Connect with us

Kajian

Posisi Rasul ﷺ Bagi Umatnya

Published

on

Dr. H. Wido Supraha (Sekretaris Departemen Dakwah PUI Pusat)

Sebuah kenikmatan besar bagi umat manusia adalah ketika Allah ﷻ mengutus seorang manusia pilihan-Nya untuk menjadi Nabi sekaligus Rasul, dan sekaligus menutup mata rantai kenabian dalam skenario kehidupan yang fana ini. Kehadiran Nabi Muhammad ﷺ secara khusus adalah untuk memenangkan Islam di atas seluruh manhaj kehidupan yang ada, sehingga umatnya didorong untuk terus pro-aktif menjadi ‘misionaris’ ajaran yang haq untuk keselamatan alam dan seisinya. Ini bermakna, jika umatnya memilih untuk bersikap pasif atau egoisme pribadi, maka sejatinya ia telah mendukung tegaknya manhaj kehidupan selain Islam.
🕋 Allah berfirman,
هُوَ ٱلَّذِىٓ أَرۡسَلَ رَسُولَهُ ۥ بِٱلۡهُدَىٰ وَدِينِ ٱلۡحَقِّ لِيُظۡهِرَهُ ۥ عَلَى ٱلدِّينِ ڪُلِّهِۦ وَلَوۡ ڪَرِهَ ٱلۡمُشۡرِكُونَ
Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya [dengan membawa] petunjuk [Al Qur’an] dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. (Q.S. At-Taubah/9:33)
🔑 📌Al-Imām Ibn Jarīr ath-Thabarī menegaskan di dalam kitab tafsirnya (Jāmi’ al-Bayān an Ta’wīl ayi al-Qur’ān), agar Islam lebih tinggi, melebihi agama-agama lainnya.
📌 Maka tiada lain pilihan bagi kaum muslimin kecuali turut berkontribusi memenangkan pertarungan sebenarnya di dunia agar Islam yang sejatinya telah tinggi, betul-betul ditinggikan di dunia, dan agar dengan kontribusi yang diberikan, kaum muslimin juga berharap ditinggikan posisinya di Jannah. Oleh karenanya, selain penting untuk melahirkan motivasi yang kuat, juga tidak lebih penting memelihara amalan yang telah dilahirkan. Di antara cara untuk memeliharanya adalah dengan memiliki ma’rifah yang benar tentang bagaimana memposisikan pribadi Nabi Muhammad ﷺ dalam konteks kehidupan di dunia.
1⃣ Nabi Muhammad ﷺ adalah tetap seorang hamba di antara seluruh hamba Allah ﷻ.
Pemahaman ini akan membawa keyakinan bahwa Islam yang diajarkan dan diamalkan beliau tentulah Islam yang juga akan bisa diamalkan oleh manusia hingga akhir zaman, karena agama ini memang diperuntukkan khususnya bagi manusia, dan telah diteladankan dengan sempurna juga oleh manusia pilihan yang hidup di tengah manusia, dan berinteraksi dengan manusia. Sebagai seorang manusia, tentunya Nabi Muhammad ﷺ memiliki seluruh sifat-sifat kemanusiaan (إنسانا), sebagaimana ia memiliki nasab (نسبا) yang jelas, dan rupa fisik (جسما) yang sangat dihafal oleh para sahabat-sahabatnya. Seluruh perjalanan hidupnya terekam dengan sangat apik dan diwariskan kepada kita melalui tangan-tangan para ulama dalam bentuk ‘Sejarah Kehidupan Nabi ﷺ’ (سيرة النبوية), dan sangat penting untuk dimiliki dan dipelajari oleh para penuntut ilmu, di tengah kesibukannya mempelajari Al-Qur’an dan As-Sunnah, agar semakin terang bagi dirinya, bagaimana cara Nabi ﷺ dalam membumikan Islam di dunia, dan ini yang disebut dengan Metode Dakwah (فقه الدعوة). Dengan demikian posisi Nabi Muhammad ﷺ sebagai manusia adalah sumber ilmu tersendiri bagi para penuntut ilmu.
🕋 Allah ﷻ berfirman,
قُلۡ إِنَّمَآ أَنَا۟ بَشَرٌ۬ مِّثۡلُكُمۡ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلَـٰهُكُمۡ إِلَـٰهٌ۬ وَٲحِدٌ۬‌ۖ فَمَن كَانَ يَرۡجُواْ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلاً۬ صَـٰلِحً۬ا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦۤ أَحَدَۢا
Katakanlah (Wahai Muhammad): “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.
📌 Bagi seorang mukmin, mencintai apa yang dicintai Nabi Muhammad ﷺ sebagai manusia masuk sebagai bagian dari keutamaan. Termasuk dalam hal ini, pilihan beliau untuk menikah, memilih warna pakaian, membantu pekerjaan rumah tangga, dan pilihan-pilihan lainnya.
