangan dan pengokohan struktur PUI di tingkat Pengurus Cabang hingga Pengurus Wilayah Jabar, sudah harus memiliki agenda yang serius. Tanpa soliditas dan kekohan struktural akan sulit melakukan perubahan mendasar di PUI bahkan suatu hal utopis.

Tanpa menyampingkan konsentrasi pada wilayah internal, respon eksternal juga layak menjadi agenda mendesak. Di tingkat eksternal, PUI Jabar juga diharapkan bisa menyahuti perkembangan otonomi daerah yang tengah berlangsung. Sebagai salah satu komponen masyarakat, PUI diharapkan dapat terlibat bersama berbagai kelompok masyarakat lainnya dalam mengawal otonomi daerah.

Respon eksternal juga selayaknya dapat ditunjukkan dengan penyikapan berbagai fenomena aktual yang berkembang dan mencuat di wilayah Jabar, sepeti masih maraknya penyakit masyarakat (pekat) antara lain judi togel, narkoba, minuman keras, dan sebagainya.

Kenapa respon eksternal ini perlu mendapat perhatian? Di sinilah nilai dakwah yang diemban PUI dapat diejawantahkan sebagai implementasi amar ma’ruf nahyi munkar yang teragendakan dalam Ishlahust Tsamaniyyah PUI.

Kemampuan merespon problematika eksternal sangat tergantung dari kapasitas energi dan sumber daya internal yang dimiliki. Kesadaran kolektif (amal jama’i) warga PUI menjadi kata kunci untuk mengembalikan kebangkitan PUI.

Pengembangan PUI secara nasional di antaranya juga sangat tergantung dari kokohnya soliditas SDM dan struktur PUI Jabar dan DKI Jakarta. Karena pengembangan wilayah dan daerah sangat tergantung kuantitas dan kualitas SDM yang dimiliki PUI. SDM PUI sejauh ini terkonsentrasi di Jabar. Antara PP, PW, PD seringkali tumpang tindih dalam pembagian tugasnya.

Sudah seharusnya pada tingkat PP, PUI mulai eksis dalam menjawab isu-isu nasional dan pengembangan wilayah. Begitu juga seterusnya pada struktur di bawahnya. PW PUI Jabar harus mulai fokus pada persoalan internal PUI. Sepertinya pada setiap Musywil merasa cukup puas sebatas mendiskusikan agenda, tetapi belum mencapai pada aksi pemecahan masalah.

Secara personal, popularitas dan kemanfaatannya tokoh dan kader PUI, kiprahnya di luar PUI cukup eksis. Seharusnya eksistensi tersebut bisa teroptimalkan di PUI.

Bukan PUI yang ditinggalkan atau pribadinya yang ditonjolkan, tetapi kemanfaatan dan keberadannya harus disinergikan secara optimal. Tentunya, potensi itu semua, perlu kemauan yang kuat untuk membagi waktu dalam merealisasikannya.

Dr. Adian Husaini dalam artikelnya memberi masukan pada Musyawarah Besar 2004 Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (DDII). ”DDII ke depan tidak bisa berpikir dan bekerja ’biasa-biasa’ saja, apalagi di bawah standar. Mereka harus berpikir ’luar biasa’, maka bukan tidak mungkin 15 tahun lagi, generasi baru muslim akan melihat sebuah ’museum dakwah’ bernama DDII”, menurut Husaini. Masukan ini terasa penting mengingat DDII pasca kepemimpinan M. Natsir dan Anwar Harjono mulai mengalami degradasi secara gradual.

Peringatan tersebut tepat dijadikan cambuk dan renungan untuk PUI. Problem DDII sebetulnya tidak jauh berbeda dengan PUI, bahkan PUI jauh lebih kompleks. Mulai aspek kaderisasi, SDM, pendidikan, kejelasan asset wakaf PUI, dll. Semangat yang kuat untuk perubahan harus menjadi agenda bersama, tanpa ini PUI akan sulit untuk bangkit kembali atau hanya sekadar warisan sejarah.

