Connect with us

heryawan

Tingkatkan Peran Sosial Ekonomi

Published

on

Oleh H. Ahmad Heryawan

PERSATUAN Ummat Islam (PUI) harus terus memiliki peran nyata di dalam masyarakat.  Kita perlu meningkatkan peran sosial dan ekonomi PUI. Sudah saatnya, PUI dikenal di masyarakat melalui gerakan sosial dan ekonominya. Saat ini lembaga pengelola zakat lebih bernilai di mata masyarakat dibandingkan ormas karena lembaga zakat lebih nyata perannya dalam membantu masyarakat.

Namun, tidak hanya gerakan sosial dan ekonomi yang ingin ditingkatkan PUI, tapi sektor pendidikan yang selama ini digarap PUI juga harus terus dijalankan. PUI memang selama ini fokus di bidang pendidikan. Namun, saat itu PUI melebarkan peran yang dimainkannya, yaitu dalam bidang sosial dan ekonomi.

Alasan utama mengapa PUI mesti menguatkan perannya di bidang sosial adalah banyaknya peran sosial yang saat ini diabaikan ormas Islam. Kita optimistis, bila ormas Islam mengambil peran itu, akan lebih bisa diterima masyarakat. Dengan demikian, ormas Islam kembali menjadi gerbong kekuatan masyarakat.

Kiprah ekonomi PUI di dalam masyarakat juga merupakan hal yang penting sebab akan ada cerita yang berbeda jika persoalan ekonomi bangsa bisa dituntaskan melalui campur tangan ormas Islam yang membawa misi dakwah.

Tentu jika ormas Islam ikut serta dalam menyelesaikan masalah ekonomi di dalam masyarakat, bangsa ini akan lebih sejahtera dan berkeadilan. ‘Warga PUI diharapkan mampu menyatukan pandangan dalam mengoptimalkan peran di dalam masyarakat.

Telah lama PUI memainkan perannya dalam bidang pendidikan dan dakwah. Ini terbukti dengan ribuan lembaga pendidikan yang dimiliki PUI dari tingkat raudlatul athfal, madrasah ibtidaiyah, madrasah tsanawiyah, madrasah aliyah, hingga perguruan tinggi.

Dengan kenyataan demikian, PUI telah memiliki modal besar sejak ormas ini lahir di Bogor pada 5 April 1952. Kini PUI juga telah menyebar ke sejumlah wilayah. PUI ada di DKI Jakarta, Jabar, Jateng, Jatim, dan Yogyakarta. Selain itu, PUI juga memiliki kepengurusan di luar Jawa, yaitu di Lampung, Sumatra Selatan, Sumatra Utara, Aceh, Riau, Bengkulu, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Selatan.

Di sisi lain, telah terjadi regenerasi di dalam tubuh PUI. Dalam kepengurusannya yang akan berakhir pada Desember 2009 ini, sejumlah perbaikan dan regenerasi telah kita upayakan. Kita berharap, ke depan PUI akan lebih baik. Pada akhir tahun ini juga kita menyelenggarakan Muktamar untuk membentuk kepengurusan baru periode 2009-2014.

Menyongsong usia satu abad pada 2011, PUI menghadapi tantangan kaderisasi dan peningkatan jaringan. Selain itu, kita juga dituntut memperkuat peran sosial berupa pendampingan dan pemberdayaan masyarakat.

PUI ke depan harus berperan sesuai dengan pemahaman keislaman yang benar, yakni dengan memberikan kedamaian dan memberdayakan masyarakat. Persoalan masyarakat masa kini menjadi tantangan bagi seluruh kader PUI. Masalah kemiskinan harus dijawab dengan peningkatan kesejahteraan. Kebodohan harus diperangi melalui pendidikan.

Untuk menciptakan gerakan PUI yang tidak sekadar menjalankan rutinitas program, kita membutuhkan kaderisasi kepengurusan, baik di tingkat pusat, wilayah maupun daerah agar dapat memberikan gerakan yang nyata untuk kepentingan rakyat Indonesia, khususnya umat muslim Indonesia.*

Continue Reading
1 Comment

1 Comment

  1. heri andrian amarullah

    04/05/2016 at 11:49

    benar, apa yang disampaikan oleh bpk. gubernur jawa barat hari ini, bahwa kader harus membenahi diri menjadi sebuah karakter manusia yang berjiwa sosial kemasyarakatan agar menjadi manusia yang banyak beramal soleh kelak, amin.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

heryawan

SDM yang Baik Melahirkan Struktur Organisasi yang Hidup

Published

on

Ahmad-HeryawanOleh H. Ahmad Heriyawan, Lc.