2⃣ Nabi Muhammad ﷺ, kehidupan pribadinya menghadirkan Sunnah.
Sunnah merupakan seluruh perkataan, perbuatan hingga diam dan ketetapannya Nabi ﷺ dalam seluruh perbuatan para sahabat-sahabatnya pada khususnya. Terekamnya Sunnah dan terverifikasinya secara mendetail dan tersampaikannya kepada kita adalah karunia besar tersendiri, sehingga menjadi terang bagi umatnya bagaimana menghukumi dan bagaimana hukum sesuatu (فقه الأحكام), bagaimana membedakan antara pilihan kehidupan (wasa-il al-hayah) dan pedoman utama kehidupan (minhaj al-hayah).
🕋 Allah ﷻ berfirman,
وَمَآ أَرۡسَلۡنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذۡنِ ٱللَّهِ‌ۚ وَلَوۡ أَنَّهُمۡ إِذ ظَّلَمُوٓاْ أَنفُسَهُمۡ جَآءُوكَ فَٱسۡتَغۡفَرُواْ ٱللَّهَ وَٱسۡتَغۡفَرَ لَهُمُ ٱلرَّسُولُ لَوَجَدُواْ ٱللَّهَ تَوَّابً۬ا رَّحِيمً۬ا (٦٤) فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِىٓ أَنفُسِہِمۡ حَرَجً۬ا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسۡلِيمً۬ا (٦٥)
Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul, melainkan untuk dita’ati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul-pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Maka demi Tuhanmu, mereka [pada hakikatnya] tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (Q.S. An-Nisā’/4:64-65)
📌 Ketika Nabi Muhammad ﷺ telah tiada di kalangan manusia, kewajiban bagi umatnya untuk menjadikan beliau sebagai hakim tidak pernah hilang. Namun, jika dahulu para sahabat bisa bertanya langsung atau bertanya kepada para sahabat yang telah pernah bertanya kepada beliau, maka umat hari ini harus memiliki kelengkapan alat dan metodologi yang benar agar tetap dapat menjadikannya hakim. Dalam hal ini umat tidak bisa mencukupkan kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah semata, namun dibutuhkan perangkat lain agar dapat memahami kedua warisan utama tersebut, sehingga tidak keliru di dalam menghukumi sesuatu. Kelengkapan itu di antaranya adalah Ijma’, Qiyas, Mashalih Mursalah, dan Ijtihad para ‘ulama selaku pewaris Nabi.
3⃣ Nabi Muhammad ﷺ adalah seorang Rasul di antara para Rasul yang telah pernah diutus Allah ﷻ di atas muka bumi. Sebagai seorang Rasul, selain memiliki kekhususan mu’jizat, dan dibekali dengan risalah, beliau menyampaikan risalah (بلغ الرسالة), menunaikan amanah (أدى الأمانة), dan memimpin umat (إمام الأمة) menuju cita-cita besarnya, meninggikan kalimat Allah ﷻ. Seluruh aktivitas beliau disebut sebagai Aktivitas Kenabian, (الدعوة النبوية) dan darinya bagaimana umatnya melanjutkan Aktivitas yang telah dimulainya dengan merujuk kepada sejarah hidup beliau sebagai seorang Rasul (فقه السيرة).
🕋 Allah ﷻ berfirman,
وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ۬ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِ ٱلرُّسُلُ‌ۚ أَفَإِيْن مَّاتَ أَوۡ قُتِلَ ٱنقَلَبۡتُمۡ عَلَىٰٓ أَعۡقَـٰبِكُمۡ‌ۚ وَمَن يَنقَلِبۡ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ فَلَن يَضُرَّ ٱللَّهَ شَيۡـًٔ۬ا‌ۗ وَسَيَجۡزِى ٱللَّهُ ٱلشَّـٰڪِرِينَ
Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang [murtad]? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (Q.S. Ali ‘Imrān/3:144)
💦 Semoga Allah ﷻ memberikan taufiq-Nya kepada seluruh kaum mukminin untuk sentiasa istiqomah di dalam meneladani Nabi Muhammad Saw dalam seluruh kehidupan kemanusiaannya, di dalam mentaati Nabi Muhammmad dalam seluruh warisan ke-Rasulannya, serta memudahkan kita di dalam mengambil keputusan yang tepat pada setiap kondisi yang menuntut kita untuk dapat memposisikan dengan cara yang paling sesuai. Wallaahul musta’an. (Zoom)
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kajian

