Connect with us

artikel

Wahyu dan Inspirasi Menuntut Ilmu

Published

on

Oleh: Dr. H. Wido Supraha Wakil Ketua DPP PUI (Persatuan Umat Islam)
Membaca adalah anjuran atau perintah pertama yang diturunkan Allah Swt sebagai bagian dari wahyu yang suci nan mulia. Kata seru ‘bacalah’ diulang 3 (tiga) kali dalam Al-Qur’an.[1] Sementara kata wahyu sebagai kata dasar hanya digunakan 1 (satu) kali dalam Al-Qur’an[2], namun terdapat 78 kata yang menggunakan kata dasar wahyu dalam Al-Qur’an, 6 kata adalah kata benda, dan 72 kata adalah kata kerja. Dalam wahyu yang pertama kali turun itu pun mengandung inspirasi bahwa menuntut ilmu hendaknya sarat dengan aktifitas membaca dan menulis, sebagaimana ilmu diikat dengan tulisan.
Wahyu secara bahasa berarti memberitahukan secara samar; tulisan; tertulis; utusan; ilham; perintah; dan syarat. Secara terminologi syariat, wahyu berarti memberitahukan hukum-hukum syariat, atau juga bisa bermakna sebagai sesuatu yang diwahyukan, yakni kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Cara Allah menurunkan wahyu kepada para Nabi adalah sama yakni dengan cara mimpi sehingga hati menjadi tenang, setelahnya baru Allah menurunkan wahyu dalam keadaan sadar.[3]
4_163
Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, ‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (Q.S. An-Nisa/4:163)
Maka demikian pula dengan Nabi Muhammad Saw dalam hal penerimaan wahyu juga dengan cara yang sama telah dialami oleh para Nabi sebelumnya. Nabi Saw telah dikondisikan pertama kali melalui mimpi yang benar sebagai bagian dari latihan sebelum menerimanya secara sadar. Maka tidak heran jika setelahnya Nabi Saw dapat melihat cahaya, mendengar suara, dan batu-batu kerikil yang memberikan salam kepadanya. Pada mimpi ini, Nabi Saw pertama kali melihat sosok Malaikat Jibril. Adapun secara sadar, sebagaimana pengakuan Nabi Saw., wujud asli Malaikat Jibril terlihat langsung sebanyak 2 (dua) kali yakni ketika di Ajyad dan kemudian ketika peristiwa Isra’ Mi’raj. Namun terdapat juga penjelasan bahwa ketika turunnya wahyu di Gua Hira’, Malaikat Jibril juga menampakkan wujud aslinya.
iqra2
Perintah Jibril kepada Nabi Muhammad Saw, ‘Iqra’, dijawab dengan “Ma Ana bi Qari” dan hal ini berlangsung hingga 3 (tiga) kali perulangan. Berulangnya pernyataan Nabi bahwa dirinya tidak bisa membaca, mengandung maksud seakan-akan Nabi Saw memang tidak bisa membaca sama sekali. Namun, hal ini dapat juga dijelaskan bahwa jawaban pertama Nabi mengadung makna penolakan (imtina’), jawaban kedua Nabi mengandung makna ketidakmampuan, sedangkan jawaban ketiga nabi mengandung makna pertanyaan akan apa yang harus dibaca.[4] Pertanyaan tentang ‘kaifa aqra‘, dan ‘madza aqra‘, adalah bagian dari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin hadir[5], sehingga kemudian Jibril mengajarkan bahwa bersama pertolongan Allah (bismi rabbika) yang telah menciptakan akan memudahkan dalam membaca, sesuatu yang akan sulit jika hanya disandarkan pada pengetahuan manusia. Namun di atas itu semua, peristiwa ini memperlihatkan adanya kebenaran yang bersumber dari faktor luar (haqiqah kharijiyyah).

