Connect with us

ishlah tsamaniyah

Khutbah Idul Adha 1440 H: “Mengambil Teladan Penting dari Peristiwa Sejarah Kurban”

Published

on

Oleh : Yusuf Islahuddin Kholid (Ketua Departemen Pengembangan SDM Strategis PP Pemuda PUI)

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الله أكبر (9 مرات)
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا، اللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا اللَّهَ مُخْلِصِينَ له الدَّيْنَ، وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ
الحمد لله الذي جمعنا في يوم الأضحى المبارك
الحمد لله على نعمة الإيمان والإسلام وعلى نعمة العلم و طلبه
اللهم صل على سيدنا محمد وعلى اله الطيبين وأصحابه الأخيار والتابعين بإحسان إلى يوم المحشر
أوصيكم بتقوى الله وطاعته. اتق الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون
قال الله تعالى : “…وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ…” (البقرة : 197)
Ayyuhal Hadhirun -Rahimakumullah-,
Sejarah tentang kebaikan dan kemuliaan hanya akan mencatat peristiwa-peristiwa monumental nan penting. Pelaku-pelaku yang terdapat di dalamnya pun hanyalah orang-orang pilihan dan para pahlawan yang telah berjuang. Sebagaimana sebuah ungkapan Arab berbunyi
لا يكتب في التاريخ إلا البطل

“Tidaklah ditulis dalam sejarah, kecuali seorang pahlawan”
Hari ini, kita memperingati suatu peristiwa bersejarah. Peristiwa yang sudah terjadi ribuan tahun lalu. Sebuah peristiwa yang penuh cinta dan pengorbanan sejati. Salah satu pelakunya adalah seorang Nabi sekaligus Bapaknya Para Nabi, Kholilullah Ibrahim AS. Beliaulah seorang Nabi selain Nabi Muhammad SAW, yang di mana kata uswah (keteladanan) di dalam Al Quran hanya ditunjukan kepada mereka berdua.
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ… (الممتحنة : 4)

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia…” (QS Al Mumtahanah : 4)
Selain beliau, ada tokoh penting lainnya yang penuh keteladanan dalam sejarah yang kita jadikan pelajaran besar dan diperingati pada hari ini. Beliaulah, Nabiyullah Ismail A.S., seorang Nabi yang dari keturunannya akan ada seorang Khatamul Anbiya, Nabi Muhammad SAW.
Peristiwa besar yang hari ini kita akan jadikan pelajaran besar adalah peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail, yang kita sering sebut dengan Idul Adha. Maka kita sebagai kaum Mukminin, hendaknya mengambil hikmah dan ibrah dari peristiwa tersebut.
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (يوسف : ١١١)
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka (para Nabi dan umat mereka) itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal (sehat). al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Yusuf : 111)
Ma’asyiral Muslimin -Rahimakullah-
Mari kita selami kembali kisah Nabi Ibrahim dan anaknya Nabi Ismail dalam Al Quran. Suatu ketika Nabi Ibrahim mendapatkan mimpi dari Allah SWT. Dalam mimpinya tersebut, beliau melihat dirinya menyembelih anaknya sendiri, Ismail AS. Sehingga beliau menyampaikan hal tersebut kepada anaknya
قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ… (الصفات : ١٠٢)

“Dia (Ibrahim) berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” (QS. Ash Shoffat : 102)
Lalu apa jawaban Ismail AS.? Apakah beliau menolak? Tidak, justru beliau berkata
قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (الصفات : ١٠٢)

