Connect with us

Embun Pagi

Allah Tujuan Pengabdian Kami

Published

on

Ilustrasi By Google
Oleh: Eka Hardiana (Ketua DPP PUI)
Wahai saudaraku yang mulia, target dakwah ini adalah mengajak manusia mengingat kembali hubungan manusia dengan Allah Ta’ala, yaitu hubungan yang kalau manusia melupakannya, maka Allah Ta’ala akan membuat mereka lupa pada diiri sendiri, 
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ  
“Wahai manusia, beribadahlah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, semoga kalian bertaqwa.” 
(QS. Al-Baqarah [2]: ayat 21)
Pada hakikatnya, inilah kunci awal bagi belenggu berbagai persoalan kemanusiaan yang diikaitkan oleh kejumudan (statis) dan matrealisme pada wajah seluruh manusia dan mereka tidak menemukan cara untuk melepasnya. Maka tanpa kunci awal ini, tidak akan ada perbaikan. (Risalah Dakwatuna fii Thaurin Jadid) (Zoom)
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Embun Pagi

KEHARUSAN TOBAT DAN KEUTAMAANNYA

Published

on

ilustrasi bg google

Oleh: H. Eka Hardiana

Tobat dalam Alquran

Tobat mendapat porsi perhatian yang sangat besar dalam Alquran, sebagaimana yang tertuang di berbagai ayat dari surat Makiyyah maupun Madaniyah, yang akan kita kupas pada tempatnya masing-masing dalam buku ini. 

Diantaranya yang paling jelas dan nyata adalah ,

يٰۤاَ يُّهَاالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْۤا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًا ۗ عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يُّكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيُدْخِلَـكُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ ۙ يَوْمَ لَا يُخْزِى اللّٰهُ النَّبِيَّ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ ۚ نُوْرُهُمْ يَسْعٰى بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَبِاَيْمَانِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَاۤ اَتْمِمْ لَـنَا نُوْرَنَا وَاغْفِرْ لَـنَا ۚ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ 

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak mengecewakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka berkata, Ya Tuhan kami, sempurnakanlah untuk kami cahaya kami dan ampunilah kami; sungguh, Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(QS. At-Tahrim [66]: Ayat 8)

Ini sekaligus merupakan seruan Ilahy terakhir di dalam Alquran yang ditujukan kepada orang-orang Mukmin. Dia memerintahkan agar mereka bertobat kepada Allah dengan sebenar-benarnya dan semurni-murninya, tulus dan benar.

Dasar hukum perintah Allah yang termuat di dalam Alquran menunjukkan kepada wajib, selagi tidak ada hal-hal yang mengalihkannya dari dasar ini. Sementara dalam masalah ini tidak ada yang mengalihkannya. Yang demikian ini diharapkan agar mereka mengharapkan dua tujuan yang fundamental, yang setiap orang Mukmin berusaha untuk meraihnya, yaitu:
1. Penghapusan kesalahan-kesalahan
2. Masuk ke surga 

Setiap orang Mukmin juga sangat memerlukan dua perkara ini, yaitu pengampunan dosa  dan penghapusan kesalahan. Sebab tidak ada seorang pun yang terlepas dari dosa dan kesalahan, selaras dengan konstruksi kemanusiannya, yang di dalam dirinya terkandung dua unsur yang saling berbeda. Unsur tanah bumi dan unsur ruh langit. Yang satu membelenggu untuk dibawa ke bawah, dan satunya lagi melepaskannya untuk dibawa ke atas. Yang pertama memungkinkan untuk menurunkannya ke kubangan binatang atau bahkan lebih sesat lagi jalannya, sedangkan yang kedua memungkinkan untuk mengangkatnya ke ufuk alam malaikat atau bahkan lebih baik lagi. Karena itu setiap manusia mempunyai peluang untuk melakukan keburukan dan berbuat dosa. Maka dia sangat membutuhkan taubatan nasuhan (tobat semurni-murninya), agar kesalahan-kesalahan yang telah dilakukannya terhapuskan.