Maka sedemikian bersemangatnya Nabi Saw dalam menerima wahyu, membuatnya selalu tidak sabar untuk dapat menghafalkannya, meskipun itu terasa sukar baginya. Semangat Nabi yang totalitas untuk perbaikan umat (harakatul inqaz), melahirkan tanggung jawab kenabian (mas-uliyah an-nubuwwah), terlihat dari begitu tergesa-gesanya beliau untuk melahap seluruh ilmu yang disampaikan dalam bentuk wahyu.[6] Maka turunlah firman Allah, Swt,

Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. (Q.S. Al-Qiyamah/75:16)

Namun Allah mengajarkan, bahwa sebaik-baik pengajaran adalah talaqqi, dimana yang dididik hendaknya mendengarkan secara seksama baru mengikutinya.
75_18

Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. (Q.S. Al-Qiyamah/75:18)

irra__a_by_samania-d3hnyhi
Setelah turunnya wahyu pertama ini, maka tidaklah turun ayat Al-Qur’an kecuali setelah masa penantian selama 6 bulan[7] atau 3 tahun[8] yang terasa sangat lama dan berat bagi Nabi Muhammad Saw., hingga jika beliau berada pada puncak kesedihannya, beliau akan naik ke atas gunung bahkan berniat untuk menjatuhkan diri, namun kehadiran Jibril kembali menguatkan dirinya, bahwa beliau memang benar-benar telah dijadikan utusan Allah[9]. Masa penantian itu berakhir setelah peristiwa melihatnya Nabi Muhammad Saw akan sosok Jibril yang sedang duduk di atas kursi yang melayang di langit dalam wujud aslinya di kota Ajyad. Peristiwa ini yang mendorong turunnya firman Allah dalam Surat Al-Muddatstsir[10]. Menarik melihat bagaimana kebiasaan Nabi Saw tatkala diuji dengan ketakutan karena hal ghaib yang tidak biasa, seperti dalam peristiwa menampakkan dirinya Jibril di Gua Hira’ dan di Ajyad ini, beliau akan meminta istri tercintanya untuk menyelimuti tubuhnya. Lebih menarik lagi ketika istrinya nan-shalihah sentiasa menguatkan keyakinan dirinya akan pertolongan bagi orang-orang yang sentiasa berbuat kebajikan dalam menolong orang lain.

Maka setelah turunnya Surat Al-Muddatstsir tersebut, mulailah wahyu turun dengan semakin sering. Terkadang wahyu itu datang seperti bunyi lonceng (shalshalah al-jaras), dan ini merupakan cara yang paling berat bagi manusia seperti Nabi Muhammad Saw. Namun terkadang datang malaikat menjelma seperti laki-laki yang menyampaikan wahyu kepadanya. Gambaran begitu beratnya Wahyu yang turun, diumpamakan oleh ‘Aisyah r.a. kejadian turunnya wahyu di saat musim dingin yang amat sangat, namun dahi Nabi Saw terlihat bersimbah peluh pertanda begitu berat yang dialaminya.
iqra3
Setiap kali wahyu turun, Nabi Saw memerintahkan sahabatnya untuk mencatatnya dengan segera. Setiap kali sahabat bertanya tentang beberapa masalah, Nabi Saw harus menunggu beberapa masa hingga turun ayat yang menjawab permasalahan tersebut. Permasalahan-permasalahan masa lalu yang tentu mustahil diketahui bagi seorang Nabi yang ummi, terlebih hal-hal yang baru diketahui di masa depan, menjadi jawaban utama keaslian Wahyu yang diterima Nabi Saw. Keraguan akan sosok pembawanya telah terjawab dengan kebersamaan hidup bersamanya selama 40 tahun.