Ia (Ismail) menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.” (QS. Ash Shoffat : 102)
Sampailah kedua insan mulia ini melaksanakan perintah Allah SWT. Tapi Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang menggantikannya dengan seekor hewan sembelihan. Dan telah luluslah Ibrahim dan Ismail dari ujian yang diberikan.
فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (١٠٣) وَنَادَيْنَاهُ أَن يَا إِبْرَاهِيمُ (١٠٤) قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (١٠٥) إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (١٠٦) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ (١٠٧) (الصفات : ١٠٣ – ١٠٧)
“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis-(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Kami memanggil dia, “Hai Ibrahim, sungguh kamu telah membenarkan mimpi itu. Sungguh demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sungguh ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Lalu Kami menebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash Shoffat : 103-107)
Para Hadirin yang berbahagia,
Setelah kita menyimak kembali kisah dua orang mulia ini. Kita dapat memahami, bahwa ada dua tokoh beserta karakternya yang begitu kuat.
Ibrahim adalah sosok orang tua yang taat kepada perintah Allah SWT. Beliau adalah ideolog yang begitu bijak dan menghargai posisi dan pendapat anaknya. Kebijaksanaan ini ditunjukan ketika beliau mengajak anaknya berdialog dan menceritakan mimpinya. Yang di mana mimpinya Para Nabi adalah wahyu.
Adapun Ismail adalah seorang anak muda yang bertakwa kepada Allah SWT. Beliau juga adalah pemuda yang menghormati orang tua dan penuh pemahaman. Seorang Ismail dengan penuh keberanian dapat menjawab pertanyaan anaknya dengan penuh keteguhan, siap melakukan perintah Tuhan-Nya.
Hadirin para kekasih Allah,
Dalam berbagai peradaban manusia, selalu ada dua pelaku dengan dua tugasnya masing-masing. Seorang pemuda yang berani dan penuh semangat serta siap melakukan hal hebat. Dan sosok orang tua yang membimbing dan penuh kebijaksanaan juga berpengalaman.
Tidak akan ada seorang Usamah bin Zaid, anak muda yang memimpin pasukan sahabat ketika usia di bawah 20 tahun, tanpa adanya peran Zaid bin Tsabit dan Ummu Ayman, ayah dan ibunya. Tidak akan ada pembebasan Konstatinopel oleh seorang Muhammad Al Fatih, tanpa bimbingan Aaq Syamsuddin, gurunya. Bahkan dalam sejarah kemerdekaan republik kita, Indonesia. Soekarno dapat membacakan teks proklamasi, setelah mendapat desakan dan diculik oleh anak muda. Ungkapan Arab menyatakan
الحماسة للشباب والخبرة للشيوخ

“Semangat itu milik para pemuda, dan pengalaman itu milik para orang tua”
Oleh karena itu, agama dan bangsa ini akan maju bilamana melekat karakteristik seorang Ibrahim dalam jiwa para orang tua dan seorang Ismail dalam jiwa para pemudanya.
  
Hadirin yang berbahagia,
Untuk menjadi sosok yang seperti mereka berdua, setidaknya kita memiliki empat poin yang menjadi prinsip kita bersama.
Yang pertama, Allahu Ghoyatuna, menjadikan Allah sebagai tujuan kita. Segala sesuatu yang kita miliki tidak akan menghalangi kita dari ketaatan, bila tujuan kita yang utama dalam hidup ini adalah Allah SWT. Ibrahim rela mengorbakan anaknya, karena itu perintah Allah. Begitupun Ismail rela dikorbankan, karena itu perintah Allah. Bila hidup kita untuk mencari Ridha Allah, maka kita akan mendapatinya. Ahli hikmah berkata
رضا الناس غاية لا تدرك ورضا الله غاية لا تترك ، فاترك ما لا يدرك ، وأدرك ما لا يترك

“Ridho manusia adalah cita yang tak bisa diraih, sedangkan ridho Allah adalah sesuatu yang tak sepatutnya ditinggal. Oleh karena itu, tinggalkanlah apa yang tidak mampu diraih, dan raihlah apa yang tak sepatutnya ditinggal”
Yang kedua, Al Ikhlashu Mabda’na, menjadikan keikhlasan sebagai asas beramal kita. Tidaklah Ibrahim berani mengorbankan putranya tercinta kecuali karena dasar keikhlasan yang begitu tinggi. Semua pengorbanan dan ibadah akan bernilai pahala bila kita niatkan Ikhlas karena Allah SWT. Dan dua syarat diterima ibadah adalah ikhlas karena Allah SWT dan mengikuti tuntunan Baginda Nabi Muhammad SAW. Allah SWT berfirman tentang ibadah dan keikhlasan
وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ (البينة : ٥)