Qiyāmullail Menolak Adzab Mengundang Rahmat

Published

on

Oleh : Dr. Wido Supraha (Wakil Ketua DPP PUI)
Qiyāmullail menolak adzab, demikianlah pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah mimpi Abdullāh ibn ‘Umar r.a. ketika usia muda belia, yang pernah diceritakannya kepada Hafshah r.a., dan Hafshah r.a. menceritakannya kepada Nabi , tentang diperlihatkannya Neraka. Ketika itu, Nabi justru menjawab makna mimpi tersebut dengan memotivasi Ibn ‘Umar r.a. agar selalu qiyāmullail, berdiri di setiap malam sambil membaca Al-Qur’ān dan menikmati kandungannya, qiyām ma’a Al-Qur’ān.

Jika Nabi Muhammad diwajibkan untuk selalu qiyāmullail, sebagaimana Surat Al-Isrā’ [17] ayat 79, agar menempati Tempat Terpuji (al-Maqām al-Mahmūd), tempat beliaumemohonkan syafa’atnya bagi umatnya, maka siapapun yang mengikuti Nabi dalam qiyāmullail tentu akan mendapatkan pujian dari Allāh sebagaimana Surat As-Sajdah [32] ayat 16 dan Surat Adz-Dzāriyat [51] ayat 17, yaitu digelari dengan muhsinin sebagai ciri keimanan dan ketakwaan. 

Ilustrasi by Google

Nikmatilah qiyāmullail sebagaimana Nabi menikmatinya hingga bengkak kedua telapak kaki beliau . Begitu begitu menikmatinya, sehingga terkadang beliau membaca Surat Al-Baqarah, An-Nisā dan Āli ‘Imrān dengan tartil, penuh pemaknaan, di rakaat pertama qiyam-nya. Terkadang cara beliau menikmati qiyām-nya dengan mengulang-ulang satu ayat sepanjang malamnya, baik ketika berdiri, ruku’, sujud dan berdo’a, seperti ketika membaca Surat Al-Māidah [5] ayat 118.

Keshalihan individu didorong untuk melahirkan keshalihan sosial. Setiap manusia yang telah merasakan nikmatnya qiyāmullail secara individu didorong untuk membagi kenikmatan itu kepada orang-orang terdekatnya, dimulai dari keluarganya, seperti istri, anak bahkan menantu, sebagaimana perintah Allah dalam Surat Thaha [20] ayat 132. Suami yang selalu berusaha membangunkan istrinya, seperti dengan memercikkan air ke wajah istri tercintanya, sehingga mereka berdua dapat melakukan qiyāmullail berjama’ah akan mendapatkan tambahan gelar: adz-Dzākirīn wa adz-Dzākirāt. Begitu pun teladan Nabi yang membangunkan Ali r.a. dan Fathimah r.a. untuk mengerjakan qiyāmullail menegaskan mulianya saling tolong-menolong (ta’āwun) dalam kebaikan dan ketakwaan.

Meraih nikmatnya beribadah harus menjadi keinginan kuat hamba Allah yang pandai bersyukur. Membiasakan tidur di awal malam agar dapat bangun di ⅓ akhir malam untuk menikmati kandungan bacaan Al-Qur’an-nya sembari menguatkan hafalan (murāja’ah) adalah kebiasaan orang-orang shalih. Kenikmatan yang dampaknya tidak saja melahirkan kesehatan jiwa namun juga kesegaran jasad di sepanjang hari itu.

