Connect with us

Kajian

Khutbah Idul Adha 1440H: Beramallah Penuh Pengorbanan

Published

on

Oleh: Dr. Wido Supraha (Departemen Dakwah PUI Pusat)
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
اللهُ أَكْبَر/ اللهُ أَكْبَر/ اللهُ أَكْبَر/ اللهُ أَكْبَر/ اللهُ أَكْبَر/ اللهُ أَكْبَر/ اللهُ أَكْبَر/ اللهُ أَكْبَر/ اللهُ أَكْبَر
اللهُ أَكْبَر خَلَقَ الْخَلْقَ وَأَحْصَاهُمْ عَدَداً، وَكُلُّهُمْ آتِيْهِ يَوْمَ القِيَامَةِ فَرْداً، اللهُ أَكْبَر عَزَّ رَبُّنَا سُلْطَاناً وَمَجْداً، وَتَعَالى عَظَمَةً وَحُلْماً، عَنَتْ الوُجُوْهُ لِعَظَمَتِهِ وَخَضَعَتْ الخَلَائِقِ لِقُدْرَتِهِ، اللهُ أَكْبَر مَا ذَكَرَهُ الذَّاكِرُوْنَ، اللهُ أَكْبَر مَا هَلَّلَ الْمُهَلِّلُوْنَ، اللهٌ أَكْبَر كَبِيْراً وَالْحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْراً وَسُبْحَانَ اللهُ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً.
الْحَمْدُ لِلّهِ الَّذِيْ سَهَّلَ لِعِبَادِهِ طُرُقَ الْعِبَادَةِ، وَتَابَعَ لَهُمْ مَوَاسِمَ الْخَيْرَاتِ لِتَزْدَانِ أَوْقَاتِهِمْ بِالطَّاعَاتِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إِلّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبَ الْوَجْهِ الأَنْوَرِ وَالْجَبِيْنِ الْأَزْهَرِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلى آلِهٍ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً. أَمَّا بَعْدُ:
فَيَاعِبَادَ اللهِ، أُوْصِي نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَظِيْمِ، وَأَحُثُّكُمْ عَلَى طَاعَةِ اللهِ الْكَرِيْمِ.
Ma’asyir al-muslimīn rahīmanī wa rahīmakumullāh,
Pagi ini, kenangan kisah Ibrahim a.s. kembali mendobrak alam bawah sadar kita, sudahkah kita menggantungkan diri hanya kepada Allah SWT.
Pagi ini, kenangan akan Ibrahim a.s., pemimpin di masa ribuan tahun lalu itu kembali mengingatkan kita untuk menjadi manusia yang siap berkorban untuk Dzat Tercinta, Allah SWT.
Pagi ini, kenangan pelayanan kepada umat dari moyang Rasulullah SAW itu menggerakkan seluruh sendi jasad kita untuk bisa meneladani Sang Kekasih Allah, Khalīlullāh, Ibrahim a.s.
Pagi inilah puncak tahunan dari kumandang Shalawat Ibrahimiyah yang sentiasa kita lantunkan dalam shalat-shalat kita untuk meraih fadhilahnya:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كما صَلَّيْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ وعلى آلِ إبْراهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كما بَاركْتَ عَلَى إبْرَاهِيمَ وَعَلَى آل إبراهيم في العالَمِينَ إنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
ALLAHU AKBAR 3X
Ma’āsyir al-muslimīn rahīmanī wa rahīmakumullāh,
Renungkanlah Saudaraku, tidak lahir kepemimpinan sejati kecuali setelah melewati ujian demi ujian dalam kehidupannya, dengan penuh kesabaran, ketaatan, dan kebersegeraan. Ujian adalah cara Allah untuk meningkatkan kapasitas hamba-Nya.
Bukankah 3 (tiga) model kepemimpinan dalam Juz 1, ditutup dengan kisah kepemimpinan yang ideal di Rubu’ ke-8 (ayat 124-141), yakni kepemimpinan Ibrahim a.s., baik kepemimpinan pada dirinya sendiri, keluarganya, dan juga pada umatnya. Allah SWT menetapkan beliau sebagai pemimpin manusia setelah beliau membuktikan penghambaan kepada-Nya melalui ragam ujian kehidupan, sebagaimana potongan Surat Al-Baqarah [2] ayat 124:

۞وَإِذِ ٱبۡتَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِيمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٖ فَأَتَمَّهُنَّۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامٗاۖ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”.
Renungkanlah Saudaraku, bagaimana ujian itu telah dialami Ibrahim a.s. sejak dilahirkan seorang diri dalam ketauhidan di tengah ekosistem masyarakat kemusyrikan. Benar, bahwa buah tidak jatuh jauh dari pohonnya, namun begitu, bukankah kebanyakan belum tentu menjadi standar kebenaran. Akal Ibrahim a.s. di masa muda membawanya pada pengembaraan pencaharian tuhan, sebuah proses Ishlahul ‘Aqidah. Bintang-bintang, bulan, hingga matahari tak mampu memuaskan intelektualnya, sehingga sampailah ia pada kesimpulan paripurna yang sulit dicapai oleh generasi agnostik, bahwa sesuatu yang tidak empirik belum tentu tidak ada. Ia menyadari bahwa matanya, terlalu kecil dibandingkan Bumi tempat tinggalnya, padahal Bumi sendiri terlalu kecil dibandingkan galaksi tempatnya berada. Sementara Allah Maha Menciptakan seluruh galaksi di alam semesta ini. Ibrahim a.s. pun dengan mantap menghadapkan wajahnya kepada Allah, sebagaimana Surat Al-An’am [6] ayat 79:

إِنِّي وَجَّهۡتُ وَجۡهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ حَنِيفٗاۖ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ

Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.
Masa muda Ibrahim a.s. mengajarkan kepada para pemuda akhir zaman bahwa tidak boleh ada umur yang diisi penuh dengan kesia-siaan. Pemuda yang tidak menggunakan titipan akal dalam dirinya, tidak akan mampu meraih ilmu. Pemuda yang tidak mencintai ilmu, sejatinya laksana orang yang telah mati, sebagaimana sya’ir Asy-Syafi’i dalam Ad-Diwān:
“Bersabarlah atas pahitnya sikap kurang mengenakkan dari guru, Karena sesungguhnya endapan ilmu adalah dengan menyertainya. Barangsiapa yang belum merasakan pahitnya belajar meski sesaat, maka akan menahan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya. Barangsiapa yang tidak belajar di waktu mudanya, bertakbirlah 4 kali atas kematiannya. Eksistensi seorang pemuda – Demi Allah – adalah dengan ilmu dan ketakwaan. Jika keduanya tidak ada padanya, maka tidak ada jati diri padanya.”
Pemuda yang telah menemukan kebenaran akan selalu siap membela kebenaran, dan melakukan perubahan di tengah umat dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan yang diridhai Allah, Ishlahul ‘Adah wal Mujtama’.
Demikian pula dengan pemuda Ibrahim a.s. yang berhasil membuat rekayasa sosial (social engineering) dengan menghancurkan berhala-berhal kecil, meninggalkan berhala besar dan mengajak masyarakatnya berpikir ulang atas tradisi yang keliru, sebagaimana Surat Al-Anbiya [21] ayat 66:

قَالَ أَفَتَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكُمْ شَيْئًا وَلا يَضُرُّكُمْ

Ibrahim berkata: Maka mengapakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikitpun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kamu?”
ALLAHU AKBAR 3X
Ma’āsyir al-muslimīn rahīmanī wa rahīmakumullāh,
Renungkanlah Saudaraku, bagaimana Ibrahim a.s. tetap mengangkat kedua tangannya berdo’a hingga terkabulnya di umur beliau 86 tahun, memohon dikaruniai seorang anak dari istrinya Sarah: “Ya Rabb, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang shalih,” sebagaimana Surat Ash-Shaffat [37] ayat 99:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

Hal ini karena tugas manusia hanya berdo’a, untuk menegaskan bahwa ia adalah Makhluk Allah yang membutuhkan Allah, hingga gugurlah sifat kesombongan dalam dirinya, karena selendang kesombongan hanya milik Allah SWT. Hanya Allah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya yang bertakwa. Do’a adalah ibadah. Mencintai do’a bagian dari Ishlahul ‘Ibadah.
Renungkanlah Saudaraku, ujian terbesar Ibrahim a.s. sejatinya di saat perintah untuk menyembelih Isma’il a.s. turun saat Isma’il a.s. beranjak besar. Mimpinya para Nabi adalah wahyu.