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus” (QS. Al Bayyinah: 5)
Yang ketiga, Al Ishlahu Sabiluna, menjadikan perbaikan sebagai jalan juang kita. Hal yang dilakukan oleh Ibrahim AS. ketika datang kepadanya perintah, dia mencoba melakukan ishlah dengan memintakan pendapat dari anaknya. Mengusahakan perbaikan semampu kita dalam menhadapi berbagai masalah dan cobaan adalah suatu keharusan. Sebagaimana kutipan perkataan Nabi Syuaib yang diabadikan dalam Al Quran
…إِنْ أُرِيدُ إِلَّا الْإِصْلَاحَ مَا اسْتَطَعْتُ ۚ وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ ۚ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَإِلَيْهِ أُنِيبُ (هود : ٨٨)

“…Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (QS Hud : 88)
Yang terakhir, Al Mahabbatu Syi’aruna, menjadikan cinta sebagai syiar kita. Dalam menjalankan perbaikan, dibutuhkan rasa cinta dan kasih sayang yang tulus. Di sini kita bisa melihat bahwa, bentuk kecintaan terbesar seorang Ibrahim kepada anaknya adalah dengan mengorbankan anaknya sendiri. Karena rasa cinta kepada Allah haruslah lebih besar dari segalanya. Kita seyogyanya dalam melakukan misi kita di dunia haruslah dibarengi dengan cinta dan kasih sayang untuk seluruh alam. Dan bentuk cinta kita itu bermacam, cinta tidak hanya berbentuk senyuman. Cinta bisa berbentuk marah kita, ketegasan kita atau bahkan larangan kita.
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ (الأنبياء : ١٠٧)

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”
مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ… (الفتح : ٢٩)

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka.” (Al Fath : 29)
Itulah empat poin yang menjadi prinsip kita bersama. Semoga para orang tua bisa meneladani sosok Ibrahim dan para anak muda bisa meneladani sosok Ismail, dalam peristiwa qurban yang tak akan hilang ditelan zaman.
Ayyuhal Hadhirun Al Kiram,
Untuk, menutup khutbah Idul Adha ini, mari kita berdoa kepada Allah dengan penuh pengharapan. Kita berharap ampunan-Nya, rahmat kasih sayang-Nya, dan barakah dari-Nya. Kita juga berharap agar kita menjadi generasi seterusnya yang dapat mengukir sejarah kebaikan. Bukan hanya sebagai penonton, tapi sebagai pemeran dari adanya sejarah baru nanti.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، فَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ.

“Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin laki-laki dan perempuan, mu’min laki-laki dan perempuan, baik yg masih hidup maupun yg sudah wafat. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, dekat dan mengabulkan doa-doa, wahai Dzat yg memenuhi segala kebutuhan”.
رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا، أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.

“Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami karena kelupaan dan kesalahan kami. Rabb kami, Rabb kami janganlah Engkau beri kami beban sebagaimana beban yg Engkau beri kepada para pendahulu kami. Rabb kami, janganlah engkau pikulkan kepada kami apa-apa yg tidak kami sanggupi. Maafkanlah kami, ampunilah kami, sayangilah kami. Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”.
اَللهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ سَلاَمَةً فِى الدِّيْنِ وَعَافِيَةً فِى الْجَسَدِ وَزِيَادَةً فِى الْعِلْمِ وَبَرَكَةً فِى الرِّزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ الْمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ

“Ya Allah kami memohon kepadaMu keselamatan dalam agama, dan kesejahteraan/kesegaran pada tubuh dan penambahan ilmu, dan keberkahan rizqi, serta taubat sebelum mati dan rahmat di waktu mati, dan keampunan sesudah mati.”
اَللهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِى سَكَرَاتِ الْمَوْتِ وَالنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ وَالْعَفْوَ عِنْدَ الْحِسَابِ

