Connect with us

Kolom

Shaum Menciptakan Manusia Taqwa

Published

on

Undang SyarifOleh Undang Syarif HSP

“Wahai orang–orang yang beriman telah di wajibkan kepada kamu semua beribadah shaum sebagaimana telah diwajibkan kepada orang–orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang–orang yang bertaqwa”. (Q.s. Al-Baqarah : 183)

Tujuan ibadah shaum adalah untuk menciptakan manusia yang bertaqwa. Manusia yang taqwa adalah sesungguhnya manusia yang memiliki kesadaran ketuhanan yang sangat tinggi. Kesadaran ketuhanan adalah kesadaran seseorang bahwa Allah SWT. Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha segala-Nya,senantiasa menyertai dan mengawasi hidupnya, sehingga Allah bukan hanya Maha hadir tetapi juga Maha Dekat

Kesadaran ketuhanan adalah pangkal kebajikan dan pondasi moral yang tinggi. Tanpa ada keasadaran ketuhanan tak mungkin ada taqwa  itu sendiri seseorang tidak akan mencuri,tidak mungkin korupsi,tidak mungkin berzina,atau tidak mungkin tidak akan melakukan tindak kejahatan lainnya manakala ia beriman kepada Allah dalam arti ingat akan kehadiran Allah yang senantiasa mengawasinya. Ini mengandung arti bahwa perbuatan perbuatan dosa timbul dan terjadi karena kelalaian manusia dari mengingat Allah SWT.

Ibadah shaum yang kita jalani di bulan ramadhan ini sesungguhnya berguna untuk mempertajam dan mengingatkan kesadaran itu sendiri. Dengan harapan dapat menjadi dasar dan landasan terbentuk ya nilai taqwa. Kesadaran ketuhanan itu sendiri akan melahirkan manusia yang serba hati-hati dalam hidupnya. Dia sadar bahwa Allah Maha melihat, sehingga apapun yang dia lakukan tidak akan pernah lepas dari pantauan Allah SWT.

Korupsi yang dilakukan sebagian petinggi dari negeri ini, pembunuhan dan pembantaian yang senantiasa jadi tontonan saban hari, pelacuran yang semakin kian menjadi, terorisme yang kian terus menghantui dan memakan banyak korban orang-orang yang tak berdosa, dan semakin maraknya tindak kejahatan dan kriminalitas dalam berbagai aspek kehidupan, adalah akibat ulah manusia yang tidak sadar akan kehadiranAllah SWT. Tidak sadar bahwa sesungguhnya Allah Maha Melihat dan Mengawasi apa yang kit lakukan.

Oleh karenanya ibadah shaum dan  amaliah ramadhan lainnya akan mampu melahirkan jiwa Tauhid yang kuat dan kokoh manakala dijalani penuh dengan keimanan dan keikhlasan, dan telah mampu menghadirkan Allah dalam dirinya. Dia merasa Allah senantiasa hadir dan memantau segala gerak-gerik dan seluruh aktivitasnya.

Keasadaran ketuhanan pula akan mampu melahirkan kesadaran kemanusiaan. Bukan hanya Allah hadir dalam hidupnya, akan tetapi dia juga punya empati dan punya peduli akan kehidupan sekelilingnya. Dia akan memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap derajat kemanusiaan degan didasari  keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Dengan kata lain kepedilan yang dimiliki atas dasar karena Allah semata-mata, hanya ingin memperoleh penghargaan dari Allah.

Setiap kita mengibarkan panji-panji persamaan dan keadilan sebagai kepentingan kemanusiaan, haruslah bersumber sepenuhnya dari prinsip tauhid. Lalu prinsip Tauhidullah ini memancarkan cinta kasih antara sesama ummat manusia, membulatkan perasaan sebagai keluarga besar, ummatan waahidah, persaudaraan tidak hanya dibatasi oleh faktor genetic biologis semata, factor darah dan keturunan, namun semangat persaudaraan ini memiliki sumber motivasi yang lebih besar lagi, yaitu persaudaraan se-iman dan se-islam bahkan kemanusiian secara lebih luas lagi. Karena itu Allah mengisyaratkan untuk senantiasa berlaku baik, faaslihu baina akhwaikum, berislahlah diantara kamu sekalian, sambil bebagi rasa, bebelas kasih, memadu menjadi satu, ibarat satu struktur bangunan yang kuat dan kokoh, yasyuddu ba’duhu ba’dhon, berat sama dipikul ringan sama di jinjing.