رؤيا الأنبياء وحي

Di kala wahyu untuk penyembelihan Isma’il a.s. itu hadir, Ibrahim a.s. menemui anaknya dan meminta pendapatnya dengan mengatakan: “Wahai Anakku, Aku bermimpi menyembelihmu, bagaimana menurut pandanganmu?”, Q.S. Ash-Shaffat [37] ayat 102:

يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَ
Ibrahim memberikan teladan kepada para Ayah agar senang bermusyawarah dan berdialog dengan anak-anaknya, tidak menjadi Ayah yang bisu. Al-Qur’an telah mengangkat dialog Ayah dengan anak dalam 14 tempat, sementara dialog Ibu dengan anak hanya dalam 2 tempat, dan 1 tempat mengangkat dialog Ayah Ibu dengan anaknya.
Ma’āsyir al-muslimīn rahīmanī wa rahīmakumullāh,
Renungkanlah Saudaraku, bagaimana jawaban seorang anak yang shalih, Isma’il a.s., di saat diperintahkan Ayah-nya dalam ketaatan: “Wahai Ayah, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Engkau akan mendapatiku, insya Allah, termasuk hamba Allah yang bersabar.”, sebagaimana Surat Ash-Shaffat [37] ayat 102:

يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِين
Tidaklah terlahir anak shalih kecuali dengan proses yang penuh perencanaan, dan kerjasama di dalam ‘Ailah, keluarga, dalam berkontribusi menanamkan iman ke dalam jiwa anak. Ibrahim a.s. sentiasa menasihati anaknya: “Wahai Anakku, sesungguhnya Allah telah memilihkan untukmu agama ini, dan janganlah engkau mati kecuali dalam kondisi Muslim!”, sebagaimana Surat Al-Baqarah [2]: 127

يَٰبَنِيَّ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصۡطَفَىٰ لَكُمُ ٱلدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ

Renungkanlah Saudaraku, bagaimana semangat ta’awun, tolong-menolong antara Ayah dan anak yang shalih dalam ketaatan kepada Allah  SWT, dilanjutkan di saat mereka membangun kembali Ka’bah, Masjid Pertama di Dunia, dan memohon agar seluruh kelelahan mereka diterima Allah SWT, sebagaimana Surat Al-Baqarah [2] ayat 127:

رَبَّنَا تَقَبَّلۡ مِنَّآۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

“Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
Sungguh musibah besar bagi setiap Muslim, di saat seluruh kelelahannya dalam beramal tidak diterima Allah SWT. Kepada-Nya saja kita menyembah, kepada-Nya saja kita memohon pertolongan.
ALLAHU AKBAR 3X
Ma’āsyir al-muslimīn rahīmanī wa rahīmakumullāh,
Beramal dengan penuh pengorbanan adalah syarat utama umat ini untuk bangkit kembali mempimpin dunia.
Tidak akan tumbuh sebuah pohon tanpa kita rawat dengan menyiramnya, sebagaimana tidak akan sempurna sebuah amal jika tidak dilakukan dengan jiwa penuh pengorbanan.
Kita mengulang kaji Kisah Ibrahim a.s. karena seluruh hidupnya dicurahkan untuk melahirkan peradaban Islam di muka bumi. Dia tetapkan dirinya sebagai pelayan umat, bukan manusia yang minta dilayani, sebagaimana kerjanya bersama Isma’il a.s. dengan sepenuh hati membersihkan Ka’bah agar gelombang manusia  dapat melakukan thawaf, I’tikaf, ruku’ dan sujud sebagaimana Surat Al-Baqarah [2] ayat 125:

وَعَهِدۡنَآ إِلَىٰٓ إِبۡرَٰهِۧمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيۡتِيَ لِلطَّآئِفِينَ وَٱلۡعَٰكِفِينَ وَٱلرُّكَّعِ ٱلسُّجُودِ

Ma’āsyir al-muslimīn rahīmanī wa rahīmakumullāh,
Beramal menegaskan bahwa Umat punya kekuatan, dan pengorbanan tanpa batas, bukti nyata bahwa Umat punya energi besar untuk memenangkan Islam di dunia ini agar lahir rahmatan lil ‘alamin.
Tidak akan bangkit sebuah bangsa tanpa adanya semangat beramal dengan penuh pengorbanan. Tidak disebut pengorbanan jika terlalu mudah bagi kita untuk melakukannya. Semakin berat hati melakukannya, disanalah pengorbanan itu diuji.
Islam telah berhasil memimpin peradaban sains dunia dalam rentang abad 8 hingga 15 M. Islam ini sempurna berkat do’a Ibrahim a.s. agar diutus di tengah masyarakat di sekitar Ka’bah kelak seorang Rasul yang akan membacakan ayat-ayat Allah, mensucikan jiwa manusia dan mengajarkan mereka ilmu, sebagaimana Surat Al-Baqarah [2] ayat 129:

رَبَّنَا وَٱبۡعَثۡ فِيهِمۡ رَسُولٗا مِّنۡهُمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَيُزَكِّيهِمۡۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡحَكِيمُ

ALLAHU AKBAR 3X
Jamaah Sholat Id yang insya Alah dibanggakan Allah Swt.
Marilah kita tutup khutbah ini seraya berdo’a kepada Allah , memohon ampunan, keberkahan dan keselamatan di dunia maupun di akhirat kelak. Semoga kita dan keluarga, serta seluruh bangsa Indonesia, dan umat Islam di seluruh dunia, sentiasa merasakan Rahmat atau Kasih Sayang-Nya, dijaga dari ujian yang kita tidak sanggup melaluinya, diberikan istiqamah untuk sentiasa berkorban untuk kemuliaan Islam, Izzul Islam wal Muslimin.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، فَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin laki-laki dan perempuan, mu’min laki-laki dan perempuan, baik yg masih hidup maupun yg sudah wafat. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, dekat dan mengabulkan doa-doa, wahai Dzat yg memenuhi segala kebutuhan”.


رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا، أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.


“Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami karena kelupaan dan kesalahan kami. Rabb kami, Rabb kami janganlah Engkau beri kami beban sebagaimana beban yg Engkau beri kepada para pendahulu kami. Rabb kami, janganlah engkau pikulkan kepada kami apa-apa yg tidak kami sanggupi. Maafkanlah kami, ampunilah kami, sayangilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”.

اَللَّهُمَّ أَنْجِ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ سُوْرِيَا، اَللَّهُمَّ الْطُفْ بِهِمْ وَارْحَمْهُمْ وَأَخْرِجْهُمْ مِنَ الضِّيْقِ وَالْحِصَارِ.

“Ya Allah selamatkanlah saudara-saudara kami kaum muslimin yang lemah dimanapun mereka berada. Ya Allah sayangi dan kasihilah mereka dan keluarkanlah mereka dari pengepungan dan keadaan sempit yg mereka alami saat ini.”

اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنْهُمُ الشُّهَدَاءَ وَاشْفِ مِنْهُمُ الْمَرْضَى وَالْجَرْحَى، اللَّهُمَّ كُنْ لَهُمْ وَلاَ تَكُنْ عَلَيْهِمْ، فَإِنَّهُ لاَ حَوْلَ لَهُمْ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِكَ


“Ya Allah terimalah syuhada mereka dan sembuhkanlah yg sakit dan terluka dari kalangan mereka. Ya Allah karuniakanlah kebaikan pada mereka dan janganlah Engkau timpakan keburukan pada mereka karena tiada daya dan kekuatan bagi mereka kecuali dg pertolongan-Mu.”

اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِيْ سُوْرِيَا، اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِيْ فِلِسْطِيْنَ، اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِيْ الْيَمَنِ، اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِيْ كُلِّ بِقَاعِ الأَرْضِ.

“Ya Allah turunkanlah pertolongan-Mu pada mujahidin di Suriah”.
“Ya Allah turunkanlah pertolongan-Mu pada mujahidin di Palestina”.
“Ya Allah turunkanlah pertolongan-Mu pada mujahidin di Yaman”.
“Ya Allah turunkanlah pertolongan-Mu pada mujahidin di seluruh permukaan bumi ini….aamiin”.
رَبَّنَا لَا تُزِغۡ قُلُوبَنَا بَعۡدَ إِذۡ هَدَيۡتَنَا وَهَبۡ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحۡمَةًۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلۡوَهَّابُ ٨

3:8. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.”