Sebuah organisasi menjadi sangat penting menjadikan wacana perubahan sebagai semangat gerakannya. Wacana perubahan ini tengah melanda berbagai institusi di dunia, seperti perusahaan (corporate), pemerintah (government). Semangat yang sama seharusnya dapat diadopsi oleh ormas-ormas yang ada. Dengan kata lain, menciptakan kultur organisasi pembelajar akan terasa penting menghadapi berbagai tantangan globalisasi.

Memasuki era digital akan menjadikan kita berkembang pesat atau mundur ditinggalkan sekadar menjadi fosil sejarah. Tokoh-tokoh PUI khususnya pada tingkat daerah sudah cukup banyak yang telah memenuhi panggilan Allah. PUI di tingkat daerah sudah harus secepatnya mulai menyiapkan dan menyegarkan estafet kepengurusan.

Sebuah organisasi dapat dikatakan sehat jika dia dapat melakukan metabolisme (pergantian) kepemimpinan secara sehat dan teratur.

PUI perlu mengaktualisasikan jati dirinya. Konsep jati diri PUI harus mampu mengantisipasi dan menangkap peluang perubahan zaman. Konsekuensi perubahan seringkali disalahpahami, bahkan mendapat tantangan.

Sebagaimana negeri ini, ketika reformasi bergulir dan perubahan itu menjadi agenda bersama, status quo mengalami kepanikan untuk menerima perubahan itu. Insya Allah PUI sebagai organisasi gerakan dakwah, selalu meyakini bahwa dinamika perubahan di PUI harus selalu hidup.

Perubahan untuk melakukan inovasi-inovasi baru. Kerja-kerja organisasi dakwah modern, harus mampu meramu tantangan dan peluang menjadi energi kebangkitan PUI. Musywil PUI Jabar kali ini tentu berbeda dengan Musywil sebelumnya. Warga PUI Jabar telah lama menanti akan dibawa ke mana perubahan PUI.

Negeri ini telah melakukan reformasi yang sangat mendasar dari mulai sistem undang-undang, politik, sosial, ekonomi, dll. PUI akan bersama-sama mengikuti arah perubahan ini atau ditingggalkan oleh perubahan? Semoga tidak. (pppui.blogspot.com).*

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita PUI

Ketua Satgas Covid-19 PUI Jabar Bagikan Langsung Sembako untuk Terdampak Covid-19

Published

on

Serah terima Sembako kepada warga masyarakat


Ketua Satuan Tugas Covid-19 Persatuan Ummat Islam (PUI) Jawa Barat, Cecep Syarif A di dampingi oleh Sekretaris Umum DPW Wanita PUI Jawa Barat, Hj. Lela Nurlaela, membagikan secara langsung sembako untuk masyarakat terdampak Covid-19 di Kel. Cipadung Kota Bandung, Selasa (14/4).
“Ini adalah salah satu titik yang kami sambangi secara langsung. Insha allah beberpa titik di Jawa Barat akan kita datangi. Walaupun baru sedikit tiap titiknya, mudah0-mudahan ini bisa menjadi pemacu kita untuk terus berjuang dan menebarkan kebaikan” kata  Cecep Syarif kepada Humas Media jabar.org di sela-sela pembagian Sembako dan Masker.
Sembako ini merupakan hasil kerjasama PUI dengan Kementerian Sosial Republik Indonesia. Ada ribuan sembako yang dibagikan kepada masyarakat dengan kategori Lansia, Masyarakat Miskin, Penyandang Disabilitas, Anak Yatim dan Dhuafa. 
Tidak hanya sembako, paket yang dibagikan juga ada perlengkapan sekolah untuk anak-anak dan juga baju dewasa serta masker dari beberapa Donatur.
“Terima Kasih kepada para donatur yang tidak bisa di sebutkan namanya satu persatu, mudah-mudah ini menjadi bekal kita di akhirat dan semoga allah membalas semua kebaikan kita semua.” pungkasnya.
Continue Reading