Seandainya semua apa yang kita lakukan di dasai oleh Allah, betapa indahnya hidup ini. Sehingga buah dari kesadran kemanusiaan ini akan melahirkan kedamaian, keharmonisan dan hidup penuh dengan cinta kasih. Tak mungkin saling menggunjing antar sesama, timbul percekcokan, dan tak mungkin akan terjadi perpecahan diantra kita yang mengakibatkan pecahnya pesatuan dan kesatuan ummat islam.

Tak mungkin terjadi penindasan sikaya atas si miskin, tak akan pernah terjadi ekploitasi si kuat atas si lemah. Dengan kata lain, iman dan taqwa akan mampu melahirkan kedamaian, ketenangan, ketentraman dan keharmonisan. Lebih jauhnya lagi peduli sosial dan peduli lingkungan. Sehingga kemiskinan akan terminimalisasi dan teratasi, karena adanya si kaya sadar bahwa dalam harta yang dimiliki ada hak fakir miskin yang di keluarkan.

Ini sebagai wujud solidaritas untuk memperhatiakn sesama. Ini juga hikmah dari penunaian zakat fitrah yang setiap akhir bulan ramadhan kita keluarkan sebagai perpaduan antara kesadaran ke-Tuhanan dengan kesadaran Kemanusiaan. Dan sebagai hikmah dari ibadah shaum yang kita jalani, ternyata mampu melahirkan jiwa-jiwa sosial yang memiliki empati terhadap si kaya dan si miskin, melahirkan sikap dan sifat solidaritas serta kebersamaan, mewujudkan persatuan dan kesatuan dengan landasan tauhidulloh.

Makan pantaslah apabila ibadah shaum merupakan salah satu rukun dari rukun islam yang lima, sebagai sarana untuk membangun manusia beriman dan bertaqwa,manusia yang berkwalitas. Karena itu ibadah shaum secara rasional akan mampu mewujudkan imoian demi terbentuknya masyarakat madani yang diridhoi Allah SWT. yang selama ini kita idam-idamkan, baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofur.

Dengan bekal kesucian jiwa dan hati, di bulan yang berkah ini, bulan untuk penggemblengan diri dan jiwa, sangat relefan untuk kita renungkan. di tengah-tengah kondisi bangsa dan Negara dewasa ini, porak-poranda dan carut-marutnya bebagai sisi kehidupan serta luluh lantahnya keadilan dan kesejahteraan, boleh jadi semua ini individu-individu dalam masyarakat kita lebih mememtingkan diri sendiri, golongan, kelompok, partai atau suku bangsanya tanpa menghiraukan kelompok lain. Dari sini akhirnya lahirnya manusia-manusia yang serakah dan egois, tak peduli dengan yang lainnya yang pada gilirannya akan mampu meluluh lantahkan bebagai sendi-sendi kehidupan.

Berbagai malapetaka yang menimpa negeri ini jangan sampai masuk pada kategori persekot adzab dari Allah. Karena kita tidak mengindahkan titah perintah-Nya ,lebih banyak menginjak-injak aturan-Nya, aturan-aturan jahiliyah lebih kita utamakan  sementara aturan Allah kita pinggirkan dan kita sisihkan. Ini akibat kesadran ketuhanan yang belum kita miliki.

Mari kita simak peringatan Allah; “Dan periharalah dirimu dari siksa yang tidak khusus menimpa kepada oran-orang yang dzalim saja diantaramu. Dan ketahuilah bahwa allah sangat keras siksa-Nya “.(Q.S. Al-Anfal/8 : 25). Wallahu a’lam bish-showab.*

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kolom

Pilih Pemimpin Amanah Agar Turun Keberkahan

Published

on

fauzan jaenuriOleh H.M. Fauzan Jaenuri

Pemilu merupakan salah satu bagian dari proses demokrasi di Indonesia yang merupakan rangkai awal dalam rangka memilih seorang imam atau pemimpin. Hal ini juga merupakan proses melahirkan atau mencari kepemimpinan nasional.

Dalam proses demikian untuk mencari pemimpin baik lingkup legislative maupun eksekutif maka dalam konteks hukum Islam termasuk dalam kategori fardu kifayah. Sehingga seandainya tidak ada yang mencalonkan maka hal ini termasuk berdosa. Mengangkat seorang pemimpin dalam konteks persatuan umat Islam yakni yang selaku ahlu sunnah wal jamaah maka hukumnya wajib syar’i dan wajib aqli.