Ormas Islam, termasuk PUI, mempunyai kedudukan sebagai wadah bagi masyarakat, untuk mengekpresikan kepeduliannya terhadap pengembangan da’wah, pengembagan diri, juga pengembangan perekonomian, pertanian, sosial dan lain-lainnya.

Selain tempat untuk mengekpresikan diri masyarakat juga sebagai wadah untuk melaksanakan pembinaan bagi masyarakat. Pembinaan tersebut sangat luas dari mulai pembinaan keagamaan dalam arti menjaga akidah umat ini, jangan sampai terkontaminasi dengan hal-hal yang membuat rusaknya akidah, tarbiyah, meluruskan pada masyarakat melaksanakan ibadah kepada Allóh SWT, sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan Sunnah Rosulullóh SAW. “Shollú kamá roaitumúní ushollí”(sholatlah kalian sebagaimana aku melaksanakan sholat) atau “Khudzú anní manásikakum”.

Ormas mempunyai peran yang sangat besar untuk memberikan bimbingan kepada masyarakat dalam hal akidah, ibadah, dan akhlak. Ormas juga menjadi sebuah lembaga pemberdayaan bagi masyarakat. Jadi, masyarakat, secara ekonomi maupun sosial dan pendidikan juga diberdayakan oleh ormas, dan dampak baiknya berupa infak, sedekah, itu dikelola oleh ormas itu sendiri.

Dalam waktu yang sama Ormas juga menjalankan beberapa fungsi kenegaraan, seperti pendidikan. Pendidikan itu merupakan tugas Negara. Rupanya dalam sejarah Indonesia, ormas rupanya telah berfungsi terlebih dahulu dari pada Negara. Jadi, sebelum ada Negara Republik Indonesia ini, ormas sudah ada yang mempunyai pesantren, sekolah dan tempat pendidikan lainnya, dan ketika Negara Republik Indonesia merdeka fungsi ormas ini dikelola oleh Negara. Tetapi sampai hari ini ormas tetap menjalankan fungsi itu, sehingga tidak sedikit ormas  yang mempunyai TK, SD,SMP,SMA bahkan perguruan tinggi. Padahal pendidkan itu khususnya di Jawa Barat merupakan tugas pemerintah.

PUI merupakan ormas yang ikut melakukan memberdayakan, pembinaan pada masyarakat  sama seperti ormas-ormas yang lainnya. Tetapi PUI di Jawa Barat itu mempunyai peran lebih, sebab “leubeutna” PUI itu banyaknya di Jawa Barat.

Dalam konteks sejarah PUI, Jawa Barat itu harus dijadikan centre, pusat organisasi PUI. Sebab lahir di Jawa Barat, Besar di Jawa Barat , kemudian ramai di Jawa Barat, banyak peran juga di Jawa Barat. Oleh karenanya, PUI harus menjadi ormas yang paling depan dalam memberdayakan dan membina masyarakat di Jawa Barat ini dibanding dengan ormas-ormas yang lainnya, dengan pembinaan yang lebih baik.

Semakin banyak cabang-cabang PUI di Jawa Barat ini juga akan semakin banyak perannya di Jawa Barat akan semakin baik. Sebab begini, akan sangat ideal kalau masyarakat itu masuk ke berbagai ormas yang ada, sebab pembinaannya akan lebih baik, dibandingkan dengan masyarakat yang tidak berormas, kalau di dalam ormas jelas pembinaan keagamaannya akan terarah, terbina.

Strateginya, mungkin perlu ada evaluasi terhadap jumlah masyarakat yang ikut serta menjadi anggota dan aktif di ormas-ormas yang ada. Itu perlu ada evaluasi, jangan-jangan prosentasinya rendah, kalau rendah tentu ormas sebagai wadah pembinaan umat harus ditaati oleh segenap masyarakat. Katakanlah kalau masyarakat itu 90 % ada di ormas-ormas, maka pembinaannya akan lebih terjaga.

TANTANGAN yang dihadapi PUI dan ormas Islam pada umumnya adalah kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Jadi, yang paling utama harus dibenahi adalah SDM, sebab untuk memperbesar ormas, memperbesar cabang, ataupun memperbanyak kegiatan, memperbanyak sekolah, memperbanyak pesantrean itu diperlukan SDM.

Bila SDM sudah besar, maka secara otomatis sayap ormas juga akan semakin banyak dan struktur organisasi juga akan semakin hidup. Sayap-sayap kegiatannya akan semakin banyak dan bergerak dimana-mana karena kegiatannya banyak. Dan bagi ormas untuk membangun itu dan ini juga akan semakin mudah. Jadi memperbesarkan SDM, itu sama dengan memperbesarkan ormas itu sendiri.