رَبَّنَآ أَفۡرِغۡ عَلَيۡنَا صَبۡرٗا وَتَوَفَّنَا مُسۡلِمِينَ ١٢٦

 (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu)”

رَبِّ ٱجۡعَلۡنِي مُقِيمَ ٱلصَّلَوٰةِ وَمِن ذُرِّيَّتِيۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلۡ دُعَآءِ
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. (14:40)

۞رَبِّ  …. فَاطِرَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ أَنتَ وَلِيِّۦ فِي ٱلدُّنۡيَا وَٱلۡأٓخِرَةِۖ تَوَفَّنِي مُسۡلِمٗا وَأَلۡحِقۡنِي بِٱلصَّٰلِحِينَ ١٠١

101. Ya Tuhanku, (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh

اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ

 Ya Allah, hiasilah kami dengan hiasan iman dan jadikanlah kami teladan yang membimbing dan mendapatkan bimbingan.

رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيَّ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ يَوۡمَ يَقُومُ ٱلۡحِسَابُ

Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”. (14:41)

رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِي ٱلدُّنۡيَا حَسَنَةٗ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ حَسَنَةٗ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka. (2:201)
Amin Ya Rabbal ‘Alamin!

(Zoom)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kajian

Qiyāmullail Menolak Adzab Mengundang Rahmat

Published

on

Oleh : Dr. Wido Supraha (Wakil Ketua DPP PUI)
Qiyāmullail menolak adzab, demikianlah pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah mimpi Abdullāh ibn ‘Umar r.a. ketika usia muda belia, yang pernah diceritakannya kepada Hafshah r.a., dan Hafshah r.a. menceritakannya kepada Nabi , tentang diperlihatkannya Neraka. Ketika itu, Nabi justru menjawab makna mimpi tersebut dengan memotivasi Ibn ‘Umar r.a. agar selalu qiyāmullail, berdiri di setiap malam sambil membaca Al-Qur’ān dan menikmati kandungannya, qiyām ma’a Al-Qur’ān.

Jika Nabi Muhammad diwajibkan untuk selalu qiyāmullail, sebagaimana Surat Al-Isrā’ [17] ayat 79, agar menempati Tempat Terpuji (al-Maqām al-Mahmūd), tempat beliaumemohonkan syafa’atnya bagi umatnya, maka siapapun yang mengikuti Nabi dalam qiyāmullail tentu akan mendapatkan pujian dari Allāh sebagaimana Surat As-Sajdah [32] ayat 16 dan Surat Adz-Dzāriyat [51] ayat 17, yaitu digelari dengan muhsinin sebagai ciri keimanan dan ketakwaan. 

Ilustrasi by Google

Nikmatilah qiyāmullail sebagaimana Nabi menikmatinya hingga bengkak kedua telapak kaki beliau . Begitu begitu menikmatinya, sehingga terkadang beliau membaca Surat Al-Baqarah, An-Nisā dan Āli ‘Imrān dengan tartil, penuh pemaknaan, di rakaat pertama qiyam-nya. Terkadang cara beliau menikmati qiyām-nya dengan mengulang-ulang satu ayat sepanjang malamnya, baik ketika berdiri, ruku’, sujud dan berdo’a, seperti ketika membaca Surat Al-Māidah [5] ayat 118.

Keshalihan individu didorong untuk melahirkan keshalihan sosial. Setiap manusia yang telah merasakan nikmatnya qiyāmullail secara individu didorong untuk membagi kenikmatan itu kepada orang-orang terdekatnya, dimulai dari keluarganya, seperti istri, anak bahkan menantu, sebagaimana perintah Allah dalam Surat Thaha [20] ayat 132. Suami yang selalu berusaha membangunkan istrinya, seperti dengan memercikkan air ke wajah istri tercintanya, sehingga mereka berdua dapat melakukan qiyāmullail berjama’ah akan mendapatkan tambahan gelar: adz-Dzākirīn wa adz-Dzākirāt. Begitu pun teladan Nabi yang membangunkan Ali r.a. dan Fathimah r.a. untuk mengerjakan qiyāmullail menegaskan mulianya saling tolong-menolong (ta’āwun) dalam kebaikan dan ketakwaan.

Meraih nikmatnya beribadah harus menjadi keinginan kuat hamba Allah yang pandai bersyukur. Membiasakan tidur di awal malam agar dapat bangun di ⅓ akhir malam untuk menikmati kandungan bacaan Al-Qur’an-nya sembari menguatkan hafalan (murāja’ah) adalah kebiasaan orang-orang shalih. Kenikmatan yang dampaknya tidak saja melahirkan kesehatan jiwa namun juga kesegaran jasad di sepanjang hari itu.

