Connect with us

Kolom

Pilih Pemimpin Amanah Agar Turun Keberkahan

Published

on

fauzan jaenuriOleh H.M. Fauzan Jaenuri

Pemilu merupakan salah satu bagian dari proses demokrasi di Indonesia yang merupakan rangkai awal dalam rangka memilih seorang imam atau pemimpin. Hal ini juga merupakan proses melahirkan atau mencari kepemimpinan nasional.

Dalam proses demikian untuk mencari pemimpin baik lingkup legislative maupun eksekutif maka dalam konteks hukum Islam termasuk dalam kategori fardu kifayah. Sehingga seandainya tidak ada yang mencalonkan maka hal ini termasuk berdosa. Mengangkat seorang pemimpin dalam konteks persatuan umat Islam yakni yang selaku ahlu sunnah wal jamaah maka hukumnya wajib syar’i dan wajib aqli.

Sehingga karena wajibnya tersebut maka sebagai umat Islam khususnya kader PUI adalah wajib ain atau bisa menjadi haram jika tidak melakukan alias meninggalkan proses pemilu tersebut. Untuk itu bagi kader atau jamaah PUI harus tidak boleh golput alias harus menyalurkan hak politiknya yakni memilih calon wakil rakyat tersebut.

Hal ini harus disosialisasikan kepada seluruh umat Islam khususnya kader dan jamaah PUI akan urgensinya ikut aktif dalam pemilu tersebut.

Harapan besar bagi pemilih adalah lahirnya seorang pemimpin ditengah-tengah umat yang mempunyai kapasitas dan kapabilitas seorang pemimpin seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Untuk itu seorang pemimpin itu harus memenuhi kesiapan atau criteria antara lain :

1. Mampu menghadirkan rasa aman ditengah-tengah masyarakat atau umat.

Maka dari itu ia harus mempunyai kekuatan yang prima,secara keilmuan mumpuni,mempunyai fisik yang sehat dan segar,maka jika ada calon pemimpin yang mempunyai fisik sudah terlihat loyo (tua) maka sebenarnya tidak layak. Karena ia dituntut untuk bisa aktif melihat umat atau rakyatnya secara langsung,tidak sekedar duduk manis dan mendengar laporan dari staf atau pembantunya.

Apalagi dalam konteks kemimpinan nasional,dimana wilayah Indonesia yang demikian luas maka seorang pemimpin dituntut mempunyai kesehatan atau kebugaran fisik yang prima. Nah,bagaimana hal bisa dilakukan oleh orang tua yang sudah loyo,mungkin secara keilmuan ia mumpuni namun secara fisik sudah tidak memungkinkan,karena kerja pemimpin itu bukan sekedar pikiran saja tapi harus dibarengi dengan kekuatan tubuh atau jasmani yang prima.

Dalam bahasa Al Qur’annya basthotan fil ilmi wal jizmi  yakni mempunyai kedalam ilmu (baik ilmu agama dan tatanegara) yang mumpuni namun juga mempunyai kekuatan jasmani/fisik yang prima.

2. Mempunyai kekuatan atau kemampuan secara ekonomi di tengah-tengah masyarakat atau umat.

Hal ini jangan sampai ada wakil rakyat baik yang duduk dilegislatif atau eksekutif yang secara ekonomi sangat lemah atau tidak mempunyai daya beli dalam memenuhi kebutuhan keluarganya.

Jika hal tersebut sampai terjadi maka keberadaan ia sebagai wakil rakyat hanya sekedar mencari nafkah atau pekerjaan saja.Bisa dibayangkan jika ada wakil rakyat yang secara ekonomi sangat lemah harus memperhatikan dan memperjuangkan kepentingan rakyat. Ini malah bisa berpotensi atau menjerumuskan ia pada hal atau tindakan tidak terpuji atau mudah tergoda dengan iming-iming materi,karena secara materi belum mandiri atau masih lemah.

Untuk itu kader-kader PUI yang mencalonkan diri sebagai wakil rakyat harus kuat secara ekonomi,sehingga jika ditakdirkan menjadi wakil rakyat betul-betul untuk ibadah,dakwah,pengabdian dan bukan untuk mencari nafkah. Ia juga harus mempunyai bekal keimanan yang kuat sehingga sehingga langkahnya dibimbing oleh Allah,teguh dalam pendirian,tidak mudah tergoda bujuk rayu duniawi dan ikhlas mengemban amanah umat.

Harapannya jika memilih caleg yang demikian (berbekal iman dan ilmu yang kuat) maka kelak jika ia duduk di parlemen mampu mentransformasi nilai Al Qur’an dan Sunnah dalam system pemerintahan dan perundang-undangan di Indonesia.

3. Mampu menghadirkan penghambaan  diri kepada Allah SWT.

Kehadirannya bisa mendatangkan rahmat baik di parlemen maupun ditengah –tengah masyarakat atau umat.Bukan sebaliknya kehadiran dan keberadaannya malah mendatangkan mudhoroat dan murka dari Allah SWT. Untuk itu seorang pemimpin harus mampu menjadi uswah atau contoh yang baik bagi umat atau rakyatnya baik perkataannya maupun prilakunya.