“Ya Allah, mudahkanlah kami saat pencabutan nyawa, selamat dari api neraka dan mendapat kemaafan ketika amal diperhitungkan”
رَبَّنَا لاَتُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْهَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Allah, janganlah Kau goyahkan hati kami setelah Kau beri petunjuk dan berilah kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi”
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.”
رَبَّنَآ أَفۡرِغۡ عَلَيۡنَا صَبۡرٗا وَتَوَفَّنَا مُسۡلِمِينَ

“Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu)”
رَبَّنَا ٱغۡفِرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيَّ وَلِلۡمُؤۡمِنِينَ يَوۡمَ يَقُومُ ٱلۡحِسَابُ

“Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)”.
رَبَّنَا اتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan hidup di dunia dan kebaikan hidup di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api neraka.”
وصلى الله على سيدنا محمد وآله وصحبه وسلَّم
سبحان ربك رب العزة عما يصفون وسلام على المرسلين والحمدلله رب العالمين
عباد الله…
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

(Zoom)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

artikel

Hikmah dari Musibah

Published

on

H. Eka Hardiana
Oleh: H. Eka Hardiana

Ibnu Jarir di dalam Tafsir-nya meriwayatkan pendapat Ibnu Abbas tentang surat as-Sajdah ayat 21,

وَلَنُذِيقَنَّهُم مِّنَ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡأَدۡنَىٰ دُونَ ٱلۡعَذَابِ ٱلۡأَكۡبَرِ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ

“Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (kepada ketaatan).”
Bahwa makna azab yang dekat adalah musibah.

Musibah yang menimpa manusia sendiri bermacam-macam. 

Ada yang tampak, ada yang tersembunyi. Demikian pula dari sisi jenis dan kadarnya. Sebagian manusia diuji dengan musibah yang tidak tampak, tetapi sejatinya lebih besar jika dibandingkan dengan musibah yang tampak pada orang lain.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengkhususkan dengan musibah yang demikian, karena hal itu lebih sesuai untuk menjadi penghapus dosanya. 

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا كَثُرَتْ ذُنُوبُ الْعَبْدِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ مَا يُكَفِّرُهَا مِنَ الْعَمَلِ ابْتَلَاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِالْحُزْنِ لِيُكَفِّرَهَا عَنْهُ

“Apabila telah banyak dosa seorang hamba, dan ia tidak memiliki amalan yang menjadi penghapusnya, Allah ‘azza wa jalla mengujinya dengan kesedihan supaya dosanya terhapuskan.” (HR. Ahmad)

Kemampuan akal dan pemahaman manusia cenderung memahami keumuman sebab dan akibat. Itulah kelemahan sisi manusiawinya. Akan tetapi, Allah Subhahanahu wa Ta’ala memberinya akal yang mampu memikirkan apa yang tersembunyi dari musibah itu. Dengan akalnya, dia mampu memetik hikmah yang samar dan sebab yang tersembunyi. Oleh karena itu, semakin sering dia merenungkan hikmah ilahiah, dia akan mampu memahami perkara yang tidak mampu dipahami oleh yang lainnya, yaitu agungnya kelembutan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Di antara hikmah dari musibah adalah:

Pertama: Sebagai Peringatan

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا نُرۡسِلُ بِٱلۡأٓيَٰتِ إِلَّا تَخۡوِيفًا

“Dan Kami memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakut-nakuti.” (al-Isra’: 59)

Qatadah rahimahullah menerangkan, “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala menakut-nakuti manusia dengan tanda-tanda apa pun (bencana, petaka, pen.) yang Dia kehendaki. Mudah-mudahan mereka mengambil pelajaran, menjadi ingat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kemudian kembali kepada-Nya.”

Beliau menyatakan, “Telah sampai kepada kami berita bahwa pada masa Abdullah bin Mas’ud masih hidup terjadi gempa di Kufah. Beliau mengingatkan manusia dengan berkata, ‘Wahai manusia, sesungguhnya Rabb kalian meminta—dengan adanya bencana—agar kalian kembali kepada apa yang menjadi keridhaan-Nya. Maka dari itu, bertobatlah!’.”

Kedua: Hukuman

Alllah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَا دُ فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّا سِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
(QS. Ar-Rum [30]: Ayat 41)

As-Sa’di rahimahullah berkata, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut, maksudnya mata pencaharian mereka rusak dan berkurang serta dan terjadi bencana alam. Diri mereka juga terserang penyakit, wabah, dan yang lainnya.