Mengejar kualitas qiyāmullail adalah lebih utama daripada sekedar kuantitas jumlah raka’at. Jika mengantuk maka boleh ditidurkan kembali sekedar untuk menghilangkan rasa kantuk dan agar proses tadabbur Al-Qur’ān tetap dapat berjalan baik. Setiap manusia tentu memiliki kebiasaan qiyāmullail yang tidak sama dalam hal kuantitas dan kualitas, namun tetaplah bertahan dalam menjaga kebaikan yang telah dimulai seperti merutinkan qiyāmullail ini, karena meninggalkan kebiasaan baik adalah sebuah kehinaan. 

Seorang laki-laki yang berat menegakkan qiyāmullail tanpa adanya udzur adalah karena disebabkan kedua telinganya yang dikencingi syaithan paska melilitkan 3 (tiga) ikatan pada diri manusia. Ketiga ikatan ini hanya bisa dilepas dengan berusaha bangun di waktu malam sembari mengingat Allāh , berwudhu dan kemudian qiyāmullail. Tegakkanlah qiyāmullail meskipun hanya witir sebelum tidur. Tegakkanlah qiyāmullail meskipun hanya sempat shalat witir satu rakaat menjelang masuk waktu Subuh.

Tidak saja menolak adzab Allāh, kebiasaan manusia membagi salam dan makanan di siang hari, dilanjutkan qiyāmullail di waktu manusia sedang tidur, akan mengundang rahmat-Nya dan memasukkan pengamalnya ke Jannah dengan penuh kedamaian. Oleh karenanya, qiyāmullail adalah shalat yang afdhal setelah shalat wajib (fardhu), sementara qiyāmullail yang afdhal adalah yang paling lama berdirinya.

Kebiasaan qiyāmullail akan melahirkan pola tidur Muslim dalam 3 (tiga) waktu yakni tidur di awal malam, dilanjutkan paska qiyāmullail sambil menanti Subuh (jika dibutuhkan), serta tidur menjelang Zhuhr yang disebut qailulah (jika mudah dikerjakan), sebagaimana surat An-Nūr [24] ayat 58. Kehidupan harian seorang Muslim fāqih dengan demikian sejatinya telah dimulai sekitar kurang dari pukul 2 (dua) dinihari, karena ⅓ (sepertiga) akhir malam dimulai di waktu ini. Di waktu inilah ia mulai mencari waktu yang paling mustajab sambil berdiri dan ia pun menyempurnakannya dengan banyak memohon ampun (istighfār) di waktu sahur.

Sekali lagi, menikmati qiyāmullail harus menjadi target utama. Agar tidak cepat lelah, hendaknya memulai malam dengan 2 (dua) raka’at yang ringan. Begitu utama keutamaan qiyāmullail sehingga ketika karena sesuatu hal seseorang tidak dapat meninggalkannya dibolehkan menggantinya dengan 12 (dua belas) rakaat di di siang hari. Begitu utama bacaan Al-Qur’an di kala qiyāmullail, sehingga tatkala suatu malam ia tertidur sehingga tidak dapat membaca bagian (hizb) yang direncanakannya, maka dapat diganti dengan membacanya di antara waktu Subuh dan Zhuhr, insyā Allāh akan mendapatkan pahala yang sama. Wallāhu a’lam. (Zoom)
Continue Reading

