Connect with us

Opini

Menyambut Bulan Ramadhan

Published

on

Oleh Hj. Munipah Sudjai, M.Pd
(Ketua Dewan Pertimbangan PW. Wanita PUI Jabar)

TIDAK lama lagi kita akan kedatangan  tamu yang mulia lagi terhormat, bulan Ramadhan (Prediksi,1 Ramadhan jatuh tanggal 20 Juli 2012) yang senantiasa dirindukan kedatangannya dan disayangkan kepergiannya.

Bulan yang datang dengan berjuta berkah dan magfirah yang akan membersihkan noda-noda dalam jiwa sang pendosa. Ramadhan adalah kekasih hati, ia bagaikan darah segar yang membangkitkan kembali semangat yang mulai mengendor,ia ibarat oase di tengah padang sahara pelepas dahaga bagi sang pengembara di bawah teriknya sang mentari. Hanya orang fasik dan zhalim yang mengabaikan kehadiran bulan Ramadhan,bahkan mereka mencela,membenci, dan menganggapnya sebagai penjara jiwa yang mengekang hawa nafsu yang senantiasa diperturutkannya.

Namun demikian kita tetap bersyukur, masih banyak kaum muslimin yang melaksanakan puasa, meski harus kita akui dengan jujur bahwa masih banyak pula diantara mereka yang menyambut dan mengisi hari-harinya di bulan Ramadhan dengan penyimpangan-penyimpangan dari apa yang disyariatkan oleh Allah سبحانه وتعلى, diantaranya ada yang menyambutnya dengan pesta, pawai-pawai, bahkan di-antara mereka ada yang mempersiapkan acara begadang yang diisi dengan hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan menjurus kepada kemaksiatan. Sehingga benarlah apa yang disinyalir oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم dalam sabda beliau :
رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ  رواه أحمد و ابن ماجه

“Betapa banyak orang yang berpuasa bagian yang ia dapatkan (hanyalah) lapar dan dahaga” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
Oleh karena itu sebagai seorang muslim hendaklah mengetahui hal-hal yang perlu dilakukan di dalam menyambut bulan suci Ramadhan serta amalan-amalan yang disyariatkan oleh Allah  dan Rasul-Nya.

Bagaimana  Kita Menyambut Bulan Ramadhan 
1. Memperbanyak do’a kepada Allah
Adalah merupakan kebiasaan bagi para generasi yang shalih pendahulu kita dengan memperbanyak do’a sebelum masuknya bulan Ramad-han, sehingga diriwayatkan diantara me-reka ada yang memohon kepada Allah  agar dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan sejak 6 bulan sebelumnya. Mereka juga memohon kepada Allah  agar diberikan kekuatan dan pertolongan di dalam melaksanakan ibadah-ibadah di dalamnya seperti puasa, qiyamul lail, sedekah dan sebagainya.

2. Bersuci dan membersihkan diri
Yaitu kebersihan yang bersifat maknawi seperti taubat nasuha dari segala dosa dan maksiat. Pantaskah kita me-nyambut tamu yang agung dan mulia dengan keadaan yang kotor?, Pantaskah kita menyambut bulan Ramadhan yang dicintai oleh Allah  dan Rasul-Nya dengan gelimangan dosa?, Bagaimana kita ber-puasa sedangkan shalat masih sering kita lalaikan ? yang mana meninggalkannya merupakan sebuah kekufuran. Bagaima-na kita menahan diri dari segala yang mubah (makan dan minum) kemudian berbuka dengan sesuatu yang haram ? yang merupakan hasil riba, suap dan harta haram lainnya. Bagaimana kita ber-harap puasa kita dapat diterima sedang-kan kita dalam keadaan seperti ini. Renungilah sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَ الْعَمَلَ بِهِ فَلَْيْسَ ِللهِ حَاجَةٌ فِيْ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ  رواه البخاري

“Barangsiapa yang tidak meninggal-kan perkataan dusta dan beramal dengannya maka tidak ada bagi Allah  kepentingan terhadap puasa (yang sekedar meninggalkan makan dan minum)” (HR. Bukhari)