Sehingga karena wajibnya tersebut maka sebagai umat Islam khususnya kader PUI adalah wajib ain atau bisa menjadi haram jika tidak melakukan alias meninggalkan proses pemilu tersebut. Untuk itu bagi kader atau jamaah PUI harus tidak boleh golput alias harus menyalurkan hak politiknya yakni memilih calon wakil rakyat tersebut.

Hal ini harus disosialisasikan kepada seluruh umat Islam khususnya kader dan jamaah PUI akan urgensinya ikut aktif dalam pemilu tersebut.

Harapan besar bagi pemilih adalah lahirnya seorang pemimpin ditengah-tengah umat yang mempunyai kapasitas dan kapabilitas seorang pemimpin seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Untuk itu seorang pemimpin itu harus memenuhi kesiapan atau criteria antara lain :

1. Mampu menghadirkan rasa aman ditengah-tengah masyarakat atau umat.

Maka dari itu ia harus mempunyai kekuatan yang prima,secara keilmuan mumpuni,mempunyai fisik yang sehat dan segar,maka jika ada calon pemimpin yang mempunyai fisik sudah terlihat loyo (tua) maka sebenarnya tidak layak. Karena ia dituntut untuk bisa aktif melihat umat atau rakyatnya secara langsung,tidak sekedar duduk manis dan mendengar laporan dari staf atau pembantunya.

Apalagi dalam konteks kemimpinan nasional,dimana wilayah Indonesia yang demikian luas maka seorang pemimpin dituntut mempunyai kesehatan atau kebugaran fisik yang prima. Nah,bagaimana hal bisa dilakukan oleh orang tua yang sudah loyo,mungkin secara keilmuan ia mumpuni namun secara fisik sudah tidak memungkinkan,karena kerja pemimpin itu bukan sekedar pikiran saja tapi harus dibarengi dengan kekuatan tubuh atau jasmani yang prima.

Dalam bahasa Al Qur’annya basthotan fil ilmi wal jizmi  yakni mempunyai kedalam ilmu (baik ilmu agama dan tatanegara) yang mumpuni namun juga mempunyai kekuatan jasmani/fisik yang prima.

2. Mempunyai kekuatan atau kemampuan secara ekonomi di tengah-tengah masyarakat atau umat.

Hal ini jangan sampai ada wakil rakyat baik yang duduk dilegislatif atau eksekutif yang secara ekonomi sangat lemah atau tidak mempunyai daya beli dalam memenuhi kebutuhan keluarganya.

Jika hal tersebut sampai terjadi maka keberadaan ia sebagai wakil rakyat hanya sekedar mencari nafkah atau pekerjaan saja.Bisa dibayangkan jika ada wakil rakyat yang secara ekonomi sangat lemah harus memperhatikan dan memperjuangkan kepentingan rakyat. Ini malah bisa berpotensi atau menjerumuskan ia pada hal atau tindakan tidak terpuji atau mudah tergoda dengan iming-iming materi,karena secara materi belum mandiri atau masih lemah.

Untuk itu kader-kader PUI yang mencalonkan diri sebagai wakil rakyat harus kuat secara ekonomi,sehingga jika ditakdirkan menjadi wakil rakyat betul-betul untuk ibadah,dakwah,pengabdian dan bukan untuk mencari nafkah. Ia juga harus mempunyai bekal keimanan yang kuat sehingga sehingga langkahnya dibimbing oleh Allah,teguh dalam pendirian,tidak mudah tergoda bujuk rayu duniawi dan ikhlas mengemban amanah umat.

Harapannya jika memilih caleg yang demikian (berbekal iman dan ilmu yang kuat) maka kelak jika ia duduk di parlemen mampu mentransformasi nilai Al Qur’an dan Sunnah dalam system pemerintahan dan perundang-undangan di Indonesia.

3. Mampu menghadirkan penghambaan  diri kepada Allah SWT.

Kehadirannya bisa mendatangkan rahmat baik di parlemen maupun ditengah –tengah masyarakat atau umat.Bukan sebaliknya kehadiran dan keberadaannya malah mendatangkan mudhoroat dan murka dari Allah SWT. Untuk itu seorang pemimpin harus mampu menjadi uswah atau contoh yang baik bagi umat atau rakyatnya baik perkataannya maupun prilakunya.