Mengejar kualitas qiyāmullail adalah lebih utama daripada sekedar kuantitas jumlah raka’at. Jika mengantuk maka boleh ditidurkan kembali sekedar untuk menghilangkan rasa kantuk dan agar proses tadabbur Al-Qur’ān tetap dapat berjalan baik. Setiap manusia tentu memiliki kebiasaan qiyāmullail yang tidak sama dalam hal kuantitas dan kualitas, namun tetaplah bertahan dalam menjaga kebaikan yang telah dimulai seperti merutinkan qiyāmullail ini, karena meninggalkan kebiasaan baik adalah sebuah kehinaan. 

Seorang laki-laki yang berat menegakkan qiyāmullail tanpa adanya udzur adalah karena disebabkan kedua telinganya yang dikencingi syaithan paska melilitkan 3 (tiga) ikatan pada diri manusia. Ketiga ikatan ini hanya bisa dilepas dengan berusaha bangun di waktu malam sembari mengingat Allāh , berwudhu dan kemudian qiyāmullail. Tegakkanlah qiyāmullail meskipun hanya witir sebelum tidur. Tegakkanlah qiyāmullail meskipun hanya sempat shalat witir satu rakaat menjelang masuk waktu Subuh.

Tidak saja menolak adzab Allāh, kebiasaan manusia membagi salam dan makanan di siang hari, dilanjutkan qiyāmullail di waktu manusia sedang tidur, akan mengundang rahmat-Nya dan memasukkan pengamalnya ke Jannah dengan penuh kedamaian. Oleh karenanya, qiyāmullail adalah shalat yang afdhal setelah shalat wajib (fardhu), sementara qiyāmullail yang afdhal adalah yang paling lama berdirinya.

Kebiasaan qiyāmullail akan melahirkan pola tidur Muslim dalam 3 (tiga) waktu yakni tidur di awal malam, dilanjutkan paska qiyāmullail sambil menanti Subuh (jika dibutuhkan), serta tidur menjelang Zhuhr yang disebut qailulah (jika mudah dikerjakan), sebagaimana surat An-Nūr [24] ayat 58. Kehidupan harian seorang Muslim fāqih dengan demikian sejatinya telah dimulai sekitar kurang dari pukul 2 (dua) dinihari, karena ⅓ (sepertiga) akhir malam dimulai di waktu ini. Di waktu inilah ia mulai mencari waktu yang paling mustajab sambil berdiri dan ia pun menyempurnakannya dengan banyak memohon ampun (istighfār) di waktu sahur.

Sekali lagi, menikmati qiyāmullail harus menjadi target utama. Agar tidak cepat lelah, hendaknya memulai malam dengan 2 (dua) raka’at yang ringan. Begitu utama keutamaan qiyāmullail sehingga ketika karena sesuatu hal seseorang tidak dapat meninggalkannya dibolehkan menggantinya dengan 12 (dua belas) rakaat di di siang hari. Begitu utama bacaan Al-Qur’an di kala qiyāmullail, sehingga tatkala suatu malam ia tertidur sehingga tidak dapat membaca bagian (hizb) yang direncanakannya, maka dapat diganti dengan membacanya di antara waktu Subuh dan Zhuhr, insyā Allāh akan mendapatkan pahala yang sama. Wallāhu a’lam. (Zoom)
Continue Reading