Indikasinya sebenarnya mudah yakni seorang pemimpin menimal mampu menjadi imam atau khotib di masjid atau minimal dia aktif dalam kegiatan di masjid di lingkungannya,baik shalat berjamaah maupun kegiatan lainnya.

Bagaimana mungkin seorang pemimpin menyuruh atau mengajak rakyatnya untuk menjadi baik kalau dirinya saja tidak pernah ke masjid? Padahal masjid bisa dijadikan model pembentukan karakter rakyat,masjid sebagai tempat ibadah,menggali ilmu atau belajar,mengembangkan potensi ekonomi sehingga rakyat atau umat berdaya dan masjid sebagai ajang silaturrahim untuk memecahkan segala persoalan.

Lihatlah bagaimana sosok Rasulullah sebagai pemimpin terbesar dunia,beliau imam dalam shalat di masjid,pemimpin dalam keluarga,pemimpin dalam masyarakat bahkan Negara dan lain sebagainya.

Dengan demikian dalam konteks memilih pemimpin itu tidak boleh dilakukan asal-asalan yakni asal memilih orang dan asal gugur kewajiban memilih. Untuk itu memilih pemimpin harus dilakukan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.

Sadar dan tahu siapa orang kita hendak pilih serta pilihan kita harus dapat dipertanggung jawabkan kelak.Jangan memilih pemimpin yang baik sesaat,memberi saat akan dipilih dan perhatian menjelang pemilihan atau gemar mengumbar janji-janji atau harapan palsu. Kader dan jamah PUI serta umumnya umat Islam jangan terjebak caleg yang demikian karena akan menyesal nantinya. Kader PUI dan umat Islam harus menjadi pemilih yang cerdas  dan tidak pragmatis (demi kepentingan sesaat).

Selain itu selaku umat Islam kita dilarang untuk berlaku pesimis,sebaliknya kita harus terus mempunyai sikap optimis dalam membangun masa depan. Memang harus diakui ada beberapa anggota legislatif yang mempunyai sikap dan prilaku yang tidak amanah atau tidak terpuji,seperti terbelit kasus korupsi,terjerat kasus narkoba dan lain sebagainya.

Namun kita harus tetap mempunyai harapan bahwa kedepan harus lebih baik,diantara ribuan caleg pasti ada yang baik dan layak untuk kita pilih. Kita harus mampu menghadirkan pemimpin-pemimpin masa depan yang lebih baik,tunas-tunas harapan bangsa itu harus tetap ada sehingga kita akan meraih dan hidup dalam negara yang diridhoi Alllah SWT, negara yang baldatun thoyyibatul wa rabbun ghafur itu bukan mimpi,insya Allah itu akan terwujud jika kita mempunyai pemimpin-pemimpin yang amanah.Semoga . [Iman/Intisabi].*

Drs.H.Muh.Fauzan Jaenuri,M.Ag, Wakil Ketua PW PUI Jabar

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kolom

Pilih Pemimpin Muda Berprestasi!

Published

on

djadja djahariOleh H.Djaja Djahari

Bagi umat Islam umumnya dan khususnya bagi jamaah PUI untuk Pemilu Legislatif 2014 ini sebaiknya tidak golput. Karena kalau golput sayang suara kita (umat Islam) akan dipakai oleh orang lain (non muslim). Jadi jika semua atau sebagian besar umat Islam golput maka yang akan terpilih adalah min hum (golongan orang yang tidak kita kehendaki).

Kalaupun mereka yang terpilih tidak sampai pada golongan yang tidak kita kehendaki maka kreterianya pasti jauh dari harapan atau dibawah standar syarat seorang pemimpin sesuai dengan agama kita.

Untuk itu alangkah baiknya jika kita terlibat aktif dalam pemilu legislatif tersebut. Kriterianya yang utama adalah caleg tersebut harus seorang muslim atau Islam. Dalam hal ini tentu bukan sekedar Islam hanya sebatas identitas atau KTP semata.

Namun Islam atau muslim disini tentu saja ditunjukan dengan jati dirinya yang terlihat dari sikap,amaliyah dan komitmen keislamannya yang kokoh dan mempunyai sikap membela agama dan memperjuangkannya dalam  amaliyah keseharian baik secara pribadi maupun dalam berjamaah.

Selain aktif dalam pelaksanaanPemilu Legislatif kader PUI juga harus aktif sebagai pemantau atau pemerhati sekaligus sebagai pengawas pelaksanaan Pemilu tersebut. Sebab hal ini menurut beberapa pengamat serta belajar dari pelaksanaan Pemilu sebelumnya bahwa kecurangan dalam Pemilu masih sangat potensial terjadi. Bukan berarti kita berburuk sangka kepada penyelenggara atau panitia pemilu namun kenyataan di lapangan sulit untuk dipungkiri.