Indikasinya sebenarnya mudah yakni seorang pemimpin menimal mampu menjadi imam atau khotib di masjid atau minimal dia aktif dalam kegiatan di masjid di lingkungannya,baik shalat berjamaah maupun kegiatan lainnya.

Bagaimana mungkin seorang pemimpin menyuruh atau mengajak rakyatnya untuk menjadi baik kalau dirinya saja tidak pernah ke masjid? Padahal masjid bisa dijadikan model pembentukan karakter rakyat,masjid sebagai tempat ibadah,menggali ilmu atau belajar,mengembangkan potensi ekonomi sehingga rakyat atau umat berdaya dan masjid sebagai ajang silaturrahim untuk memecahkan segala persoalan.

Lihatlah bagaimana sosok Rasulullah sebagai pemimpin terbesar dunia,beliau imam dalam shalat di masjid,pemimpin dalam keluarga,pemimpin dalam masyarakat bahkan Negara dan lain sebagainya.

Dengan demikian dalam konteks memilih pemimpin itu tidak boleh dilakukan asal-asalan yakni asal memilih orang dan asal gugur kewajiban memilih. Untuk itu memilih pemimpin harus dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

Sadar dan tahu siapa orang kita hendak pilih serta pilihan kita harus dapat dipertanggung jawabkan kelak.Jangan memilih pemimpin yang baik sesaat,memberi saat akan dipilih dan perhatian menjelang pemilihan atau gemar mengumbar janji-janji atau harapan palsu. Kader dan jamah PUI serta umumnya umat Islam jangan terjebak caleg yang demikian karena akan menyesal nantinya. Kader PUI dan umat Islam harus menjadi pemilih yang cerdas  dan tidak pragmatis (demi kepentingan sesaat).

Selain itu selaku umat Islam kita dilarang untuk berlaku pesimis,sebaliknya kita harus terus mempunyai sikap optimis dalam membangun masa depan. Memang harus diakui ada beberapa anggota legislatif yang mempunyai sikap dan prilaku yang tidak amanah atau tidak terpuji,seperti terbelit kasus korupsi,terjerat kasus narkoba dan lain sebagainya.

Namun kita harus tetap mempunyai harapan bahwa kedepan harus lebih baik,diantara ribuan caleg pasti ada yang baik dan layak untuk kita pilih. Kita harus mampu menghadirkan pemimpin-pemimpin masa depan yang lebih baik,tunas-tunas harapan bangsa itu harus tetap ada sehingga kita akan meraih dan hidup dalam negara yang diridhoi Alllah SWT, negara yang baldatun thoyyibatul wa rabbun ghafur itu bukan mimpi,insya Allah itu akan terwujud jika kita mempunyai pemimpin-pemimpin yang amanah.Semoga . [Iman/Intisabi].*

Drs.H.Muh.Fauzan Jaenuri,M.Ag, Wakil Ketua PW PUI Jabar

Continue Reading

Kolom

Pilih Pemimpin Muda Berprestasi!

Published

on

djadja djahariOleh H.Djaja Djahari

Bagi umat Islam umumnya dan khususnya bagi jamaah PUI untuk Pemilu Legislatif 2014 ini sebaiknya tidak golput. Karena kalau golput sayang suara kita (umat Islam) akan dipakai oleh orang lain (non muslim). Jadi jika semua atau sebagian besar umat Islam golput maka yang akan terpilih adalah min hum (golongan orang yang tidak kita kehendaki).

Kalaupun mereka yang terpilih tidak sampai pada golongan yang tidak kita kehendaki maka kreterianya pasti jauh dari harapan atau dibawah standar syarat seorang pemimpin sesuai dengan agama kita.

Untuk itu alangkah baiknya jika kita terlibat aktif dalam pemilu legislatif tersebut. Kriterianya yang utama adalah caleg tersebut harus seorang muslim atau Islam. Dalam hal ini tentu bukan sekedar Islam hanya sebatas identitas atau KTP semata.

Namun Islam atau muslim disini tentu saja ditunjukan dengan jati dirinya yang terlihat dari sikap,amaliyah dan komitmen keislamannya yang kokoh dan mempunyai sikap membela agama dan memperjuangkannya dalam  amaliyah keseharian baik secara pribadi maupun dalam berjamaah.