Semua itu terjadi karena kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh tangan mereka (sendiri), berupa perbuatan yang rusak dan merusak. 

Hal ini supaya mereka mengetahui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala membalas amal perbuatan dan membuat contoh/pelajaran untuk mereka dari balasan amal mereka di dunia agar mereka kembali ke jalan yang benar.

Mahasuci Allah Ta’ala, Dzat yang menganugerahkan nikmat kepada hamba-Nya melalui cobaan-Nya serta memuliakan hamba-Nya dengan hukuman-Nya. 

Jika tidak, kalau saja Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, niscaya Dia tidak membiarkan satu pun makhluk yang melata (manusia) di atas permukaan bumi ini.”

Ketiga: Penghapus Dosa

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah menimpa seorang muslim suatu musibah berupa kesalahan, rasa sakit, kegundahan, kesusahan, gangguan dan tidak pula dukacita, sampai duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan dengannya dari kesalahan-kesalahannya.” 
(Muttafaqun ‘alaihi, dari Abu Said dan Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuma)

و اللّٰه اعلم

Pamoyanan, 26 Rajab 1441 H / 21 Maret 2020 M. (ZOOM)
Continue Reading

ishlah tsamaniyah

إصلاح العائلة “TERLALU SERIUS” BERUMAH TANGGA?”

Published

on

Ilustrasi By Google
Pasangan suami istri memerlukan rehat sejenak. Kadang mereka “terlalu serius” dalam menjalani kehidupan berumah tangga, mereka kelelahan dan akhirnya dihinggapi kejenuhan.
Studi yang dilakukan DeFrain dan tim (1999) di 40 negara memberikan hasil, humor menjadi hal penting dalam membangun kekuatan keluarga.
Hendaknya suami dan istri sesekali waktu mengambil cuti dari kesibukan kerja. Hang out berdua. Alokasikan waktu bersama untuk sebuah rekreasi, baik secara spiritual, emosional, ataupun intelektual.
Menghabiskan waktu berdua untuk bercengkerama menikmati hari-hari yang sengaja dikosongkan dari semua agenda lainnya. Selipkan humor dalam aktivitas bersama pasangan.
Jika suami tidak mampu mengungkapkan kata-kata mesra, maka bisa diganti dengan berbagai bentuk perhatian dan kejutan bagi istri tercinta.
Sekedar memberikan hadiah setiap pulang kerja, dengan benda-benda kecil yang diperlukan istri setiap hari, akan membuatnya merasa diperhatikan. Misalnya memberikan hadiah kucir rambut yang harganya tidak seberapa, namun menjadikan kesan yang mendalam bagi sang istri.
Jadilah manusia yang mengerti seni menyentuh hati istri, jangan kelewat rasional. Sikap suami yang terlalu rasional dalam kehidupan keluarga, bisa mengabaikan sentuhan perasaan dan hati.
Menganggap istri hanya memerlukan makan, pakaian dan tempat tinggal. Menganggap istri hanya memerlukan materi.
Padahal istri adalah manusia yang lengkap dengan segala kebutuhan hidupnya. Istri memerlukan pengertian, perhatian, cinta, dan kasih sayang.
Demikian pula sebaliknya, para istri hendaknya bisa merasakan cinta suami yang terkespresikan melalui berbagai bentuk perbuatan nyata. Tidak ada lelaki sempurna yang bisa memenuhi semua tuntutan dan keinginan istrinya.
Maka lihatlah berbagai sisi positif yang ada pada diri suami. Atas kerja kerasnya untuk mencukupi kebutuhan keluarga, atas jerih payahnya dalam usaha membahagiakan keluarga, atas kesungguhannya menunaikan kewajiban hidup sebagai kepala rumah tangga.
Itu semua dilakukan atas nama cinta.

Sumber: Ustadz Cahyadi Takariawan  (GWA/Zoom Adhie)

Continue Reading

@ Copyright - Infokom DPW PUI Jabar