Tujuan lain adalah harapan untuk masuk surga. Lalu siapakah yang tidak merasa perlu untuk masuk surga? 

Pertanyaan yang paling memasygulkan setiap orang adalah nasib perjalanannya di hari kemudian, apakah dia akan selamat pada hari kiamat ataukah akan celaka?

Apakah dia beruntung dan berbahagia ataukah menyesal dan menderita?

Keselamatan, keberuntungan dan kebahagiaan ada di surga, sedangkan kecelakaan, penyesalan dan pembertiaan ada di neraka.

Firman Allah Ta’ala, 

فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَاُدْخِلَ الْجَـنَّةَ فَقَدْ فَازَ  ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

“Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.”
(QS. Ali ‘Imran [3]: Ayat 185)

Ayat lain yang disebutkan dalam Alquran sehubungan dengan tobat ialah,

وَتُوْبُوْۤا اِلَى اللّٰهِ جَمِيْعًا اَيُّهَ الْمُؤْمِنُوْنَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.”
(QS. An-Nur 24: Ayat 31)

Di dalam ayat ini Allah memerintahkan agar semua orang Mukmin mau bertobat dan tidak ada pengecualian bagi siapa pun di antara mereka, seperti apa pun tingkat istiqamahnya, seperti apa pun derajatnya sebagai orang yang bertaqwa. Siapa pun perlu bertobat.

Di antara orang Mukmin ada yang bertobat dari dosa besar, karena dia merasa tersiksa dengan dosa yang dilakukannya dan dia bukan orang yang terlindung dari dosa (ma’shum). Di antara mereka ada yang bertobat dari dosa-dosa kecil yang diharamkan, dan jarang  sekali orang yang selamat dari dosa-dosa kecil ini. Di antara mereka ada yang bertobat dari syubhat. Sementara siapa yang menjauhi syubhat, berarti telah menyelamatkan agama dan kehormatan dirinya. Di antara mereka ada yang bertobat dari hal-hal yang dimakruhkan. Di antara mereka ada yang bertobat dari kelalaian yang selalu menghantui hati. Di antara mereka ada yang bertobat dari kondisinya yang senantiasa di bawah dan tidak pernah naik tingkatan yang lebih tinggi.

(Bersambung) 

Sumber:
Kitab At-Taubah IIallah, Dr. Yusuf Al-Qardhawy, Penerbit Maktabah Wahbiyah Cairo, cet 1 – 1998

Pamoyanan, 22 Sya’ban 1441 H / 16 April 2020 M (Zoom)
Continue Reading

artikel

KEHARUSAN TOBAT DAN KEUTAMAANNYA

Published

on

Ilustrasi by Google
EMBUN PAGI
Oleh: H. Eka Hardiana

Keharusan Taubat
Tobat dari dosa yang dilakukan orang Mukmin dalam perjalanannya kepada Allah, merupakan kewajiban beragama yang tak terelakan, diperintahkan Alquran Al-Karim dan dianjurkan sunnah Nabawy.

Semua ulama telah sepakat, baik ulama zhahiriyah, bathiniyah, fikih maupun pemerhati perilaku telah menyepakati hal ini. Sampai-sampai Sahl bin Abdullah berkata, “Siapa yang mengatakan bahwa tobat bukan wajib, maka dia adalah orang kafir, dan siapa yang setuju dengan pendapat ini, juga orang kafir. Tidak ada sesuatu yang lebih wajib bagi manusa selain dari tobat, tidak ada hukuman yang lebih keras daripada hukuman karena tidak ingin mengetahui masalah tobat. Padahal tidak sedikit manusia yang tidak menguasai ilmu tobat

[Bersambung]

Sumber:
Kitab At-Tauba IIallah, Dr. Yusuf Al-Qardhawy, Penerbit Maktabah Wahbiyah Cairo, cet 1 – 1998

Pamoyanan, 19 Sya’ban 1441 / 13 April 2020 (Zoom)
Continue Reading

artikel

WASPADA TERHADAP AKIBAT DOSA (Bagian Kelima)