Kecurangan tersebut bisa terjadi karena praktek politik uang (money politic),mempengaruhi calon pemilih atau menggiring pada caleg tertentu baik dilakukan oleh oknum parpol atau simapatisan caleg atau timsesnya atau  oleh oknum panitia itu sendiri. Hal ini harus kita antisapasti sejak dini,segala bentuk kecurangan akan mencederai dari proses Pemilu itu sendiri yang mengusung prinsip langsung,umum,bebas,rahasia ,jujur dan adil (luber jurdil).

Jamaah PUI boleh dikata dan bisa disebut sebagai pemilih yang dewasa dalam hal ini sudah cerdas dan teruji.Tanpa harus diarahkan kader PUI sudah tahu dan paham siapa saja yang masuk kategori caleg yang sesuai dengan arah perjuangan PUI. Baik  caleg dari internal PUI,calon DPD maupun dari luar PUI yang tentu saja mereka ini harus dekat dan sejalan dengan perjuangan PUI.

Untuk itu sebelum memilih nantinya ada baiknya melakukan istiqarah atau meminta pentunjuk dari Allah SWT,menimbang-nimbang terlebih dahulu,jangan sampai salah pilih nantinya. Sebab mereka yang mewakili suara kita diparlemen,memperjuangkan kepentingan umat minimal untuk lima tahun  ke depan.

Secara pribadi saya mendukung pernyataan salah satu cendekiawan muslim yang juga Mantan Presiden Indonesia yakni Prof.BJ.Habiebie  dalam sebuah talkshow di sebuah televise yang menyatakan bahwa kepemimpinan nasional itu sebaiknya dari segi usia antara 40 tahun hingga 60 tahun.

Alasannya  salah satunya adalah mereka ini dalam masa transisi yakni jika terlalu muda maka pengalaman dan kematangan emosionalnya belum teruji. Sementara jika terlalu tua meskipun ia sendiri mempunyai pengalaman dan prestasi namun secara fisik sudah tidak memungkinkan untuk diajak “berlari”. Sehingga dalam rentang usia tersebut seorang pemimpin diharapkan mempunyai prestasi,pengalaman yang memadai namun juga masih mempunyai semangat dan tenaga yang prima untuk menjalankan roda kepemimpinannya.

Secara pribadi saya juga setuju jika caleg itu dibatasi masa keanggotaannya maksudnya maksimal dua kali seperti presiden. Sehingga untuk menghindari anggota legislative yang sudah beberapa kali periode dan terkesan menghabiskan umurnya di parlemen. Alangkah baiknya jika parlemen kita di isi oleh wakil rakyat yang masih muda,berdedikasi,punya integritas,semangat maju,berakhlakul karimah dan prestasi yang bukan hanya tingkat nasional namun level regional bahkan internasional.

Namun yang tidak kalah pentingnya adalah dia harus mempunyai rekam jejak sebagai pejuang umat Islam dalam tingkatan tertentu. Jangan malah sebaliknya justru memilih caleg yang menyakiti atau mungkin mencederai perjuangan umat Islam,itu harus dihindari.

Saya rasa ada,kaum muda jangan ragu untuk terjun dalam kancah politik jika dirasa mempunyai syarat untuk itu.Banyak pemimpinan dunia saat ini dalam usia yang relativ masih muda atau  kemimpinan Rasulullah Muhammad SAW harusnya menjadi inspirasi generasi muda Islam,dimana pada usia 40 tahunan beliau diangkat dan usia 63 tahunan beliau wafat.

Untuk Pemilu 2014 memang koalisi Partai-partai Islam atau partai berbasis massa Islam memang masih sebuh mimpin. Karena yang jelas barat (Amerika) tidak menghendaki umat Islam bersatu termasuk dalam hal ini masalah pemilu atau kepemimpinan nasional.

Disatu sisi umat Islam sendiri nampaknya masih menikmati dalam perpecahan tersebut,hal ini tentu saja dapat kita lihat dan rasakan sendiri. Tentu saja sejatinya ini bukanlah hal yang menggembirakan,karena bagaimanapun akan lebih indah dan berarti jika umat Islam dapat bersatu baik langkah maupun gerak perjuangan.

Namun demikian kita tentunya tidak boleh berputus asa atau menyerah pada keadaan demikian,bagaimanapun juga persatuan umat Islam harus kita usahakan. Warna boleh beda,partai juga mungkin berbeda namun persatuan Umat Islam harus terwujud dan kita harus menjadi bagian dari upaya tersebut,jangan hanya menjadi penonton namun jadilah pelaku. Semoga keinginan tersebut bukan hanya mimpi. Wallahu’alam.