Oleh karena itu sebelum pintu taubat tertutup, sebelum matahai terbit dari sebelah barat, sebelum nyawa sampai di tenggorokan maka bersegeralah bertau-bat dengan taubat yang sebenar-benarnya. Allah سبحانه وتعلى berfirman :

يَآيُهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا تُوْبُوْا إِلَى اللهِ تَوْبَةً نَصُوْحًا …

“Hai orang-orang yang beriman bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya…” (QS. At Tahrim:8)

3. Mempersiapkan jiwa
Yaitu dengan memperbanyak amal-amal shalih pada bulan Sya’ban karena pada bulan ini bulan diangkatnya amalan-amalan pada Allah. Sebagaimana hadits Usamah bin Zaid  yang diriwa-yatkan oleh Imam An Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah yang dihasankan oleh Syaikh Al Albani bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم berpuasa sepanjang bulan Sya’ban atau beliau memperbanyak puasa di dalamnya kecuali hanya beberapa hari saja beliau tidak melakukannya.

4. Bertafaqquh (mempelajari) hukum-hukum puasa dan mengenal petunjuk Nabi  صلى الله عليه وسلم
Sebelum memasuki puasa seperti mempelajari syarat-syarat diterimanya puasa, hal-hal yang mem-batalkannya, hukum berpuasa di hari syak (meragukan), perbuatan-perbuatan yang dibolehkan dan dilarang bagi yang berpuasa, adab-adab dan sunnah-sunnah berpuasa, hukum-hukum shalat tarawih, hukum-hukum yang berkaitan dengan orang yang memiliki udzur seperti me-ngadakan perjalanan, sakit, hukum-hukum yang berkaitan dengan zakat fitri dan lain-lain. Maka hendaknya kita ber-ilmu sebelum memahami dan mengamal-kannya. Sebagaimana firman Allah سبحانه وتعلى :
فَاعْلَمْ أَنــَّهُ  لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguh-nya tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mu’min, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan termpat tinggalmu” (QS. Muhammad :19)

Didalam ayat ini Allah سبحانه وتعلى mendahulukan perintah berilmu sebelum berkata dan berbuat.

5. Mengatur sebaik-baiknya program di bulan Ramadhan.
Bila seorang tamu yang agung datang berkunjung ke rumah kita kemudian kita menyambutnya dengan baik tentu kita akan mendapatkan pujian serta balasan dari tamu tersebut, begitu pula dengan bulan Ramadhan yang datang dengan membawa berbagai macam keutamaan. Jika kita menyambutnya dengan persia-pan serta program-program untuk tamu agung ini tentu kita akan mendapatkan keutamaan-keutamaan tersebut.

Maka dari itu hendaklah kita mengisi bulan suci ini dengan memperbanyak iba-dah shalat sunnat, membaca Al Qur’an, memperbanyak tasbih, tahmid, takbir dan istighfar dan lebih peduli kepada nasib orang fakir dan miskin, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung tali silaturrahmi, memuliakan tamu, men-jenguk orang sakit dan ibadah-ibadah lain yang semisal dengan itu guna meraih gelaran mulia dari Allah, yaitu “Taqwa” dimana ia merupakan simbol sejati bagi hamba-hamba Allah yang senantiasa mengikhlaskan hati dan memurnikan iman yang terpatri lewat amalan ibadah yang relevan dengan hukum syar’i.