Published

on

H. Eka Hardiana

EMBUN PAGI
Oleh: H. Eka Hardiana

Apabila Engkau Melihat Diakhirkannya Hukuman Akibat Kemaksiatan Maka Waspadalah!
Oleh karena itu, apabila engkau melihat kewibawaan telah sirna maka ketahuilah bahwa penyebabnya adalah dosa.
“Terkadang, seseorang menjadi sangat lemah pada masa tuanya sehingga hati merasa kasihan kepadanya, sedang dia tidak tahu bahwa itu disebabkan karena kelalaiannya terhadap hak Allah di masa mudanya. Maka, apabila engkau melihat seseorang terkena hukuman maka ketahuilah bahwa itu disebabkan karena dosa.”
[Shaidul Khathir. Hal. 16] 
Apabila engkau melihat seseorang tidak merasa tinggi dengan ketaatan atau melihat seseorang yang tidak bersedih dengan kerendahan yang disebabkan kemaksiatan yang telah diperbuat maka ketahuilah bahwa telah tiba saat kematian hatinya. Maka, berta’ziyahlah (mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un) kepadanya.
Dikatakan kepada Said bin Al-Musayyib, “Abdul Malik bin Marwan berkata, ‘Aku sekarang tidak bergembira dengan kebaikan yang aku kerjakan dan tidak bersedih  dengan kejelekan yang aku langgar,” Beliau pun berkata, “Sekarang tibalah kematian hatinya.”
Apabila engkau melihat diakhirkannya hukuman akibat kemaksiatan maka waspadalah!
Karena, terkadang, hukumannya tidak nampak olehmu. Seorang alim dari Bani Israil berkata, “Wahai Rabb-ku, berapa kali aku bermaksiat kepada-Mu namun Engkau tidak menghukumku?” Maka dikatakan kepadanya, “Berapa kali Aku menghukummu tetapi kamu tidak menyadarinya. Bukankah Aku telah menghalangimu dari merasakan nikmatnya bermunajat kepada-Ku?”
[Shaidul Khathir. Hal. 55]
Dari uraian di atas, tampaklah bahaya dan akibat dosa.
“Dosa bagaikan luka. Betapa banyak luka yang menyebabkan kematian.”
[Al-Fawa’id. Ibnu Qayim, hal 41].
“Hai, orang yang penuh luka  dosa! Kalian telah mengetahui dari luka tersebut maka obatillah luka-luka dosamu. Orang yang mempunyai tekad bulat, pantang ragu dalam melangkah  Kapankah tekad menjadi bulat?” Menangislah karena gelapnya hatimu, semoga menjadi terang.”
[Al-Mawa’idh wa Al-Majalis. Ibnul Jauzi, hal 98]
“Tidak ada air yang mampu membersihkan bekas-bekas dosa dari pakaian hati kecuali air mata. Apabila percikan air tidak mampu menghilangkan bekas tersebut maka harus menimba air dari lautan pengakuan. Datangilah majelis para mujtahid dan serulah mereka: berbahagialah atas air yang kalian peroleh untuk menyirami hati kalian dan kasihanilah orang yang belum mendapatkannya.”
[Al-Mawa’idh wa Al-Majalis. Ibnul Jauzi, hal 26]
Bersegeralah dan bergegaslah, waspada dan cepatlah karena, “Jatuhnya dosa pada hati adalah bagaikan jatuhnya minyak pada pakaian. Apabila engkau tidak segera mencucinya maka dia akan menyebar.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَاِنَّ مِنْكُمْ لَمَنْ لَّيُبَطِّئَنَّ …
“Dan sesungguhnya di antara kamu pasti ada orang yang sangat enggan (ber-lambat-lambat).”
(QS. An-Nisa’ [4]: Ayat 72)
(Bersambung)
Sumber:
Kitab Lamhah Tarbawiyah min Hayah At-Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal (Edisi Indonesia, Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in)
Pamoyanan, 8 Sya’ban 1441 H/2 April 2020 M (Zoom)
Continue Reading

@ Copyright - Infokom DPW PUI Jabar