Tuduhan segelintir orientalis bahwa wahyu hanyalah intuisi Nabi Saw dalam khalwatnya seorang diri sebenarnya terbantahkan dengan rangkaian peristiwa yang dialami Nabi Saw. Pertama, bahwa untuk menumbuhkan inspirasi tidaklah perlu menjalani proses khalwat. Kedua, tidak terlihatnya Jibril oleh para sahabat lain, bukan berarti Jibril itu tiada. Ketiga, kondisi emosi Nabi dalam ketakutannya akan makhluk jin menjadi jawaban bahwa risalah bukanlah hal yang dicarinya, atau kekhawatirannya akan murka Allah atas tidak turunnya wahyu selama beberapa lama tentu bukanlah hal yang dibuat-buat, atau menggigilnya sekujur tubuh menjadi jawaban bahwa peristiwan yang dialaminya merupakan hal yang tidak biasa, dan bahkan tidak pernah terlintas dalam benaknya sama sekali.[11]
Dalam peristiwa ini, Khadijah mendapatkan ilham untuk membawa suaminya kepada anak pamannya yang sudah tua dan buta, Waraqah bin Naufal, seorang ahli ilmu Kristen. Pengetahuan Waraqah yang luas dari hasil menuntut ilmunya kepada para Ahli Kitab membawanya kepada keimanan akan kebenaran Nabi Muhammad Saw selaku manusia yang diutus Allah Swt. Namun perlu diketahui, bahwa Waraqah adalah satu dari empat orang yang menyadari akan kesalahan dalam ajaran yang diyakini orang-orang Quraisy, dan membawa mereka kepada pengembaraan ilmu. Ketiga lainnya adalah Ubaidillah bin Jahsy, Ustman bin al-Huwairits, dan Zaid bin Amr bin Nufail. Ubaidillah bin Jahsy diketahui kemudian masuk Islam dan ikut hijran ke Habasyah bersama istrinya, Ummu Habibah, namun kemudian murtad dan masuk agama Kristen di Habasyah. Utsman bin al-Huwairits masuk agama Kristen setelah bertemu Kaisar Romawi, dan mendapat kedudukan terhormat. Adapun Zaid bin Ammar tidak memeluk Yahudi maupun Nasrani, namun ia menjaga diri dari beragam perbuatan tercela, karena ia mengikrarkan untuk menyembah Tuhannya Nabi Ibrahim a.s. Zaid terus berkelana mencari agama Ibrahim yang benar, hingga menyelurusi Kota Syam, namun ia mendapatkan jawaban bahwa Nabi itu telah bangkit dari Kota Makkah. Ketetapan Allah mendahului, dimana ia terbunuh di pertengahan negeri Lakhm. Ini yang membuat Waraqah bersedih.
Keyakinan para ahli Kristen yang jujur muncul di antaranya karena sifat Nabi Muhammad Saw telah ada dalam kitab suci mereka yakni Al-Munhammana, sebagaimana sabda Nabi ‘Isa. Dalam bahasa Ibrahin, al-Munhamana berarti Muhammad, dan Muhammad dalam bahasa Romawi ialah Paraclet.[12] (Zoom)
1] Q.S. Al-Isra’/17:14; Q.S. Al-‘Alaq/96: 1,3
2] Q.S. An-Najm/53:4
3] Lihat Fathul Bari, Bab Permulaan Turunnya Wahyu
4] Kutipan pendapat Ath-Thibi oleh Ibn Hajar al-Atsqalani
5] Kutipan pendapat Abu Aswan dan Zuhri oleh Ibn Hajar al-Atsqalani
6] H.R. Bukhari No. 5
7] Riwayat Sya’bi dalam kitab sejarah buah karya Imam Ahmad bin Hanbal, dan dikuatkan oleh pendapat Ibn Ishq
8] Riwayat dari Ibn Ishaq
9] Lihat Tafsir Al-Hafizh ‘Imaduddin Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir (Ibn Katsir)
10] H.R. Bukhari No. 4
11] Analisa Dr. Sa’id Ramadhan al-Buthi dalam Fiqh as-Sirah: Dirasat Minhajiah ‘Ilmiah li-Shirat al-Musthafa ‘alaihishshalatu wa salam
12] Sirah Ibn Hisyam
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

artikel

KEHARUSAN TOBAT DAN KEUTAMAANNYA

Published

on

Ilustrasi by Google
EMBUN PAGI
Oleh: H. Eka Hardiana

Keharusan Taubat
Tobat dari dosa yang dilakukan orang Mukmin dalam perjalanannya kepada Allah, merupakan kewajiban beragama yang tak terelakan, diperintahkan Alquran Al-Karim dan dianjurkan sunnah Nabawy.