Keutamaan Puasa Ramadhan
Berpuasa di bulan Ramadhan selain ia suatu kewajiban individu bagi yang memenuhi syarat, namun ia juga me-nyimpan banyak keutamaan di balik semua itu, diantaranya :

1.    Puasa adalah rahasia antara hamba dengan Tuhannya.
Dan Allah-lah yang akan memberikan balasannya. Dalam hadits qudsi Allah سبحانه وتعلى  berfirman :
نْ حَسَنَةٍ عَمِلَهَا ابْنُ آدَمَ إِلاَّ كُتِبَ لَهُ عَشْرُ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللهُ إِلاَّ الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
رواه النسائي
“Tidaklah seorang anak Adam melakukan suatu amalan kebaikan, kecuali akan dituliskan baginya sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat (pahala) kebaikan. Allah  سبحانه وتعلى berfirman : “Kecuali puasa maka sungguh puasa adalah untuk-Ku dan Aku yang me-nentukan ganjaran (pahala)nya” (HR. An Nasaa’i)

Imam An Nawawi berkata:
“Dikatakan (bahwasanya Allah sendiri yang akan memberikan pahala orang berpuasa) karena puasa adalah bentuk ibadah yang tersembunyi yang jauh dari perbuatan riya’, hal ini berbeda dengan ibadah shalat, hajji, berjihad, shadaqah dan amalan-amalan ibadah yang zhahir (tampak) lainnya” (Lihat Syarh Shahih Muslim 8:271)

2.    Bagi orang-orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kegembiraan.
Kegembiraan ketika ia berbuka dan kegembiraan ketika ia menemui Rabb-nya, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :
لِلصَّــائِمِ فَرْحَــتَانِ يَفْرَحُهُمَا إِذَا أَفْطَرَ فَرِحَ وَإِذَا لَقِيَ رَبـــَّــهُ
رواه البخاري و مسلم
“Bagi orang yang berpuasa dua kegembiraan, kegembiraan ketika ia berbuka serta kegembiraan ketika ia menemui Rabbnya” (HR. Bukhari dan Muslim)

3.    Pengampunan dosa
Seorang hamba yang berpuasa dan melakukan amal ibadah lainnya karena iman dan mengharap ridha Allah maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diam-puni oleh Allah  سبحانه وتعلى . Rasulullah صلى الله عليه وسلم  bersabda :
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابــًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
رواه البخاري و مسلم

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap ridha Allah, diampuni dosa-dosa nya yang telah lalu” (HR. Bukhari dan Muslim)

4.    Bau mulut orang  yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari pada aroma misk (minyak wangi).
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :
لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْــيَبُ عِنْدَ اللهِ تَعَالَى مِنْ رِيـْـحِ الْمِسْكِ
رواه البخاري و مسلم

“Dan bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari pada aroma misk (minyak wangi)” (HR. Bukhari dan Muslim)

5.    Terdapat waktu yang mustajab.
Bagi yang berpuasa ada waktu, yang mana apabila ia berdo’a pada waktu tersebut, maka do’a itu tidak tertolak, sebagaimana sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم :
إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ لَدَعْوَةً  مَا تُرَدُّ
رواه ابن ماجه

“Sesungguhnya orang-orang yang berpuasa pada saat berbuka mempunyai waktu dimana do’anya tidak tertolak” (HR. Ibnu Majah)
Ya Allah kami rindu dengan bulan Ramadhan, maka pertemukanlah kami dengannya dan berilah kami kekuatan untuk beribadah didalamnya sebagai-mana yang Engkau cintai dan ridhai. (Al Fikrah).*

Sumber : wahdah.or.id / www.belajarislam.com

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kajian

Qiyāmullail Menolak Adzab Mengundang Rahmat

Published

on

Oleh : Dr. Wido Supraha (Wakil Ketua DPP PUI)
Qiyāmullail menolak adzab, demikianlah pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah mimpi Abdullāh ibn ‘Umar r.a. ketika usia muda belia, yang pernah diceritakannya kepada Hafshah r.a., dan Hafshah r.a. menceritakannya kepada Nabi , tentang diperlihatkannya Neraka. Ketika itu, Nabi justru menjawab makna mimpi tersebut dengan memotivasi Ibn ‘Umar r.a. agar selalu qiyāmullail, berdiri di setiap malam sambil membaca Al-Qur’ān dan menikmati kandungannya, qiyām ma’a Al-Qur’ān.