—  Drs.H.Djaja Djahari,M.Pd, Ketua Majelis Pertimbangan PUI Jabar

Continue Reading

iding-bahruddin

Umat Islam Harus Berperan Aktif dalam Pemilu

Published

on

iding-bahruddinOleh H. Iding Bahruddin

Pemilu boleh disebut perang ideology umat Islam dalam kanacah perpolitikan nasional maka umat Islam harus lebih cerdas dalam memilih caleg. Siapapun orangnya yang tentunya dia harus seorang muslim yang taat. Apapun partainya maka ia harus membawa dan memperjuangkan kepentingan umat didunia maupun di akherat.

Bukan lagi pendekatan kemanusian dan kepentingan sesat di dunia saja tetapi harus jauh ke depan (akherat) sehingga pendekatannya menggunakan aspek religius. Jangan lagi mempermasalahkan aspek demokrasi dengan mengadu domba antar umat Islam tetapi yang harus dikedepankan aspek religius atau aspek ideologi Islam.

Secara hitung-hitungan politik mungkin kriteria caleg jadi, dia punya visi misi jelas,dan mungkin uang dan popularitas. Namun dalam era modern dan keterbukaan sekarang ini misalnya  dalam menghadapi komunitas ASEAN  maka yang akan bertahan atau mampu memenangkan persaingan adalah orang –orang yang punya akhlakul kharimah  yang diikuti kemampuan manejerial,ilmu baik ilmu agama maupun pemerintahan yang mumpuni.

Kemampuan yang komprehensif demikian diperlukan untuk mampu menjawab dan menghadapi tantangan jaman. Caleg tidak bisa hanya mengandalkan kelebihan secara parsial misalnya caleg sudah berakhlakul kharimah namun tidak mempunyai skill ,kapabilitas dan kompetensi dalam suatu bidang maka ia akan sulit bersaing. Begitupun sebaliknya caleg yang mempunyai kemampuan manajerial,skil yang bagus namun tidak berakhlakul kharimah maka sebaiknya dihindari umat Islam.

Himbaun dalam momentum pemilu 2014 umat Islam umumnya dan khususnya warga PUI untuk tidak golput. Manfaatkan kesempatan yang ada yang dijamin undang-undang atau sah secara konstitusional dengan mengambil posisi strategi agar kepentingan umat Islam dapat diperjuangan.Pilih caleg terbaik diantara yang baik .

Mencari yang ideal dan sempurna memang sulit namun gunanakan saja parameter kepemimpinan ala Rasulullah yakni shidiq,fathonah,amanah dan  tabligh serta minta petunjuk dari Allah SWT dalam doa dan istikhorah ,insya Allah  kita akan mendapatkan wakil yang amanah.

Kecelakaan bagi yang tidak memilih baik untuk dirinya maupun kepentingan umat.Karena ia tidak peduli dengan nasib bangsa terutama kepentingan umat Islam yang sebenarnya bisa  berperan lebih maksimal dan optimal karena ia tidak memilih hanya karena alasan malas,pesimis atau hanya ikut-ikutan orang lain maka kesempatan tersebut akan diambil olah orang lain.

Dengan demikian, ia tidak berhak menyalahkan orang lain jika mendapati keadaan yang lebih buruk lagi,siapa yang akan disalahkan jika ia sendiri tidak mau ambil peranan. Harus disadari memang demikian mekanisme dalam pemerintahan kita dimana masih menggunakan pemilu sebagai sarana untuk menjaring aspirasi rakyat. Maka orang yang tidak mau memilih (golput) akan mendapat kerugian:

  1. Ia sendiri tidak mempunyai visi dan misi dalam membangun bangsa dan Negara yang didalamnya ada umat Islam,berarti ia tidak peduli pada kepentingan umat Islam itu sendiri.
  2. Ia akan dipimpim oleh orang yang tidak dikendahi oleh dirinya sendiri melainkan dipimpin oleh orang atau golongan lain yang bisa jadi juga tidak peduli dengannya.

Untuk sikap kesatria adalah jangan menyalah orang lain jika kondisi bangsa dan Negara Indonesia masih demikian.Mengapa ia tidak berpartisipasi dalam pemilu,mengapa jika ia mempunyai kemampuan dan konsep yang lebih baik tidak mau tampil.

Maka jika tidak mau memilih dan ia sendiri mempunyai syarat untuk menjadi pemimpin harusnya ia mencalonkan diri dari partai manapun dan dari daerah manapun. Atau tampilah  didepan atau minimal mau,bersedia untuk dicalonkan,ini baru sikap seorang satria. Bukan sebaliknya tidak mau memilih,tidak mau dipilih dan malah menyalahkan orang lain atau keadaan sementara ia sendiri tidak berbuat apa-apa,ini sikap pengecut atau pecundang saja.

Pada akhirnya kan semua sama baik yang memilih atau tidak memilih (golput) akan berada dalam satu kebijakan dan system tidak bisa membedakan. Oleh karena itu hemat kita pemilu adalah satu proses perubahan untuk memperbaiki keadaan maka dari itu golput tidak akan menyelesaikan masalah dan tidak akan merubah keadaan yang lebih baik lagi. Selama aturan atau undang-undang tidak berubah system dan proses peralihan kepemimpinan juga tidak berubah. Maka dari itu sekali lagi jangan salahkan orang lain tapi salahkan diri sendiri.