Berita UPZ

Sedekah Subuh, Sedekah Harian Anda dan Keluarga

Published

on

Nah, di antara sekian banyak waktu dalam sehari, subuh merupakan saat yang paling utama untuk bersedekah. Sedekah subuh, begitu orang-orang biasa menyebutnya. Keutamaan sedekah pada waktu subuh tertuang dalam hadis yang artinya:
“Tidak ada satu subuh pun yang dialami hamba-hamba Allah kecuali turun kepada mereka dua malaikat. Salah satu di antara keduanya berdoa, ‘Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak’, sedangkan yang satunya lagi berdoa ‘Ya Allah, berilah kerusakan bagi orang yang menahan hartanya.” – HR. Bukhari & Muslim
1. Didoakan Malaikat
Dari hadis di atas diketahui bahwa siapa pun yang melaksanakan sedekah subuh, maka baginya kemudahan rezeki. Sebaliknya, malaikat mendoakan kebinasaan dan kebangkrutan pada siapa saja yang tidak mau berinfak dan menyumbangkan sebagian hartanya.
2. Dilipat Gandakan Hartanya
Berbagi tidak akan membuat kamu miskin. Begitu juga jika kamu rutin melakukan sedekah subuh. Membiasakan diri bersedekah justru akan mendatangkan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka, dengan jumlah yang berlipat banyaknya. Seperti firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah: 261 yang artinya,
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah maha luas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui.” 
3. Menghapus Dosa
Sedekah adalah amalan tambahan yang dapat menghapus dosa. Kalau kamu ingin diampuni dari segala dosa dan kesalahan, banyak-banyaklah bersedekah, terutama saat subuh. “Sedekah dapat menghapus dosa sebagimana air memadamkan api.” (H.R. Tirmidzi)
4. Menolak Bala dan Su’ul Khotimah
Tak ada seorang pun yang ingin mati dalam keadaan su’ul khotimah. Pun semua orang pasti mendambakan hidup yang penuh ketenangan, kebahagiaan, dan kenyamanan. Namun, musibah dan hal buruk lain bisa datang kapan saja.
Dengan melakukan sedekah subuh rutin, kamu akan terhindar dari segala macam kemalangan dan akhir yang buruk (su’ul khotimah). Kematian mendadak juga bisa dicegah dengan bersedekah secara rutin. Nabi bersabda, “Obatilah orang-orang yang sakit dari kalian dengan sedekah. Sesungguhnya sedekah itu dapat meredam murka Allah, dan menolak kematian yang buruk.” (HR. Tirmidzi)
Ini Keutamaan Mengamalkan Sedekah Subuh secara Rutin
“Kamu sekali-kali tidak akan sampai mencapai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menginfakkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa yang kamu infakkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” Ali Imran: 93
Mengapa Harus Perbanyak Sedekah Subuh?
Sedekah subuh memiliki keutamaan dibandingkan sedekah pada waktu lainnya. Saat sebagian orang masih terlelap, kamu sudah sibuk meraih ridha Allah SWT dengan bersedekah. Tak selalu berupa uang, sedekah subuh juga bisa dilakukan dengan berzikir, membagi makanan, mengajar ngaji, atau melakukan kebajikan lain yang bersifat sosial. Sedekah subuh dimulai sejak azan subuh sampai terbit fajar. Lakukan sedikit demi sedikit sampai kamu bisa konsisten setiap hari.

Rekening Donasi:
Bank Syari’ah Mandiri
Nomor Rekening : 770 002 2247
an. UPZ PUI Jabar
Konfirmasi transfer via SMS/WA ke Nomor wa.me/6285651070313
an. Admin UPZ PUI Jawa Barat

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
#upz #upzpui #upzpuijabar #ramadhan #puasa #ramadan #lebaran #ramadhankareem #islam #muslim #dirumahaja #hijrah #indonesia #idulfitri #muslimah #covid #ramadhantiba #sunnah #like #hijab #corona #dakwah #puasaramadhan #bukapuasa #quran #raya #marhabanyaramadhan #umroh
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
sumber: kitabisa.com (Zoom)

Continue Reading

Kajian

Sambutlah Ramadhan Dengan Kegembiraan

Published

on

Ilustrasi by Google

Hari ini adalah hari yang paling dinanti oleh setiap muslim di seluruh dunia. Dimana datangnya bulan yang  penuh dengan keberkahan, penuh dengan ampunan, penuh dengan Keistimewaan. Alangkah bahagianya kita bisa dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan. Marhaban yaa Ramadhan, Marhaban Yaa Syahrul Syiyam, Marhaban Yaa Syahrul Maghfirah.

Allah berfirman dalam Quran Surat Al-Baqarah 2:183.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Terjemah : Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