Jika Nabi Muhammad diwajibkan untuk selalu qiyāmullail, sebagaimana Surat Al-Isrā’ [17] ayat 79, agar menempati Tempat Terpuji (al-Maqām al-Mahmūd), tempat beliaumemohonkan syafa’atnya bagi umatnya, maka siapapun yang mengikuti Nabi dalam qiyāmullail tentu akan mendapatkan pujian dari Allāh sebagaimana Surat As-Sajdah [32] ayat 16 dan Surat Adz-Dzāriyat [51] ayat 17, yaitu digelari dengan muhsinin sebagai ciri keimanan dan ketakwaan. 

Ilustrasi by Google

Nikmatilah qiyāmullail sebagaimana Nabi menikmatinya hingga bengkak kedua telapak kaki beliau . Begitu begitu menikmatinya, sehingga terkadang beliau membaca Surat Al-Baqarah, An-Nisā dan Āli ‘Imrān dengan tartil, penuh pemaknaan, di rakaat pertama qiyam-nya. Terkadang cara beliau menikmati qiyām-nya dengan mengulang-ulang satu ayat sepanjang malamnya, baik ketika berdiri, ruku’, sujud dan berdo’a, seperti ketika membaca Surat Al-Māidah [5] ayat 118.

Keshalihan individu didorong untuk melahirkan keshalihan sosial. Setiap manusia yang telah merasakan nikmatnya qiyāmullail secara individu didorong untuk membagi kenikmatan itu kepada orang-orang terdekatnya, dimulai dari keluarganya, seperti istri, anak bahkan menantu, sebagaimana perintah Allah dalam Surat Thaha [20] ayat 132. Suami yang selalu berusaha membangunkan istrinya, seperti dengan memercikkan air ke wajah istri tercintanya, sehingga mereka berdua dapat melakukan qiyāmullail berjama’ah akan mendapatkan tambahan gelar: adz-Dzākirīn wa adz-Dzākirāt. Begitu pun teladan Nabi yang membangunkan Ali r.a. dan Fathimah r.a. untuk mengerjakan qiyāmullail menegaskan mulianya saling tolong-menolong (ta’āwun) dalam kebaikan dan ketakwaan.

Meraih nikmatnya beribadah harus menjadi keinginan kuat hamba Allah yang pandai bersyukur. Membiasakan tidur di awal malam agar dapat bangun di ⅓ akhir malam untuk menikmati kandungan bacaan Al-Qur’an-nya sembari menguatkan hafalan (murāja’ah) adalah kebiasaan orang-orang shalih. Kenikmatan yang dampaknya tidak saja melahirkan kesehatan jiwa namun juga kesegaran jasad di sepanjang hari itu.

Mengejar kualitas qiyāmullail adalah lebih utama daripada sekedar kuantitas jumlah raka’at. Jika mengantuk maka boleh ditidurkan kembali sekedar untuk menghilangkan rasa kantuk dan agar proses tadabbur Al-Qur’ān tetap dapat berjalan baik. Setiap manusia tentu memiliki kebiasaan qiyāmullail yang tidak sama dalam hal kuantitas dan kualitas, namun tetaplah bertahan dalam menjaga kebaikan yang telah dimulai seperti merutinkan qiyāmullail ini, karena meninggalkan kebiasaan baik adalah sebuah kehinaan. 

Seorang laki-laki yang berat menegakkan qiyāmullail tanpa adanya udzur adalah karena disebabkan kedua telinganya yang dikencingi syaithan paska melilitkan 3 (tiga) ikatan pada diri manusia. Ketiga ikatan ini hanya bisa dilepas dengan berusaha bangun di waktu malam sembari mengingat Allāh , berwudhu dan kemudian qiyāmullail. Tegakkanlah qiyāmullail meskipun hanya witir sebelum tidur. Tegakkanlah qiyāmullail meskipun hanya sempat shalat witir satu rakaat menjelang masuk waktu Subuh.