Untuk itulah diperlukan kaderisasi. Makin banyak kaderisasi itu akan semakin banyak kader-kader baru. Dengan banyaknya kader-kader baru, maka akan semakin banyak pula hal-hal yang bisa kita lakukan secara bersama-sama, semakin banyak program-program yang bisa dilaksanakan maka akan semakin banyak pula manfaat yang dirasakan oleh masyarakat. Semakin banyak manfaat yang dirasakan masyarakat, maka masyarakat juga pasti akan bergabung dengan ormas itu sendiri untuk bersama-sama menggarap masyarakat yang lainnya terus secara maksimal.

Ada anggapan militansi jama’ah PUI itu nampak kurang muncul. Saya kiratidak begitu. Militansi di mana-mana hampir sama. Hanya saja, militansi itu perlu dibangun secara terus-menerus. Salah satu caranya adalah dengan kaderisasi secara secara kontinyu dan memberikan tantangan secara terus menerus pula. Sebab kalau tidak ada tantangan, maka tidak ada kesibukan.

Orang yang berhasil itu adalah orang yang tertantang dan sibuk. Orang yang banyak waktu dan tidak punya kegiatan itu bukan orang yang berhasil. Lihat orang-orang yang berhasil itu adalah orang –orang yang banyak menghadapi tantangan dan terus sibuk dengan berbagai kegiatan. (Alma’/Majalah Intisabi PUI Jabar) .*

Continue Reading

Hanura

Pilgub Jabar 2013: Ahmad Heryawan Diusung PKS-Hanura

Published

on

HeryawanDewan Pimpinan Wilayah PKS dan DPD Partai Hanura Jawa Barat sepakat mengusung Ahmad Heryawan sebagai calon gubernur pada Pilkada 2013. “Dengan Hanura sudah ada kesepahaman untuk mengusung calon bersama-sama, yakni Pak Ahmad Heryawan sebagai cagub di Pilkada Jabar nanti,” kata Ketua DPW PKS Jabar Tate Qomarudin, Sabtu (19/5).

Ditemui di sela-sela syukuran Milad ke-XIV PKS di Gedung Sasana Budaya Ganesa, Kota Bandung, Tate menuturkan, koalisi dengan Hanura dilakukan guna melengkapi keterwakilan jumlah kursi PKS di legislatif jika ingin mengusung calon pada Pilkada Jabar. “Jadi kesepakatan dengan Hanura ini juga untuk melengkapi kursi PKS di legislatif untuk Pilgub Jabar.”

Menurut dia, pada prinsipnya PKS Jabar yang memiliki 13 kursi di legislatif ingin membangun koalisi yang besar dan solid untuk Pilkada Jabar nanti. “Prinsipnya kami ingin memperbesar koalisi dengan semuanya, baik itu dengan PDIP, Partai Demokrat atau tokoh lainnya. Dan sampai sekarang kami sudah melakukan konsolidasi tersebut,” ujar dia.

Lebih jauh ia mengatakan sampai saat ini hanya PKS yang sudah menentukan calon gubernur definitif untuk berlaga di Pilkada Jabar 2013. “Setahu kami, baru PKS saja yang sudah menetapkan calon gubernur definitif untuk Pilkada Jabar,” katanya. (ANTARA/L6).*

Continue Reading

ahmad heryawan

Ahmad Heryawan: Tokoh Perubahan Republika 2011

Published

on

Heryawan Tokoh PerubahanGubernur Jawa Barat yang juga Ketua Dewan Syuro PUI Pusat, H. Ahmad Heryawan, Lc. terpilih sebagai Tokoh Perubahan Republika 2011.

Penganugerahan dilakukan, Selasa malam (17/4/2012), di Jakarta, dirangkaikan dengan peringatan hari ulang tahun ke-19 Harian Umum Republika.

Heryawan mendapat penghargaan sebagai tokoh perubahan Republika 2011 bersama empat tokoh lainnya, yaitu Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa, Pemimpin Pondok Modern Gontor KH Abdullah Syukri Zarkasyi, Wali Kota Sawahlonto Amran Nur, dan pengusaha Heppy Trenggono. Acara itu dihadiri sejumlah tokoh nasional dan kalangan pengusaha. (REPUBLIKA.CO.ID).*

Daftar Tokoh Perubahan Republika 2011
1. Menteri Koordinator Perekonomian, Hatta Rajasa.
2. Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan.
3. Pengusaha muda, Heppy Trenggono.
4. Wali Kota Sawahlunto, Amran Nur.
5. Pimpinan Ponpes Gontor, KH. Abdullah Syukri Zarkasyi.

Continue Reading

@ Copyright - Infokom DPW PUI Jabar