Sikap golput bisa jadi lahir dari sikap pesimis melihat keadaan yang sama saja atau tidak ada perubahan yang berarti sehingga  memunculkan sikap kecewa. Kecewa boleh tapi tidak boleh pesimis,umat Islam harus senantiasa bersikap optimis dan tidak berputus asa atau tidak putus harapan. Umat Islam harus berkeyakinan bahwa masih ada harapan hari esok harus lebih baik dari ini.

Kondisi saat ini harus lebih baik lagi di masa depan,perubahan itu untuk menuju keadaan yang lebih baik. Sikap optimis ini harus dimiliki umat Islam dan jangan berputus asa dalam menggapai rahmat Allah. Jika kecewa dengan pilihan masa lalu maka untuk sekarang jangan diilih lagi,jangan mengulangi kesalahan yang sama.

Saat ini ada ribuan caleg maka cerdas dan cermat dalam memilih cari tahu profilnya jika tidak tahu maka bisa bertanya pada orang lain atau jika perlu lakukan diskusi atau audiensi dengan caleg.

Insya Allah yang akan ditanya oleh Allah adalah sejauh mana ikhtiar kita bukan terletak pada keberhasilan. Yang akan dinilai itu prosesnya maka keberhasilan atau kesuksesan itu Allah yang mentukan. Wakil-wakil rakyat bahkan presiden itu sendiri sebenarnya sudah ada di lauhil mahfudz, sudah tersurat maka yang diperlukan ikhtiar kita.

Bagi jamaah dan kader PUI dan umumnya umat Islam tetap dihimbau untuk menggunakan hak pilihnya dan jangan golput. Pilih caleg sesuai dengan kriteria diatas, sesuai dengan hati nurani apapun partainya namun perhatikan dan cermati calegnya.

Lakukan memilih dengan cerdas dengan penuh tanggung jawab,niatkan untuk perubahan yang lebih baik dalam rangka memperjuangkan kepentingan umat Islam sehingga insya Allah akan bernilai ibadah. Jangan memilih karena uang,popularitas apalagi yang hanya pandai berbicara.Pilihan kita harus berorientasi keakheratan membawa  kita kesejahteraan dan kebahagian di dunia hingga akherat. [iman/majalah intisabi no. 10]

—  Drs.H.Iding Bahruddin,M.Pd, Ketua Umum PW PUI Jawa Barat

Continue Reading

dedi mulyasana

Konsep Sekolah Unggul PUI

Published

on

dedi mulyasanaOleh Dedi Mulyasana

Temuan-temuan besar atau karya-karya besar di dunia seperti yang terlihat dan rasakan saat ini berangkat dari keinginan atau obsesi yang besar.Demikian pula dalam hal pendidikan yang unggul dilingkungan umat Islam atau khususnya PUI. Untuk mewujudkan hal itu diperlukan beberapa hal.

Pertama, terlebih dahulu harus mempunyai gagasan besar. Tidak bisa memulai sekolah unggul tanpa memiliki gagasan dulu. Gagasan besarnya yaitu menjadikan sekolah unggul sebagai dapur untuk mencetak masa depan umat dalam segala bidang. Dapur yang menyediakan bahan, meracik hingga memproduksi atau menghasilkan sumber daya unggul yang siap mengisi posisi-posisi yang dibutuhkan umat.

SDM unggul tersebut sejatinya untuk menghasilkan SDM yang lebih unggul lagi di masa depan. Tidak bisa mencetak manusia unggul tanpa memperhatikan perubahan zaman. Untuk itu, yang harus diperhatikan adalah perubahan-perubahan yang tengah terjadi baik skala nasional maupun lingkup global.

Kedua,  mampu menjawab segala tantangan jaman yakni masalah ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) khusus dalam modernisasi dan indutrialisasi yang dilihat arahnya akan dibawa kemana. Apakah dengan perubahan itu pendidikan yang kita kelola dan kembangkan itu akan tetap eksis atau justru hanyut dalam arus perubahan tersebut.

Jika tidak mampu menjawab segala tantangan tersebut maka harus dilakukan evaluasi untuk mengetahui letak kelemahannya selanjutnya menyusun strategi baru dan memetakan masa depan peserta didik mau dibawa kemana nantinya.

Misalnya, memetakan untuk 10 atau 20 tahun ke depan lalu simpan peta masa depan itu ke meja kerja hari ini. Kemudian kita siapkan mutu design pendidikan tentu harus jelas visi misinya.

Tujuan dan programnya juga harus jelas jangan sampai visi misi itu kita buat sesuai dengan keinginan saja, misal mencetak generasi yang unggul, cerdas, dan kompetitif sembari kita tidak mempunyai apa-apa.