Selain aktif dalam pelaksanaanPemilu Legislatif kader PUI juga harus aktif sebagai pemantau atau pemerhati sekaligus sebagai pengawas pelaksanaan Pemilu tersebut. Sebab hal ini menurut beberapa pengamat serta belajar dari pelaksanaan Pemilu sebelumnya bahwa kecurangan dalam Pemilu masih sangat potensial terjadi. Bukan berarti kita berburuk sangka kepada penyelenggara atau panitia pemilu namun kenyataan di lapangan sulit untuk dipungkiri.

Kecurangan tersebut bisa terjadi karena praktek politik uang (money politic),mempengaruhi calon pemilih atau menggiring pada caleg tertentu baik dilakukan oleh oknum parpol atau simapatisan caleg atau timsesnya atau  oleh oknum panitia itu sendiri. Hal ini harus kita antisapasti sejak dini,segala bentuk kecurangan akan mencederai dari proses Pemilu itu sendiri yang mengusung prinsip langsung,umum,bebas,rahasia ,jujur dan adil (luber jurdil).

Jamaah PUI boleh dikata dan bisa disebut sebagai pemilih yang dewasa dalam hal ini sudah cerdas dan teruji.Tanpa harus diarahkan kader PUI sudah tahu dan paham siapa saja yang masuk kategori caleg yang sesuai dengan arah perjuangan PUI. Baik  caleg dari internal PUI,calon DPD maupun dari luar PUI yang tentu saja mereka ini harus dekat dan sejalan dengan perjuangan PUI.

Untuk itu sebelum memilih nantinya ada baiknya melakukan istiqarah atau meminta pentunjuk dari Allah SWT,menimbang-nimbang terlebih dahulu,jangan sampai salah pilih nantinya. Sebab mereka yang mewakili suara kita diparlemen,memperjuangkan kepentingan umat minimal untuk lima tahun  ke depan.

Secara pribadi saya mendukung pernyataan salah satu cendekiawan muslim yang juga Mantan Presiden Indonesia yakni Prof.BJ.Habiebie  dalam sebuah talkshow di sebuah televise yang menyatakan bahwa kepemimpinan nasional itu sebaiknya dari segi usia antara 40 tahun hingga 60 tahun.

Alasannya  salah satunya adalah mereka ini dalam masa transisi yakni jika terlalu muda maka pengalaman dan kematangan emosionalnya belum teruji. Sementara jika terlalu tua meskipun ia sendiri mempunyai pengalaman dan prestasi namun secara fisik sudah tidak memungkinkan untuk diajak “berlari”. Sehingga dalam rentang usia tersebut seorang pemimpin diharapkan mempunyai prestasi,pengalaman yang memadai namun juga masih mempunyai semangat dan tenaga yang prima untuk menjalankan roda kepemimpinannya.

Secara pribadi saya juga setuju jika caleg itu dibatasi masa keanggotaannya maksudnya maksimal dua kali seperti presiden. Sehingga untuk menghindari anggota legislative yang sudah beberapa kali periode dan terkesan menghabiskan umurnya di parlemen. Alangkah baiknya jika parlemen kita di isi oleh wakil rakyat yang masih muda,berdedikasi,punya integritas,semangat maju,berakhlakul karimah dan prestasi yang bukan hanya tingkat nasional namun level regional bahkan internasional.

Namun yang tidak kalah pentingnya adalah dia harus mempunyai rekam jejak sebagai pejuang umat Islam dalam tingkatan tertentu. Jangan malah sebaliknya justru memilih caleg yang menyakiti atau mungkin mencederai perjuangan umat Islam,itu harus dihindari.

Saya rasa ada,kaum muda jangan ragu untuk terjun dalam kancah politik jika dirasa mempunyai syarat untuk itu.Banyak pemimpinan dunia saat ini dalam usia yang relativ masih muda atau  kemimpinan Rasulullah Muhammad SAW harusnya menjadi inspirasi generasi muda Islam,dimana pada usia 40 tahunan beliau diangkat dan usia 63 tahunan beliau wafat.

Untuk Pemilu 2014 memang koalisi Partai-partai Islam atau partai berbasis massa Islam memang masih sebuh mimpin. Karena yang jelas barat (Amerika) tidak menghendaki umat Islam bersatu termasuk dalam hal ini masalah pemilu atau kepemimpinan nasional.