Tafsir Kemenag
Para ulama banyak memberikan uraian tentang hikmah berpuasa, misalnya: untuk mempertinggi budi pekerti, menimbulkan kesadaran dan kasih sayang terhadap orang-orang miskin, orang-orang lemah yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, melatih jiwa dan jasmani, menambah kesehatan dan lain sebagainya. Uraian seperti di atas tentu ada benarnya, walaupun tidak mudah dirasakan oleh setiap orang. Karena, lapar, haus dan lain-lain akibat berpuasa tidak selalu mengingatkan kepada penderitaan orang lain, malah bisa mendorongnya untuk mencari dan mempersiapkan bermacam-macam makanan pada siang hari untuk melepaskan lapar dan dahaganya di kala berbuka pada malam harinya. Begitu juga tidak akan mudah dirasakan oleh setiap orang berpuasa, bahwa puasa itu membantu kesehatan, walaupun para dokter telah memberikan penjelasan secara ilmiah, bahwa berpuasa memang benar-benar dapat menyembuhkan sebagian penyakit, tetapi ada pula penyakit yang tidak membolehkan berpuasa.
Kalau diperhatikan perintah berpuasa bulan Ramadan ini, maka pada permulaan ayat 183 secara langsung Allah menunjukkan perintah wajib itu kepada orang yang beriman. Orang yang beriman akan patuh melaksanakan perintah berpuasa dengan sepenuh hati, karena ia merasa kebutuhan jasmaniah dan rohaniah adalah dua unsur yang pokok bagi kehidupan manusia yang harus dikembangkan dengan bermacam-macam latihan, agar dapat dimanfaatkan untuk ketenteraman hidup yang bahagia di dunia dan akhirat.
Pada ayat 183 ini Allah mewajibkan puasa kepada semua manusia yang beriman, sebagaimana diwajibkan kepada umat-umat sebelum mereka agar mereka menjadi orang yang bertakwa. Jadi, puasa sungguh penting bagi kehidupan orang yang beriman. Kalau kita selidiki macam-macam agama dan kepercayaan pada masa sekarang ini, dijumpai bahwa puasa salah satu ajaran yang umum untuk menahan hawa nafsu dan lain sebagainya. Perintah berpuasa diturunkan pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijri, ketika Nabi Muhammad saw mulai membangun pemerintahan yang berwibawa dan mengatur masyarakat baru, maka dapat dirasakan, bahwa puasa itu sangat penting artinya dalam membentuk manusia yang dapat menerima dan melaksanakan tugas-tugas besar dan suci. (quran.kemenag.go.id)


Marilah kita sambut Ramadhan dengan:

a.    Berpuasa dengan hati yang suka cita,
b.    Bersemangat dalam Menunaikan Ibadah Wajib
c.    Menghidupkan Setiap Waktu dengan Ibadah Sunnah
d.    Sering Berinteraksi dengan Alquran
e.    Menyantuni Dhuafa, Faqir dan Miskin

Allah SWT Berfirman dalam Surat Yunus 10: 58

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

Terjemah :
Katakanlah (Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”

Tafsir Kemenag
Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar mengatakan kepada umat-Nya bahwa rahmat Allah adalah karunia yang paling utama, melebihi keutamaan-keutamaan lain yang diberikan kepada mereka di dunia. Oleh sebab itu, Allah memerintahkan agar mereka bergembira dan bersyukur atas nikmat yang mereka terima, yang melebihi kenikmatan-kenikmatan yang lainnya.
Kegembiraan orang-orang mukmin karena berpegang teguh kepada Al-Qur’an digambarkan dalam ayat lain sebagai berikut: Allah berfirman: Dan pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman. (ar-Rum/30: 4) Dan firman-Nya: Dan orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka bergembira dengan apa (kitab) yang diturunkan kepadamu (Muhammad). (ar-Rad/13: 36) Dikatakan bahwa karunia Allah dan Rahmat-Nya lebih baik dari yang lain, yang dapat mereka capai, karena karunia Allah dan rahmat-Nya yang terpancar dari Al-Qur’an adalah kekal untuk mereka, sedangkan kenikmatan yang lain bersifat fana dan sementara, yang hanya dapat mereka rasakan selama mereka mengarungi kehidupan di dunia saja, apabila mereka kembali ke alam baka, kenikmatan yang dapat mereka kumpulkan di dunia itu tidak berguna lagi bagi mereka.(quran.kemenag.go.id)
Hadis Nabi:

أتاكم رمضان شهر مبارك. فرض الله عز وجل عليكم صيامه , تفتح فيه أبواب السماء , وتغلق فيه أبواب الجحيم , وتغلّ فيه مردة الشياطين , لله فيه ليلة خير من ألف شهر , من حرم خيرها فقد حرم

Telah datang kepada kalian ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah wajibkan kepada kalian puasa di bulan ini. Di bulan ini, akan dibukakan pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan nakal akan dibelenggu. Demi Allah, di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala di malam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan. (HR. Ahmad, Nasai 2106, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). 
Diambil dari: Silabus, Talim dan Ceramah Ramadhan (Zoom)
Continue Reading

@ Copyright - Infokom DPW PUI Jabar