Menyiapkan SDM unggul, bagus idenya, fasilitas tidak ada, namun mempunyai visi misi  hebat maka itu bukan visi misi melainkan hanya sejumlah keinginan saja. Visi itu harus betul-betul dianalisis dari mulai potensi , kekuatan, hingga masalah .

Visi, misi, dan program ini berorientasi pada mutu bukan berorientasi pada administrasi dalam arti yang sederhana. Tapi harus betul-betul berorientasi pada mutu pembelajaran. Selama ini yang terlihat visi, misi, dan program hingga manejemen pendidikan masih berorientasi pada segi atau persoalan administrasi saja bukan pada mutu pembelajaran.

Kalau desain mutu sekolah unggul misalnya dalam lingkungan PUI kita sudah punya hal itu, programnya seperti apa pola kepemimpinannya seperti apa, gurunya seperti apa, kita mencetak budaya belajar, proses belajarnya . Kalau hanya berorientasi pada angka dan ijazah maka tidak perlu visi,misi. Untuk apa membuat sekolah unggul jika ujung-ujungnya hanya berorientasi pada ijzah dan angka-angka saja. Kita hanya membekali anak didik dengan selembar ijazah.

Namun bagaimana mewarnai ijazah itu dalam perfomen sehingga anak keluar itu betul-betul matang bukan keluar hanya sekedar membawa selembar ijazah. Oleh karena itu, semua orang harus mempunyai keunggulan kompetitif yakni kemampuan kreatif semua pihak untuk belajar dan bekerja lebih awal lebih unggul dari yang lain. Jangan sampai orang lain sudah ditujuan sementara kita baru berangkat.

Usahakan kita berada di finish lebih dulu pada saat orang lain masih di perjalanan. Atau kita harus mampu menguasai dan menjawab masalah terlebih dahulu sebelum orang lain baru mempelajari menyelesaikan masalah. Kita sudah mampu menjawab tantangan perubahan disaat orang lain baru sadar ada perubahan.

Keunggulan kompetitif juga bermakna semangat untuk selalu berada didepan. Caranya kita harus menjadi orang-orang yang professional  harus bisa baca dan bisa belajar. Tidak bisa menjadi manusia unggul yang kompetitif namun tidak bisa baca dalam arti luas dan tidak mau belajar. Kita harus punya keinginan untuk memajukan diri dan memajukan umat yang unggul.harus ada tekad yang kuat serta harus mempunyai komitmen pada diri sendiri untuk menjadi manusia unggul.

Selanjutnya dalam tata kelola jangan konsentrasi pada manajemen,aturan dan administrasi semata karena semua itu hanya alat. Namun  harus konsentrasi pada mutu pembelajaran itu yang harus diutamakan. Sekarang ini ‘kan tidak, kepala sekolah hanya senang jika guru-gurunya membuat Rencana Program Pendidikan (RPP) sementara dia tidak peduli pada peserta didiknya mau pinter atau bodoh, malas atau rajin. Ia akan marah jika jika guru tidak bisa membuat RPP, padahal itu hanya masalah administrasi.

Ada kasus anak didik tidak boleh ikut belajar hanya karena si anak tidak memakai seragam, padahal sekolah bukan sekadar urusan seragam. Sekolah mengajarkan berpikir dan mengembangkan daya kreativitas bukan sekedar formalitas.

UU No. 14 tahun 1977 tentang pendidikan menyebutkan guru dan dosen itu harus profesional yang berorientasi pada mutu. Namun apakah profesional itu saat ini bisa diterapkan, sulit karena UU Pendidikan Nasional belum didesain menjadi UU yang profesional namun masih atau lebih menekankan pada aspek administrasi, birokrasi, dan kontrol. Sementara guru dituntut untuk profesional padahal sarana pembelajaran terbatas.

Guru juga terbatas untuk membangun profesional tersebut serta budaya belajar yang masih rendah. Ditambah adanya program pendidikan guru yang terkesan instan. Cukup enam bulan ikut pendidikan guru, lalu mendapat sertifikasi dicetak menjadi guru profesional dari mana pun latar belakangnya.

Apa itu yang dimaksud professional hanya karena beralih profesi dari seorang ahli tehnik, politik, ekonomi, dan sebagainya, lalu beralih profesi menjadi guru profesional hanya berbekal selembar surat keterangan sertifikasi yang didapat setelah mengikuti program pendidikan guru selama 6 bulan.

Semangat profesionalisme terganggung dengan program pendidikan guru yang hanya 6 bulan itu. Padahal keahlian itu bisa didapat dengan belajar sementara salah satu bekal menjadi guru professional itu dia harus mempunyai naluri kependidikan yang kuat.

Profesionalisme  untuk membuat sekolah unggul juga terganggu dengan struktur kepemimpinan. Kepala sekolah itu tidak disebut sebagai jabatan yang memiliki jabatan struktur profesional yang profesional itu guru.