Semua ulama telah sepakat, baik ulama zhahiriyah, bathiniyah, fikih maupun pemerhati perilaku telah menyepakati hal ini. Sampai-sampai Sahl bin Abdullah berkata, “Siapa yang mengatakan bahwa tobat bukan wajib, maka dia adalah orang kafir, dan siapa yang setuju dengan pendapat ini, juga orang kafir. Tidak ada sesuatu yang lebih wajib bagi manusa selain dari tobat, tidak ada hukuman yang lebih keras daripada hukuman karena tidak ingin mengetahui masalah tobat. Padahal tidak sedikit manusia yang tidak menguasai ilmu tobat

[Bersambung]

Sumber:
Kitab At-Tauba IIallah, Dr. Yusuf Al-Qardhawy, Penerbit Maktabah Wahbiyah Cairo, cet 1 – 1998

Pamoyanan, 19 Sya’ban 1441 / 13 April 2020 (Zoom)
Continue Reading

artikel

COVID-19 DAN OPTIMALISASI FUNGSI MASJID

Published

on


Kana Kurniawan
Oleh: Kana Kurniawan)*

Sejak wabah Covid-19 masif merebak. Telah terjadi perubahan ritual keagamaan signifikan. Baik yang wajib maupun yang sifatnya syiar. Pada kawasan zona merah, ulama dunia maupun MUI mengeluarkan fatwa diperbolehkan melaksanakan sholat berjamaah di masjid, sholat jumat diganti sholat dzuhur di rumah dan menghindari syiar dakwah yang melibatkan banyak orang. MUI daerah juga mengeluarkan himauan serupa, terutama di kawasan zona merah. Sebagaiman kaidah, menolak kemafsadatan diutamakan daripada mengambil kemaslahatan (dar’ul mafasid muqodam ‘ala jalbi al-masholih).
Tak bisa dipungkiri, upaya pemutusan mata rantai virus Covid-19 yang digalakan pemerintah pusat dan derah melalui penutupan pusat perkantoran, tempat wisata, batasan jam buka swalayan dan pertokoan menjadikan pergerakan ekonomi menurun. Terutama para pekerja informal sangat terancam. Orang mau belanja ke luar rumah khawatir, dan cemas dengan sebaran Covid-19 yang masif. Belum lagi para pengusaha terpaksa merumahkan karyawan, tapi harus membayar upah. Pilihannya: bertahan waktunya terbatas atau pemutusan hubungan kerja.
Konsep Al-Ma’un: Masjid Jadi Alternatif
Memang era sekarang adalah era dilematis di semua sektor. Alangkah baiknya kita berpikir mencari jalan dari kekuatan umat yang ada, yakni memaksimalkan fungsi masjid. Meski sholat berjamaah untuk sementara tidak di masjid. Tapi fungsi lain harus tetap dipertahankan bahkan jadi alternatif meringankan beban ummat. Konsep lock down, sebagai cara memutus sebaran virus dipandang sangat efektif. Tapi keberlangsungan hidup umat harus tetap diperhatikan. Kiranya konsep QS. Al-Ma’unbisa menjadi landasan operasional pada masa sekarang ini.
Pertama. Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) membuka pos layanan terpadu umat. Umat diedukasi dengan pentingnya meningkatkan kesalehan sosial. Peduli lingkungan beserta kondisi masyarakat. Mengkordinir para dermawan yang mau memberikan bantuan langsung kepada masyarakat. Kebutuhan umat atau dhu’afa yang terdampak dan sedang melakukan self isolation, atau social distancing harus diutamakan. Mendata warga sekitar bersama pengurus RT/RW. Lalu mendistribusikan secara langsung melalui RT/RW setempat tanpa melibatkan banyak orang. Selain itu, DKM bisa mendirikan dapur umum, membuat nasi sedekah bagi para pekerja informal.
Kedua. DKM menginisiasi kerjasama dengan lembaga-lembaga filantropi seperti BAZNAS RI, Rumah Zakat, ACT, Dhompet Dhuafa, P3K PUI, LazisMU dan LazisNU serta lembaga lainnya. Agar partisipasi lembaga-lembaga tersebut lebih maksimal dalam kerja kolaboratif. Dalam situasi darurat, lembaga filantropi banyak yang memiliki sumber daya yang digunakan dalam situasi kedaruratan. Mulai dari relawan, produk layanan, obat-obatan dan lain sebagainya.
Ketiga. Melalui pengeras suara, akun media sosial atau WhatsApp Group (WAG) jamaah. Pos terpadu DKM mengedukasi warga terkait pola hidup sehat dan halal serta pengetahuan Covid-19 serta sejenis penyakit lainnya. DKM menggandeng para medis di lingkungannya. Sebab, di kalangan masyarakat masih banyak yang minim informasi tentang bahaya virus dan cara penanganannya. Seperti kejadian di suatu daerah, ada salahsatu warganya yang meninggal karena Covid-19 lalu oleh keluarganya dimandikan dan dikuburkan layaknya jenazah bukan karena Covid-19. Demikian sikap tanpa informasi yang baik, bisa berakibat fatal.
Keempat. Penguatan dan pemberdayaan ekonomi umat. Kalangan masyarakat bawah yang paling terdampak secara ekonomi harus dicarikan solusinya. Pelarangan bepergian terutama pekerja informal harus diberikan pilihan. Roda ekonomi mereka harus tetap berjalan. Artinya, masa-masa “karantina” tidak terlalu membebani ekonomi mereka. Misalnya, kotak amal ada yang khusus digunakan sebagai modal keuangan syariah masjid. Peran membantu (QS. Al-Ma’un: 7) bisa jadi alternatif. Jamaah masjid bisa menggunakan dana tersebut dengan akad pinjaman melalui lembaga simpan pinjam atau koperasi masjid.
Kelima. Para kyai atau ustadz di masjid-masjid harus mencari alteratif dakwah tanpa tatap muka, yakni dakwah virtual. Bagaimana pun kondisinya, umat yang sedang cemas dan bingung harus terus diberikan pencerahan agama. Memberikan pemahaman atas ujian wabah Covid-19—yang tidak dianggap sebagai penyakit biasa, tetapi sebagai bahan muhasabah. Bertaubat atas dosa dan kesalahan kepada Allah SWT, sesama dan alam sekitar. Masa ini sebagai masa uzlah (mengasingkan diri) yang disertai sikap hijrah. Meninggalkan sifat-sifat buruk, dan semakin shalih dalam ibadah dan bermasyarakat. Serta semakin meningkat nilai keimanan dan ketaqwaannya.
Dari lima langkah gerak tersebut, menurut hemat penulis bisa menjadi solusi umat dari masjid di tengah mewabahnya Covid-19. Masjid jadi magnet perbaikan umat sekaligus melayani kebutuhan umat. Tulisan ini semoga menjadi inspirasi dari konsep ishlah tsamaniyah (delapan perbaikan) PUI yang disarikan dari Dewan Syariah Pusat PUI. Fungsi masjid memaksimalkan perannya: ishlah al-a’qidah (perbaikan akidah), ishlah al-‘ibadah (perbaikan ibadah), ishlah al-ummah(perbaikan ummat) dan ishlah al-iqtishad (perbaikan ekonomi). Wallahu ‘alam bishowab.  
Penulis adalah Pjs. Ketua Umum PP Pemuda PUI, Alumni Ponpes Nurul Iman, Kuningan dan Ketua Divisi Dakwah DKM Ad-Durul Mantsur, Bogor. 
(ZOOM)