Tidak saja menolak adzab Allāh, kebiasaan manusia membagi salam dan makanan di siang hari, dilanjutkan qiyāmullail di waktu manusia sedang tidur, akan mengundang rahmat-Nya dan memasukkan pengamalnya ke Jannah dengan penuh kedamaian. Oleh karenanya, qiyāmullail adalah shalat yang afdhal setelah shalat wajib (fardhu), sementara qiyāmullail yang afdhal adalah yang paling lama berdirinya.

Kebiasaan qiyāmullail akan melahirkan pola tidur Muslim dalam 3 (tiga) waktu yakni tidur di awal malam, dilanjutkan paska qiyāmullail sambil menanti Subuh (jika dibutuhkan), serta tidur menjelang Zhuhr yang disebut qailulah (jika mudah dikerjakan), sebagaimana surat An-Nūr [24] ayat 58. Kehidupan harian seorang Muslim fāqih dengan demikian sejatinya telah dimulai sekitar kurang dari pukul 2 (dua) dinihari, karena ⅓ (sepertiga) akhir malam dimulai di waktu ini. Di waktu inilah ia mulai mencari waktu yang paling mustajab sambil berdiri dan ia pun menyempurnakannya dengan banyak memohon ampun (istighfār) di waktu sahur.

Sekali lagi, menikmati qiyāmullail harus menjadi target utama. Agar tidak cepat lelah, hendaknya memulai malam dengan 2 (dua) raka’at yang ringan. Begitu utama keutamaan qiyāmullail sehingga ketika karena sesuatu hal seseorang tidak dapat meninggalkannya dibolehkan menggantinya dengan 12 (dua belas) rakaat di di siang hari. Begitu utama bacaan Al-Qur’an di kala qiyāmullail, sehingga tatkala suatu malam ia tertidur sehingga tidak dapat membaca bagian (hizb) yang direncanakannya, maka dapat diganti dengan membacanya di antara waktu Subuh dan Zhuhr, insyā Allāh akan mendapatkan pahala yang sama. Wallāhu a’lam. (Zoom)
Continue Reading

Berita UPZ

Sedekah Subuh, Sedekah Harian Anda dan Keluarga

Published

on

Nah, di antara sekian banyak waktu dalam sehari, subuh merupakan saat yang paling utama untuk bersedekah. Sedekah subuh, begitu orang-orang biasa menyebutnya. Keutamaan sedekah pada waktu subuh tertuang dalam hadis yang artinya:
“Tidak ada satu subuh pun yang dialami hamba-hamba Allah kecuali turun kepada mereka dua malaikat. Salah satu di antara keduanya berdoa, ‘Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak’, sedangkan yang satunya lagi berdoa ‘Ya Allah, berilah kerusakan bagi orang yang menahan hartanya.” – HR. Bukhari & Muslim
1. Didoakan Malaikat
Dari hadis di atas diketahui bahwa siapa pun yang melaksanakan sedekah subuh, maka baginya kemudahan rezeki. Sebaliknya, malaikat mendoakan kebinasaan dan kebangkrutan pada siapa saja yang tidak mau berinfak dan menyumbangkan sebagian hartanya.
2. Dilipat Gandakan Hartanya
Berbagi tidak akan membuat kamu miskin. Begitu juga jika kamu rutin melakukan sedekah subuh. Membiasakan diri bersedekah justru akan mendatangkan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka, dengan jumlah yang berlipat banyaknya. Seperti firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah: 261 yang artinya,
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah maha luas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui.” 
3. Menghapus Dosa
Sedekah adalah amalan tambahan yang dapat menghapus dosa. Kalau kamu ingin diampuni dari segala dosa dan kesalahan, banyak-banyaklah bersedekah, terutama saat subuh. “Sedekah dapat menghapus dosa sebagimana air memadamkan api.” (H.R. Tirmidzi)
4. Menolak Bala dan Su’ul Khotimah
Tak ada seorang pun yang ingin mati dalam keadaan su’ul khotimah. Pun semua orang pasti mendambakan hidup yang penuh ketenangan, kebahagiaan, dan kenyamanan. Namun, musibah dan hal buruk lain bisa datang kapan saja.
Dengan melakukan sedekah subuh rutin, kamu akan terhindar dari segala macam kemalangan dan akhir yang buruk (su’ul khotimah). Kematian mendadak juga bisa dicegah dengan bersedekah secara rutin. Nabi bersabda, “Obatilah orang-orang yang sakit dari kalian dengan sedekah. Sesungguhnya sedekah itu dapat meredam murka Allah, dan menolak kematian yang buruk.” (HR. Tirmidzi)
Ini Keutamaan Mengamalkan Sedekah Subuh secara Rutin
“Kamu sekali-kali tidak akan sampai mencapai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menginfakkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa yang kamu infakkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” Ali Imran: 93
Mengapa Harus Perbanyak Sedekah Subuh?
Sedekah subuh memiliki keutamaan dibandingkan sedekah pada waktu lainnya. Saat sebagian orang masih terlelap, kamu sudah sibuk meraih ridha Allah SWT dengan bersedekah. Tak selalu berupa uang, sedekah subuh juga bisa dilakukan dengan berzikir, membagi makanan, mengajar ngaji, atau melakukan kebajikan lain yang bersifat sosial. Sedekah subuh dimulai sejak azan subuh sampai terbit fajar. Lakukan sedikit demi sedikit sampai kamu bisa konsisten setiap hari.