Kepala sekolah itu guru yang mendapatkan jabatan tambahan, yang profesional itu gurunya yang berorientasi pada mutu, sementara kepala sekolah hanya menjalankan alokasi. Guru profesional menjalankan strategi yang telah dirumuskan.

Mesti Ada Pilihan

Untuk mengembangkan sekolah unggul mesti ada pilihan-pilihan yang terukur dan berujung pada putusan yang akurat. Akurat kalau dia menguasai  masalah, data. Keputusan yang tidak akurat atau tidak tepat akan bisa menyengsarakan orang banyak.

Contohnya dalam memutuskan Kurikulum 2013 ada yang belum match atau sinkron dengan yang ada dilapangan. Di atas sudah diputuskan sementara di tingkat bawah atau pelaksana belum siap.

Kultur dan kinerja guru ditambah budaya belajar siswa serta fasilitas belajar belum sepenuhnya siap menjalankan Kurikulum 2013. Masih berorientasi pada system politik dan konstektual belum berorientasi pada mutu pendidikan.

Manejemen pendidikan dan kebijakan harus diubah tidak bisa disamakan dengan yang sudah dan sedang berjalan atau kemarin. Kalau terlambat menyediakan factor-faktor tersebut dan terlambat menyiapkan alat dukungnya maka dikawatirkan anak didik akan menjadi korban.

Bandingkan dengan dunia kesehatan atau kedokteran biasanya uji coba terhadap obat menggunakan hewan. Sementara dalam dunia pendidikan ujicobanya langsung pada manusia atau khususnya anak-anak. Kalau hal ini belum siap kawatir yang menjadi korban itu anak. Anak ini manusia yang tidak bisa dijadikan alat uji coba, kalaupun ada riset maka sifatnya psudo (tidak murni) eksperimennya. Ini dari sudut kurikulum belum kita bicara yang lain.

Selain itu penting juga untuk dilakukan yakni merubah paradigma atau image tentang sekolah unggul. Selama ini ada kesan bahwa sekolah unggul itu gedungnya megah sehingga terlihat mewah, sekolah unggul itu harus mahal dan sebagainya. Padahal tidak demikiannya.

Umat Islam harus baca dan belajar sejarah banyak generasi-generasi unggul lahir dari lingkungan dan madrasah yang sederhana. Meski zaman telah berubah harusnya perubahan itu membawa kebaikan dan semangat belajar mereka bisa kita tiru dan praktekan saat ini.

Permasalahan dan Tantangan Umat  Islam

Umat Islam ini kurang peduli pada harga diri umat, seolah harga diri itu bisa diperoleh atau didapat dengan uang,jabatan dengan mengorbankan diri umat. Akibatnya, terjadi adanya perpecahan atau konflik dalam diri umat pada hal yang tidak penting.

Konflik antar umat Islam sejatinya tidak menguntungkan bagi masa depan anak-anak. Bagaimana bisa maju jika umat Islam masih terjebak hingga terbawa dalam debat-debat panjang pada hal-hal yang tidak asasi, hanya masalah-masalah teknis mapun nonteknis atau konflik kepentingan yang tidak membawa pada kemajuan umat.

Celakanya, yang berkonflik itu suka berlindung di balik ormas atau parpol sehingga seolah-olah ada konflik antar ormas atau kelompok padahal hanya konflik antar kepentingan pribadi. Untuk itu, hal-hal sepele demikian sudah saatnya umat Islam harus ditinggalkan, dihindari atau dijauhi paling tidak diminimalisir.

Yang harus dikedepan adalah sikap ukhuwah atau kerjasama antar sesama umat Islam apa pun ormasnya. Sehingga akan terwujud persatuan umat Islam yang bisa menjadi kekuatan besar dalam segala bidang kehidupan untuk kemajuan umat Islam itu sendiri.

Tantangan umat Islam dalam meningkatkan mutu pendidikan atau membuat sekolah unggul.

Pertama, masih tertinggal jauh dalam hal mendapatkan akses-akses informasi termasuk didalamnya sumber-sumber ilmu pengetahuan. Sadar atau tidak umat Islam kini soal sumber informasi dalam hal ini media-media atau teknologi informasi masih dikuasai dan dikelola oleh orang-orang non muslim.

Kalaupun ada umat Islam yang sampai menjadi mengelola, maka ia tidak mempunyai kebijakan apa-apa. Ia hanya seorang pekerja yang menjalankan perintah. Padahal di zaman sekarang kompetisi itu tidak hanya berlangsung di darat (nyata) melainkan sudah merambah udara (dunia maya) yang didalamnya terdapat sumber informasi, teknologi hingga ilmu pengetahuan. Kalau hal ini tidak dikuasai oleh umat Islam maka posisinya paling banter hanya di  posisi dua atau mungkin dibawah lagi.