Continue Reading

artikel

Dosa-Dosa Besar dan Macamnya

Published

on

H. Eka Hardiana
Oleh: H. Eka Hardiana

EMBUN PAGI

Di dalam Alquran, Assunnah, Ijma’ para sahabat dan tabi’in, dan penjelasan para ulama, telah dipaparkan jenis-jenis perbuatan dosa yang dilakukan oleh manusia. 

Bila kita meninjau berdasarkan tingkat dosa-dosa tersebut menurut kriteria syar’i, dosa dapat dikelompokkan menjadi dua macam: dosa besar dan dosa kecil.

Dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

اِنْ تَجْتَنِبُوْا كَبٰٓئِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَنُدْخِلْـكُمْ مُّدْخَلًا كَرِيْمًا

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan akan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).”
(QS. An-Nisa’ [4]: Ayat 31)

Allah Ta’ala berfirman:

اَلَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبٰٓئِرَ الْاِثْمِ وَ الْفَوَاحِشَ اِلَّا اللَّمَمَ
“(Yaitu) mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil.”
(QS. An-Najm [53]: Ayat 32)

Dalam hadis sahih disebutkan, “Shalat lima waktu, dari Jumat ke Jumat, dari Ramadhan ke Ramadhan adalah saat penghapusan dosa-dosa yang ada di antara mereka selama dosa-dosa besar ditinggalkan.” (HR. Muslim).