Rekening Donasi:
Bank Syari’ah Mandiri
Nomor Rekening : 770 002 2247
an. UPZ PUI Jabar
Konfirmasi transfer via SMS/WA ke Nomor wa.me/6285651070313
an. Admin UPZ PUI Jawa Barat

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
#upz #upzpui #upzpuijabar #ramadhan #puasa #ramadan #lebaran #ramadhankareem #islam #muslim #dirumahaja #hijrah #indonesia #idulfitri #muslimah #covid #ramadhantiba #sunnah #like #hijab #corona #dakwah #puasaramadhan #bukapuasa #quran #raya #marhabanyaramadhan #umroh
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
sumber: kitabisa.com (Zoom)

Continue Reading

Kajian

Sambutlah Ramadhan Dengan Kegembiraan

Published

on

Ilustrasi by Google

Hari ini adalah hari yang paling dinanti oleh setiap muslim di seluruh dunia. Dimana datangnya bulan yang  penuh dengan keberkahan, penuh dengan ampunan, penuh dengan Keistimewaan. Alangkah bahagianya kita bisa dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan. Marhaban yaa Ramadhan, Marhaban Yaa Syahrul Syiyam, Marhaban Yaa Syahrul Maghfirah.

Allah berfirman dalam Quran Surat Al-Baqarah 2:183.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Terjemah : Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