Berita UPZ

Sedekah Subuh, Sedekah Harian Anda dan Keluarga

Published

on

Nah, di antara sekian banyak waktu dalam sehari, subuh merupakan saat yang paling utama untuk bersedekah. Sedekah subuh, begitu orang-orang biasa menyebutnya. Keutamaan sedekah pada waktu subuh tertuang dalam hadis yang artinya:
“Tidak ada satu subuh pun yang dialami hamba-hamba Allah kecuali turun kepada mereka dua malaikat. Salah satu di antara keduanya berdoa, ‘Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak’, sedangkan yang satunya lagi berdoa ‘Ya Allah, berilah kerusakan bagi orang yang menahan hartanya.” – HR. Bukhari & Muslim
1. Didoakan Malaikat
Dari hadis di atas diketahui bahwa siapa pun yang melaksanakan sedekah subuh, maka baginya kemudahan rezeki. Sebaliknya, malaikat mendoakan kebinasaan dan kebangkrutan pada siapa saja yang tidak mau berinfak dan menyumbangkan sebagian hartanya.
2. Dilipat Gandakan Hartanya
Berbagi tidak akan membuat kamu miskin. Begitu juga jika kamu rutin melakukan sedekah subuh. Membiasakan diri bersedekah justru akan mendatangkan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka, dengan jumlah yang berlipat banyaknya. Seperti firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah: 261 yang artinya,
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah maha luas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui.” 
3. Menghapus Dosa
Sedekah adalah amalan tambahan yang dapat menghapus dosa. Kalau kamu ingin diampuni dari segala dosa dan kesalahan, banyak-banyaklah bersedekah, terutama saat subuh. “Sedekah dapat menghapus dosa sebagimana air memadamkan api.” (H.R. Tirmidzi)
4. Menolak Bala dan Su’ul Khotimah
Tak ada seorang pun yang ingin mati dalam keadaan su’ul khotimah. Pun semua orang pasti mendambakan hidup yang penuh ketenangan, kebahagiaan, dan kenyamanan. Namun, musibah dan hal buruk lain bisa datang kapan saja.
Dengan melakukan sedekah subuh rutin, kamu akan terhindar dari segala macam kemalangan dan akhir yang buruk (su’ul khotimah). Kematian mendadak juga bisa dicegah dengan bersedekah secara rutin. Nabi bersabda, “Obatilah orang-orang yang sakit dari kalian dengan sedekah. Sesungguhnya sedekah itu dapat meredam murka Allah, dan menolak kematian yang buruk.” (HR. Tirmidzi)
Ini Keutamaan Mengamalkan Sedekah Subuh secara Rutin
“Kamu sekali-kali tidak akan sampai mencapai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menginfakkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa yang kamu infakkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” Ali Imran: 93
Mengapa Harus Perbanyak Sedekah Subuh?
Sedekah subuh memiliki keutamaan dibandingkan sedekah pada waktu lainnya. Saat sebagian orang masih terlelap, kamu sudah sibuk meraih ridha Allah SWT dengan bersedekah. Tak selalu berupa uang, sedekah subuh juga bisa dilakukan dengan berzikir, membagi makanan, mengajar ngaji, atau melakukan kebajikan lain yang bersifat sosial. Sedekah subuh dimulai sejak azan subuh sampai terbit fajar. Lakukan sedikit demi sedikit sampai kamu bisa konsisten setiap hari.

Rekening Donasi:
Bank Syari’ah Mandiri
Nomor Rekening : 770 002 2247
an. UPZ PUI Jabar
Konfirmasi transfer via SMS/WA ke Nomor wa.me/6285651070313
an. Admin UPZ PUI Jawa Barat

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
#upz #upzpui #upzpuijabar #ramadhan #puasa #ramadan #lebaran #ramadhankareem #islam #muslim #dirumahaja #hijrah #indonesia #idulfitri #muslimah #covid #ramadhantiba #sunnah #like #hijab #corona #dakwah #puasaramadhan #bukapuasa #quran #raya #marhabanyaramadhan #umroh
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
sumber: kitabisa.com (Zoom)

Continue Reading

Kajian

Sambutlah Ramadhan Dengan Kegembiraan

Published

on

Ilustrasi by Google

Hari ini adalah hari yang paling dinanti oleh setiap muslim di seluruh dunia. Dimana datangnya bulan yang  penuh dengan keberkahan, penuh dengan ampunan, penuh dengan Keistimewaan. Alangkah bahagianya kita bisa dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan. Marhaban yaa Ramadhan, Marhaban Yaa Syahrul Syiyam, Marhaban Yaa Syahrul Maghfirah.

Allah berfirman dalam Quran Surat Al-Baqarah 2:183.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Terjemah : Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