Adapun amal yang dapat menghapus dosa mempunyai tiga tingkatan, yaitu:

1. Penghapusan atau Pengobatan

Penghapusan dosa-dosa kecil yang dsebabkan oleh lemahnya keikhlasan dalam beramal dan melaksanakan haknya.

Diibaratkan semacam tingkatan obat yang lemah yang dapat membantu usaha perlawanan terhadap penyakit scara kuantitas dan kualitas.


2. Perlawanan

Melawan dosa-doa kecil dan peningkatan perlawanan secara gigih sedikit demi sedikit untuk menghapus dosa yang besar.


3. Upaya dan Ikhtiar

Memperkuat usaha penghapusan dosa-dosa kecil sehingga terbangun suatu kekuatan yang dapat menghapuskan sebagian dosa besar.

Dalam kitab hadis, Shahihain, disbutkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda, “Jauhilah tujuh pembinasa!”

Ditanyakan, “Apakah itu ya Rasulullah?”

Beliau bersabda, “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan haq, makan harta anak yatim, makan riba, melarikan diri dari peperangan, dan menuduh wanita (yang telah kawin) yang tidak tahu-menahu dan mukminat dengan tuduhan perzinaan.” (H.R. Bukhari)

Selanjutnya dalam kitab yang sama disebutkan, suatu saat beliau ditanya, “Dosa apa yang terbesar di sisi Allah?” 

Beliau bersabda, “Engkau menjadikan sekutu untuk Allah, sedangkan Dia yang menciptaknmu.”

“Lalu apa lagi?”

Beliau bersabda, “Engkau membunuh anak-anakmu karena engkau takut (kalau) ia makan bersamamu.”

“Lalu apa lagi?”

Beliau bersabda, “Engkau berzina dengan istri tetanggamu.”

Lalu Allah Ta’ala menurunkan yang membenarkan itu:

وَالَّذِيْنَ لَا يَدْعُوْنَ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ وَلَا يَقْتُلُوْنَ النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَـقِّ وَلَا يَزْنُوْنَ 

“dan orang-orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina;”
(QS. Al-Furqan [25]: Ayat 68)


Banyak orang berbeda pendapat dengan memberi kriteria tentang dosa besar, apakah jumlahnya terbatas?

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berpendapat bahwa dosa besar ada empat. Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu berpendapat lain. Ia menyebut dosa besar ada tujuh. Abdullah bin Amr bin Ash mengatakan ada sembilan, kemudian yang lain ada yang mengatakan tujuh puluh dan lain sebagainya.

Berkatalah Abu Thalib Al-Makki, “Aku mengumpulkan pendapat para sahabat, maka aku temukan empat macam dosa besar yang bersemayam di dalam hati, yaitu:
1. Syirik kepada Allah
2. Mengulang-ulangi maksiat
3. Putus asa dari Rahmat Allah
4. Merasa aman dari Hukuman Allah

Kemudian empat dosa besar dari lidah:
1. Bersaksi palsu
2. Menuduh wanita baik-baik berbuat zina
3. Sumpah yang menyesatkan (palsu)
4. Sihir

Tiga dosa besar dalam perut:
1. Meminum arak (khamr)
2. Makan harta anak yatim
3. Makan Riba

Dua macam dosa besar dalam kemaluan:
1. Zina
2. Homoseks

Selanjutnya dua dosa besar pada tangan:
1. Membunuh
2. Mencuri

Pada kaki ada satu, yang melarikan diri dari medan perang. Dan satu bergabung pada seluruh badan, yaitu mendurhakai kedua orang tua.

Mereka yang berpendapat bahwa dosa besar tidak dibatasi dengan jumlah, antara lain, ada yang mengatakan bahwa semua yang jelas dilarang Allah dalam Alquran adalah dosa besar dan yang dilarang Rasulullah Shllallahu alahi wa Sallam adalah dosa kecil.

Sumber:
Kitab Ad-Dau wa Ad-Dawa, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah. Edisi Indonesia: Terapi Penyakit Hati, Qishti Press

Pamoyanan, 15 Sya’ban 1441 H/9 April 2020 M (Zoom)
Continue Reading

@ Copyright - Infokom DPW PUI Jabar