Tafsir Kemenag
Para ulama banyak memberikan uraian tentang hikmah berpuasa, misalnya: untuk mempertinggi budi pekerti, menimbulkan kesadaran dan kasih sayang terhadap orang-orang miskin, orang-orang lemah yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, melatih jiwa dan jasmani, menambah kesehatan dan lain sebagainya. Uraian seperti di atas tentu ada benarnya, walaupun tidak mudah dirasakan oleh setiap orang. Karena, lapar, haus dan lain-lain akibat berpuasa tidak selalu mengingatkan kepada penderitaan orang lain, malah bisa mendorongnya untuk mencari dan mempersiapkan bermacam-macam makanan pada siang hari untuk melepaskan lapar dan dahaganya di kala berbuka pada malam harinya. Begitu juga tidak akan mudah dirasakan oleh setiap orang berpuasa, bahwa puasa itu membantu kesehatan, walaupun para dokter telah memberikan penjelasan secara ilmiah, bahwa berpuasa memang benar-benar dapat menyembuhkan sebagian penyakit, tetapi ada pula penyakit yang tidak membolehkan berpuasa.
Kalau diperhatikan perintah berpuasa bulan Ramadan ini, maka pada permulaan ayat 183 secara langsung Allah menunjukkan perintah wajib itu kepada orang yang beriman. Orang yang beriman akan patuh melaksanakan perintah berpuasa dengan sepenuh hati, karena ia merasa kebutuhan jasmaniah dan rohaniah adalah dua unsur yang pokok bagi kehidupan manusia yang harus dikembangkan dengan bermacam-macam latihan, agar dapat dimanfaatkan untuk ketenteraman hidup yang bahagia di dunia dan akhirat.
Pada ayat 183 ini Allah mewajibkan puasa kepada semua manusia yang beriman, sebagaimana diwajibkan kepada umat-umat sebelum mereka agar mereka menjadi orang yang bertakwa. Jadi, puasa sungguh penting bagi kehidupan orang yang beriman. Kalau kita selidiki macam-macam agama dan kepercayaan pada masa sekarang ini, dijumpai bahwa puasa salah satu ajaran yang umum untuk menahan hawa nafsu dan lain sebagainya. Perintah berpuasa diturunkan pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijri, ketika Nabi Muhammad saw mulai membangun pemerintahan yang berwibawa dan mengatur masyarakat baru, maka dapat dirasakan, bahwa puasa itu sangat penting artinya dalam membentuk manusia yang dapat menerima dan melaksanakan tugas-tugas besar dan suci. (quran.kemenag.go.id)


Marilah kita sambut Ramadhan dengan:

a.    Berpuasa dengan hati yang suka cita,
b.    Bersemangat dalam Menunaikan Ibadah Wajib
c.    Menghidupkan Setiap Waktu dengan Ibadah Sunnah
d.    Sering Berinteraksi dengan Alquran
e.    Menyantuni Dhuafa, Faqir dan Miskin

Allah SWT Berfirman dalam Surat Yunus 10: 58

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

Terjemah :
Katakanlah (Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”

Tafsir Kemenag
Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar mengatakan kepada umat-Nya bahwa rahmat Allah adalah karunia yang paling utama, melebihi keutamaan-keutamaan lain yang diberikan kepada mereka di dunia. Oleh sebab itu, Allah memerintahkan agar mereka bergembira dan bersyukur atas nikmat yang mereka terima, yang melebihi kenikmatan-kenikmatan yang lainnya.
Kegembiraan orang-orang mukmin karena berpegang teguh kepada Al-Qur’an digambarkan dalam ayat lain sebagai berikut: Allah berfirman: Dan pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman. (ar-Rum/30: 4) Dan firman-Nya: Dan orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka bergembira dengan apa (kitab) yang diturunkan kepadamu (Muhammad). (ar-Rad/13: 36) Dikatakan bahwa karunia Allah dan Rahmat-Nya lebih baik dari yang lain, yang dapat mereka capai, karena karunia Allah dan rahmat-Nya yang terpancar dari Al-Qur’an adalah kekal untuk mereka, sedangkan kenikmatan yang lain bersifat fana dan sementara, yang hanya dapat mereka rasakan selama mereka mengarungi kehidupan di dunia saja, apabila mereka kembali ke alam baka, kenikmatan yang dapat mereka kumpulkan di dunia itu tidak berguna lagi bagi mereka.(quran.kemenag.go.id)
Hadis Nabi:

أتاكم رمضان شهر مبارك. فرض الله عز وجل عليكم صيامه , تفتح فيه أبواب السماء , وتغلق فيه أبواب الجحيم , وتغلّ فيه مردة الشياطين , لله فيه ليلة خير من ألف شهر , من حرم خيرها فقد حرم

Telah datang kepada kalian ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah wajibkan kepada kalian puasa di bulan ini. Di bulan ini, akan dibukakan pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan nakal akan dibelenggu. Demi Allah, di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala di malam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan. (HR. Ahmad, Nasai 2106, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). 
Diambil dari: Silabus, Talim dan Ceramah Ramadhan (Zoom)
Continue Reading

@ Copyright - Infokom DPW PUI Jabar