Disatu sisi umat Islam sendiri nampaknya masih menikmati dalam perpecahan tersebut,hal ini tentu saja dapat kita lihat dan rasakan sendiri. Tentu saja sejatinya ini bukanlah hal yang menggembirakan,karena bagaimanapun akan lebih indah dan berarti jika umat Islam dapat bersatu baik langkah maupun gerak perjuangan.

Namun demikian kita tentunya tidak boleh berputus asa atau menyerah pada keadaan demikian,bagaimanapun juga persatuan umat Islam harus kita usahakan. Warna boleh beda,partai juga mungkin berbeda namun persatuan Umat Islam harus terwujud dan kita harus menjadi bagian dari upaya tersebut,jangan hanya menjadi penonton namun jadilah pelaku. Semoga keinginan tersebut bukan hanya mimpi. Wallahu’alam.

—  Drs.H.Djaja Djahari,M.Pd, Ketua Majelis Pertimbangan PUI Jabar

Continue Reading

iding-bahruddin

Umat Islam Harus Berperan Aktif dalam Pemilu

Published

on

iding-bahruddinOleh H. Iding Bahruddin

Pemilu boleh disebut perang ideology umat Islam dalam kanacah perpolitikan nasional maka umat Islam harus lebih cerdas dalam memilih caleg. Siapapun orangnya yang tentunya dia harus seorang muslim yang taat. Apapun partainya maka ia harus membawa dan memperjuangkan kepentingan umat didunia maupun di akherat.

Bukan lagi pendekatan kemanusian dan kepentingan sesat di dunia saja tetapi harus jauh ke depan (akherat) sehingga pendekatannya menggunakan aspek religius. Jangan lagi mempermasalahkan aspek demokrasi dengan mengadu domba antar umat Islam tetapi yang harus dikedepankan aspek religius atau aspek ideologi Islam.

Secara hitung-hitungan politik mungkin kriteria caleg jadi, dia punya visi misi jelas,dan mungkin uang dan popularitas. Namun dalam era modern dan keterbukaan sekarang ini misalnya  dalam menghadapi komunitas ASEAN  maka yang akan bertahan atau mampu memenangkan persaingan adalah orang –orang yang punya akhlakul kharimah  yang diikuti kemampuan manejerial,ilmu baik ilmu agama maupun pemerintahan yang mumpuni.

Kemampuan yang komprehensif demikian diperlukan untuk mampu menjawab dan menghadapi tantangan jaman. Caleg tidak bisa hanya mengandalkan kelebihan secara parsial misalnya caleg sudah berakhlakul kharimah namun tidak mempunyai skill ,kapabilitas dan kompetensi dalam suatu bidang maka ia akan sulit bersaing. Begitupun sebaliknya caleg yang mempunyai kemampuan manajerial,skil yang bagus namun tidak berakhlakul kharimah maka sebaiknya dihindari umat Islam.

Himbaun dalam momentum pemilu 2014 umat Islam umumnya dan khususnya warga PUI untuk tidak golput. Manfaatkan kesempatan yang ada yang dijamin undang-undang atau sah secara konstitusional dengan mengambil posisi strategi agar kepentingan umat Islam dapat diperjuangan.Pilih caleg terbaik diantara yang baik .

Mencari yang ideal dan sempurna memang sulit namun gunanakan saja parameter kepemimpinan ala Rasulullah yakni shidiq,fathonah,amanah dan  tabligh serta minta petunjuk dari Allah SWT dalam doa dan istikhorah ,insya Allah  kita akan mendapatkan wakil yang amanah.

Kecelakaan bagi yang tidak memilih baik untuk dirinya maupun kepentingan umat.Karena ia tidak peduli dengan nasib bangsa terutama kepentingan umat Islam yang sebenarnya bisa  berperan lebih maksimal dan optimal karena ia tidak memilih hanya karena alasan malas,pesimis atau hanya ikut-ikutan orang lain maka kesempatan tersebut akan diambil olah orang lain.