Berita PUI

SATGAS Covid-19 PUI Jabar serahkan Sembako untuk Masyarakat Terdampak Covid-19

Published

on


Ketua Umum Dewan Pengurus Wilayah Persatuan Ummat Islam, Engkos Kosasih, didampingi Ketua Satgas Covid-19 Persatuan Ummat Islam (PUI) Jawa Barat, Cecep Syarif Arifin memberikan sembako secara simbolis untuk masyarakat terdampak Covid-19 di Kediaman Ketua Majelis Syura PUI di Kab. Bandung, Senin (13/4).
Sembako ini merupakan kerjasama antara Persatuan Ummat Islam (PUI) dengan Kementerian Sosial Republik Indonesia memberikan donasi kepada masyarakat tidak mampu, khususnya masyarakat yang terkena dampak wabah Covid-19. 
“Tentu tidak mencukupi, Paling tidak PUI bersama komponen bangsa lainnya ikut serta meringankan dampak dari Covid-19 yang melanda kita semuanya, khususnya bagi masyarakat  Lansia, Masyarakat Miskin, Penyandang Disabilitas, Anak Yatim dan Dhuafa.” kata Ketua Majelis Syura PUI, Ahmad Heryawan kepada Humas Media puijabar.org.
Tidak hanya sembako bagi masyarakat miskin, paket yang dibagikan juga ada perlengkapan sekolah untuk anak-anak yatim dan bantuan alat bantu disabilitas. (Zoom)

Continue Reading

Berita PD

PUI Majalengka Gelar MUSDA XIV

Published

on

Foto bersama setelah acara Pembukaan Musda XIV PUI Kab. Majalengka
Pengurus Daerah Persatuan Ummat Islam (PUI) Kab. Majalengka melaksanakan Musyawarah Daerah (MUSDA) XIV PUI Kab. Majalengka yang dilangsungkan di Aula Hayati STAI PUI Majalengka, Kamis (4/7/2019). Musda dihadiri oleh Gubernur Jawa Barat Dr. KH. Ahmad Heryawan, L.c., M.Si  periode 2008 – 2018 yang juga merupakan Ketua Majelis Syuro PUI, dan Bupati Majalengka Dr. H. Karna Sobahi, M.Pd  periode 2019 – 2024 yang juga merupakan Ketua DPD PUI Kab. Majalengka selama 2 periode.
Dalam sambutannya, Ketua Majelis Syuro PUI Ahamd Heryawan mengatakan:
  1. Gemerlap orang lain mengalahkan gemerlapnya peradaban duniawi kita, akan tetapi kita tetap unggul dalam kegemerlapan ruhiyyah yaitu ridla Ilahi.
  2. Musda harus melanjutkan estapeta perjuangan para pendiri PUI.
  3. DPD PUI Kab. Majalengka memiliki status khusus karena tempat lahirnya Majlisul Ilmi tahun 1911, ini karena dasar organisasi yang jelas yaitu meninggikan kalimah Allah.
  4. Musda adalah tonggak sejarah membangun masa depan, tidak ada masa depan gemilang tanpa masa depan yang dicita-citakan. 
  5. Allah menjamin Islam tidak akan sirna. PUI bergerak di jalan Islam. berarti PUI akan lestari keberadaannya.

Bupati Majalengka Dr.  H. Karna Sobahi, M.Pd pada sambutannya mengatakan, Musda adalah ajang Silaturahim, evaluasi dan menyusun program lima tahun kedepan. “Susunlah program dengan cermat, identifikasi dan analisa selama program berjalan dan silahkan dengan program seperti itu Nahkodanya siapa, silahkan ploorkan,” tegas mantan Ketua PUI Majalengka itu. (tintahijau.com)
Pengukuhan Sebagai Ketua Terpilih
Dalam Musda tersebut, H. Asep Zaki terpilih menjadi Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Ummat Islam (PUI) Kabupaten Majalengka menggantikan H. Karna Sobahi. H. Omo Karsono Okar sebagai Ketua Dewan Syariah Daerah PUI Majalengka dan H. Karna Sobahi selaku Ketua Dewan Pertimbangan Daerah PUI Majalengka periode 2019-2023. 
Setelah Proses pemilihan berakhir, kemudian dilanjutkan  Prosesi pengukuhan ketua terpilih oleh ketua DPW PUI Jawa Barat, DR. KH. Engkos Kosasih, L.c., M.Ag. Walaupun dalam keadaan mati listrik, akan tetapi proses pengukuhan berjalan lancar dan khidmat. (Zoom)
Continue Reading

@ Copyright - Infokom DPW PUI Jabar