Tafsir Kemenag
Para ulama banyak memberikan uraian tentang hikmah berpuasa, misalnya: untuk mempertinggi budi pekerti, menimbulkan kesadaran dan kasih sayang terhadap orang-orang miskin, orang-orang lemah yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, melatih jiwa dan jasmani, menambah kesehatan dan lain sebagainya. Uraian seperti di atas tentu ada benarnya, walaupun tidak mudah dirasakan oleh setiap orang. Karena, lapar, haus dan lain-lain akibat berpuasa tidak selalu mengingatkan kepada penderitaan orang lain, malah bisa mendorongnya untuk mencari dan mempersiapkan bermacam-macam makanan pada siang hari untuk melepaskan lapar dan dahaganya di kala berbuka pada malam harinya. Begitu juga tidak akan mudah dirasakan oleh setiap orang berpuasa, bahwa puasa itu membantu kesehatan, walaupun para dokter telah memberikan penjelasan secara ilmiah, bahwa berpuasa memang benar-benar dapat menyembuhkan sebagian penyakit, tetapi ada pula penyakit yang tidak membolehkan berpuasa.
Kalau diperhatikan perintah berpuasa bulan Ramadan ini, maka pada permulaan ayat 183 secara langsung Allah menunjukkan perintah wajib itu kepada orang yang beriman. Orang yang beriman akan patuh melaksanakan perintah berpuasa dengan sepenuh hati, karena ia merasa kebutuhan jasmaniah dan rohaniah adalah dua unsur yang pokok bagi kehidupan manusia yang harus dikembangkan dengan bermacam-macam latihan, agar dapat dimanfaatkan untuk ketenteraman hidup yang bahagia di dunia dan akhirat.
Pada ayat 183 ini Allah mewajibkan puasa kepada semua manusia yang beriman, sebagaimana diwajibkan kepada umat-umat sebelum mereka agar mereka menjadi orang yang bertakwa. Jadi, puasa sungguh penting bagi kehidupan orang yang beriman. Kalau kita selidiki macam-macam agama dan kepercayaan pada masa sekarang ini, dijumpai bahwa puasa salah satu ajaran yang umum untuk menahan hawa nafsu dan lain sebagainya. Perintah berpuasa diturunkan pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijri, ketika Nabi Muhammad saw mulai membangun pemerintahan yang berwibawa dan mengatur masyarakat baru, maka dapat dirasakan, bahwa puasa itu sangat penting artinya dalam membentuk manusia yang dapat menerima dan melaksanakan tugas-tugas besar dan suci. (quran.kemenag.go.id)


Marilah kita sambut Ramadhan dengan:

a.    Berpuasa dengan hati yang suka cita,
b.    Bersemangat dalam Menunaikan Ibadah Wajib
c.    Menghidupkan Setiap Waktu dengan Ibadah Sunnah
d.    Sering Berinteraksi dengan Alquran
e.    Menyantuni Dhuafa, Faqir dan Miskin

Allah SWT Berfirman dalam Surat Yunus 10: 58

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

Terjemah :
Katakanlah (Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”

Tafsir Kemenag
Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar mengatakan kepada umat-Nya bahwa rahmat Allah adalah karunia yang paling utama, melebihi keutamaan-keutamaan lain yang diberikan kepada mereka di dunia. Oleh sebab itu, Allah memerintahkan agar mereka bergembira dan bersyukur atas nikmat yang mereka terima, yang melebihi kenikmatan-kenikmatan yang lainnya.
Kegembiraan orang-orang mukmin karena berpegang teguh kepada Al-Qur’an digambarkan dalam ayat lain sebagai berikut: Allah berfirman: Dan pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman. (ar-Rum/30: 4) Dan firman-Nya: Dan orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka bergembira dengan apa (kitab) yang diturunkan kepadamu (Muhammad). (ar-Rad/13: 36) Dikatakan bahwa karunia Allah dan Rahmat-Nya lebih baik dari yang lain, yang dapat mereka capai, karena karunia Allah dan rahmat-Nya yang terpancar dari Al-Qur’an adalah kekal untuk mereka, sedangkan kenikmatan yang lain bersifat fana dan sementara, yang hanya dapat mereka rasakan selama mereka mengarungi kehidupan di dunia saja, apabila mereka kembali ke alam baka, kenikmatan yang dapat mereka kumpulkan di dunia itu tidak berguna lagi bagi mereka.(quran.kemenag.go.id)
Hadis Nabi:

أتاكم رمضان شهر مبارك. فرض الله عز وجل عليكم صيامه , تفتح فيه أبواب السماء , وتغلق فيه أبواب الجحيم , وتغلّ فيه مردة الشياطين , لله فيه ليلة خير من ألف شهر , من حرم خيرها فقد حرم

Telah datang kepada kalian ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah wajibkan kepada kalian puasa di bulan ini. Di bulan ini, akan dibukakan pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan nakal akan dibelenggu. Demi Allah, di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala di malam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan. (HR. Ahmad, Nasai 2106, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). 
Diambil dari: Silabus, Talim dan Ceramah Ramadhan (Zoom)
Continue Reading

@ Copyright - Infokom DPW PUI Jabar