Dengan demikian, ia tidak berhak menyalahkan orang lain jika mendapati keadaan yang lebih buruk lagi,siapa yang akan disalahkan jika ia sendiri tidak mau ambil peranan. Harus disadari memang demikian mekanisme dalam pemerintahan kita dimana masih menggunakan pemilu sebagai sarana untuk menjaring aspirasi rakyat. Maka orang yang tidak mau memilih (golput) akan mendapat kerugian:

  1. Ia sendiri tidak mempunyai visi dan misi dalam membangun bangsa dan Negara yang didalamnya ada umat Islam,berarti ia tidak peduli pada kepentingan umat Islam itu sendiri.
  2. Ia akan dipimpim oleh orang yang tidak dikendahi oleh dirinya sendiri melainkan dipimpin oleh orang atau golongan lain yang bisa jadi juga tidak peduli dengannya.

Untuk sikap kesatria adalah jangan menyalah orang lain jika kondisi bangsa dan Negara Indonesia masih demikian.Mengapa ia tidak berpartisipasi dalam pemilu,mengapa jika ia mempunyai kemampuan dan konsep yang lebih baik tidak mau tampil.

Maka jika tidak mau memilih dan ia sendiri mempunyai syarat untuk menjadi pemimpin harusnya ia mencalonkan diri dari partai manapun dan dari daerah manapun. Atau tampilah  didepan atau minimal mau,bersedia untuk dicalonkan,ini baru sikap seorang satria. Bukan sebaliknya tidak mau memilih,tidak mau dipilih dan malah menyalahkan orang lain atau keadaan sementara ia sendiri tidak berbuat apa-apa,ini sikap pengecut atau pecundang saja.

Pada akhirnya kan semua sama baik yang memilih atau tidak memilih (golput) akan berada dalam satu kebijakan dan system tidak bisa membedakan. Oleh karena itu hemat kita pemilu adalah satu proses perubahan untuk memperbaiki keadaan maka dari itu golput tidak akan menyelesaikan masalah dan tidak akan merubah keadaan yang lebih baik lagi. Selama aturan atau undang-undang tidak berubah system dan proses peralihan kepemimpinan juga tidak berubah. Maka dari itu sekali lagi jangan salahkan orang lain tapi salahkan diri sendiri.

Sikap golput bisa jadi lahir dari sikap pesimis melihat keadaan yang sama saja atau tidak ada perubahan yang berarti sehingga  memunculkan sikap kecewa. Kecewa boleh tapi tidak boleh pesimis,umat Islam harus senantiasa bersikap optimis dan tidak berputus asa atau tidak putus harapan. Umat Islam harus berkeyakinan bahwa masih ada harapan hari esok harus lebih baik dari ini.

Kondisi saat ini harus lebih baik lagi di masa depan,perubahan itu untuk menuju keadaan yang lebih baik. Sikap optimis ini harus dimiliki umat Islam dan jangan berputus asa dalam menggapai rahmat Allah. Jika kecewa dengan pilihan masa lalu maka untuk sekarang jangan diilih lagi,jangan mengulangi kesalahan yang sama.

Saat ini ada ribuan caleg maka cerdas dan cermat dalam memilih cari tahu profilnya jika tidak tahu maka bisa bertanya pada orang lain atau jika perlu lakukan diskusi atau audiensi dengan caleg.

Insya Allah yang akan ditanya oleh Allah adalah sejauh mana ikhtiar kita bukan terletak pada keberhasilan. Yang akan dinilai itu prosesnya maka keberhasilan atau kesuksesan itu Allah yang mentukan. Wakil-wakil rakyat bahkan presiden itu sendiri sebenarnya sudah ada di lauhil mahfudz, sudah tersurat maka yang diperlukan ikhtiar kita.

Bagi jamaah dan kader PUI dan umumnya umat Islam tetap dihimbau untuk menggunakan hak pilihnya dan jangan golput. Pilih caleg sesuai dengan kriteria diatas, sesuai dengan hati nurani apapun partainya namun perhatikan dan cermati calegnya.

Lakukan memilih dengan cerdas dengan penuh tanggung jawab,niatkan untuk perubahan yang lebih baik dalam rangka memperjuangkan kepentingan umat Islam sehingga insya Allah akan bernilai ibadah. Jangan memilih karena uang,popularitas apalagi yang hanya pandai berbicara.Pilihan kita harus berorientasi keakheratan membawa  kita kesejahteraan dan kebahagian di dunia hingga akherat. [iman/majalah intisabi no. 10]

—  Drs.H.Iding Bahruddin,M.Pd, Ketua Umum PW PUI Jawa Barat

Continue Reading

@ Copyright - Infokom DPW PUI Jabar