Kedua, budaya sebagian besar umat Islam belum mempunyai budaya kerja keras dan cerdas. Ada yang kerja keras tapi tidak cerdas,hanya mengandalkan tenaga saja pun ada yang sudah cerdas, namun tidak mau bekerja lebih keras lagi, merasa cukup dengan hasil yang ada padahal jika sedikit mau kerja keras lagi maka hasilnya bisa berlipat-lipat dan bisa membawa  kemaslahatan umat yang lebih luas.

Allah SWT sudah menjanjikan dalam Al Quran (QS:94 :5,6,7): “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan) ,tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain)”.

Indikasi kerja keras dan cerdas adanya budaya mutu. Ada sekolah-sekolah atau perguruan tinggi yang telah memiliki standar mutu namun itu tidak ada artinya jika tidak mempunyai budaya mutu.

Dalam Islam sudah ada konsep-konsep yang jelas. Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw berpesan yang intinya jika engkau ingin dicintai Allah, jika engkau bekerja, maka baguskanlah pekerjaanmu. Ini adalah budaya mutu yang telah diajarkan oleh Rasulullah 14 abad yang lalu. Mengapa ada orang yang kerja keras lalu sukses? Bisa jadi ia dicintai oleh Allah.

Umat Islam harus memiliki semangat dan sikap kinerja yang bebas dari cacat dan kesalahan (zero the fact).

Ada baiknya jika mulai dari lingkungan PUI dulu dicanangkan hari kerja bebas dari cacat dan kesalahan (zero the fact day). Lalu di sekolah-sekolah atau lembaga pendidikan yang yang dimiliki diterapkan hari bebas komplain atau keluhan (zero complaint day),bebas dari keluhan siswa,orang tua dan masyarakat.

Jika sudah ada dalam lingkungan PUI maka insya Allah akan menular pada umat Islam lainnya dengan mencanangkan hari bebas dari dosa dan kemaksiatan (zero sin day).Walaupun dalam diri umat Islam sudah tertanam bahwa setiap hari hari harus bebas dari dosa dan kemaksiatan (everyday zero sin day), namun kenyataannya masih banyak dosa dan kemaksiatan.

Untuk itu, ada baiknya coba kita canangkan ada satu hari di mana  umat Islam berusaha tidak melakukan dosa dan kemaksiatan. Semua berlomba-lomba dalam amal shaleh dan kebajikan, dampaknya bisa luar biasa.

Salah satu kuncinya adalah nikmati pekerjaan itu sebagai bagian dari ibadah sehingga kita akan melakukan yang terbaik,mempersembahkan amal terbaik kita dihadapan Allah SWT. Dengan demikian kita akan bersungguh-sungguh dalam melakukan pekerjaan termasuk menjadi seorang guru atau pengajar.

Bekerja nikmati prosesnya, baca buku nikmati alurnya, shalat nikmati setiap bacaan dan maknanya. Jika kita sudah bisa menikmati segala sesuatunya maka apa yang kita kerjakan tidak lagi menjadi beban.

Model sekolah unggul berpotensi berdiri dilingkungan PUI,modal kuatnya adalah semnagat ukhuwwah. Sebenarnya sekolah unggulan sudah ada lingkungan PUI yang diperlukan adalah seperti yang telah disebutkan di atas,orientasi mutu,budaya mutu dan budaya kerja sehingga prestasinya bisa sejajar atau lebih baik lagi jika disbanding ormas lain. Bangunan maupun lembaga pedidikan sudah ada begitupun dengan asset yang ada tinggal memanfaatkan.

Hebatnya memperbaiki yang “bocor” lebih efektif dari merubah total atau membangun dari nol. Selain itu, modalnya juga adalah kepercayaan dari masyarakat yang sudah ada. Kader dan jamaah PUI harus mempunyai keyakinan atau sikap optimis bahwa kita mampu melahirkan kader-kader unggul lewat lembaga pendidikan unggul yang dimiliki PUI. Sehingga kelak mereka akan berkontribusi bangsa dan Negara  serta menjadi  kebanggaan umat Islam seperti generasi unggul terdahulu.

Secara SDM, PUI sudah mempunyai banyak kader-kader unggul atau intelektual muslim dalam beberapa bidang. Hal ini bisa menjadi modal yang besar untuk itu kader-kader unggul berbasis intelektual muslim PUI tersebut harus dimanfaatkan secara optimal.

Pencapaian PUI seperti yang terlihat dan rasakan sekarang ini berawal dari gagasan besar para pendirinya. Gagasan besar itu harus terus kita lanjutkan bersama dalam rangka turut serta mencerdaskan umat sehingga umat Islam maju dan unggul di segala bidang kehidupan termasuk dalam bidang pendidikan.*

Prof. Dr. H. Dedi Mulyasana, M.Si  adalah Guru Besar Manajemen Pendidikan dan Strategi Politik Universitas Islam Nusantara (Uninus), Ketua Prodi S3 Manajemen Pendidikan PPs Uninus, Ketua Dewan Pakar PW PUI Jabar.

Continue Reading

@ Copyright - Infokom DPW PUI Jabar