Connect with us

artikel

KETIKA WABAH DAN KONFLIK MENGGANGU IBADAH DI RUMAH ALLAH (Part III)

Published

on

Dr. H. Engkos Kosasih, Lc., M.Ag

Oleh : Dr. H. Engkos Kosasih, Lc., M.Ag
(Ketua DPW PUI Jawa Barat)

Bencana Yang merusak
Berbagi peristiwa wabah itu telah menyebabkan terhentinya salat-salat berjamaah di berbagai masjid, termasuk pula Masjdil Haram. Hal ini telah banyak diketahui semua orang. Al-Azraqy dalam kitabnya “Akhbar Makkah” menyebutkan bahwa pintu masjidl haram bernama Pintu Bani Syaibah itu dikenal dengan sebuat pintu banjir. Ia mengatakan bahwa bisa jadi banjir telah menggeser posisi maqam Ibrahim dari tempatnya semula, sehingga pahatannya itu tepat berada di depan ka’bah”.

Ketika menjelaskan ayat 27 Surat al-hajj, Muhamad al-Muntasir Billah al-Kattany, ia berkata, “Beberapa tahun yang lalu disebutkan bahwa banjir pernah melanda masjidil haram sampai air pun menyentuh pintu ka’bah. Salat di masjdil haram pun dihentikan selama dua hari. Banyak orang yang takut melihat ka’bah yang tidak bisa bertawaf lagi di sekitarnya. Namun sebagian orang nekad bertawaf sambil berenang dan menyelam. Hal ini diikuti sebagian orang yang tidak bisa berenang sehingga mereka pun tenggelam dan tewas. Para pejabat Mekah akhirnya melarang tawaf karena membahayakan nyawa manusia”.

Muhamad al-Shabag al-Makky menyebutkan dalam kitabnya Tahsil al-Maram fi akhar Bait al-Haram” bahwa beberapa kali banjir menerjang masjdil haram yang menyebabkan terhentinya pelaksanaan salat, bahkan terkadang merusakan sebagian bangunan ka’bah. Hanya saja pelarangan ini tidak berjalan lama yaitu sekitar tujuh kali atau lebih saja. Diantaranya adalah banjir tahun 983 H yang mencapai tempat tawaf, bahkan mencapai atap ka’bah, air pun tergenang sehari semalam. Salat jamaah pun dihentikan selama 7 kali salat. Adapaun bencana di luar Mekah, Ibn katsir menyebutkan bahwa pada tahun 774 H, banjir melanda Bagdad samapi merusak pasar dan bangunan-bangunan penting. Mesjid-mesjid pun tidak bisa ditunaikan salat di dalamnya kecuali hanya 3 masjid. Ibn al-Fuwathy juga menyebutkan dalam kitabnya al-Hawadits al-Jami’ah’ bahwa Bagdad telah tenggelam oleh banjir pada tahun 653 H. “Akibat banjir banyak masjid yang rusak seperti masjid al-Manshur, sebagai mesjid pertama di bangun di Bagdad, masjid al-Mahdi di Rasafah, masjid al-Sultan, masjid al-Qasr, sebagian masjid di barat Bagdad dan yang lainnya. Tentu saja semuanya ini menyebkan pelaksanaan shalat berjamah dihentikan karenanya.

Al-Hasan bin Muhamad al-Shafdy menyebutkan dalam kitab “Nuzhatul al-Malik wa al-Mamluk” bahwa pada tahun 717 H banjir besar melanda kota Ba’labak Libanon yang menyebakan banyak masjid rusak dan salat berjamaah pun dihentikan. Ia juga menyebutkan bahwa akibat banjir, dimana-mana terlihat lengang, rumah-rumah rusak, harta benda pun banyak yang hanyut. Banyak juga orang dewasa, wanita dan anak-anak yang tewas terseret banjir. Banjir pun terus terjadi sampai melanda masjid al-A’dham sehingga banyak masjid yang rusak dan salat berjamaah pun dihentikan”.

Akibat Konflik Agama dan Etnis
Dalam sejarah islam, beberapa kali salat Jum’at dan salat berjamah itu dihentikan karena konflik antar pemeluk agama, sekte atau madzhab. Barangkali inilah sejelek-jeleknya penyebab terhalangnya salat berjamaah karena itu berarti menyia-nyiakan agama atas klaim agama pula. Contohnya adalah apa yang disebutkan Ibn katsir dalam Kitab al-Bidayah wa Nihayah tatkala menceritakan tragegi tahun 403 H. ia menyatakan, “Pada bulan Syawal, istri salah seorang pembesar Nasrani di Bagdad itu meninggal. Maka dilakukanlah upacara pemakaman dengan membuat iring-iringan besar sambil membawa salib, di siang hari. Sebagian kalangan Hasyimiyyin tidak senang dengan upacara itu sehingga anak-anak mudanya pun memukuli kepala sang pembesar Nasrani, Beidius. Ia pun segera membalas pukulan itu. Melihat adegan  itu, sontak kaum muslimin marah dan merangsek ke kerumunan jamaah Nasrani. Bahkan mereka pun segera mengepung gereja itu dan sebagian orang pun masuk dan menjarah segala barang yang ada di dalamnya. Akibatnya, orang-orang Nasrani se-Bagdad pun marah dbuatnya. Terjadilah konflik di Bagdad sehingga salat Jum’at dan salat berjamaah pun dihentikan. Sayang sekali, fitnah terjadi gara-gara ritual kecil lalu berubah menjadi konflik horisontal yang berakibat terjadnya pembunuhan, perampokan dan penjarahan di mana-mana. Itu semua mengakibatan terhentukan aktivitas keduniaan maupun keagamaan!”.

Hal serupa terjadi tatkala pecah konflik antara umat islam dan Yahudi di Bagdad sehingga menyebabkan terhentinya salat Jum’at dan salat berjamaah, di berbagai sudut kota Bagdad. Ibn katsir menyebutkan bahwa pada tahun 573 H terjadi konflik antara Yahudi dan komunitas Islam pinggiran. Tatkala hari Jum’at tiba, kerumunan muslim pinggiran ini melarang pelaksanaan salat Jumat di beberapa masjid, lalu mereka menjarah pasar parfum milik kelompok yahudi. Polisi pun tidak bisa berbuat banyak untuk mencegahnya”. 

Demikianlah, konflik Islam-Kristen telah menyebabkan terhentinya salat Jum’at dan salat berjamaah. Demikian konlik intrenal umat islam yaitu antara Syiah dan Sunni, telah banyak disinggung dalam sejarah kita. Ibn al-jauzy dalam kitab al-Muntadham menyebutkan peristiwa tahun 349 H bahwa  telah pecah konflik antara kelompok Syiah dan Sunni di Bagdad sehingga menyebabkan salat Jum’at tidak bisa digelar di berbagai masjid kecuali di sebuah masjid milik komunitas Syiah.

Bahkan pemberhentian salat berjamaah dan Jum’at pun pernah dihentikan karena konflik antar madhab akibat sifat fanatisme buta atas madzhabnya masing-masing. Ibn katsir pernah menyebutkan bahwa tahun 447 H telah terjadi konflik antar pengikut Asy’ariyyah dengan Hambaliyyah di Bagdad. Kelompok pengikut Hambaliyyah jauh lebih kuat sehingga dengan leluasa mereka melarang pengikut Asy’ariyyah untuk melaksanakan salat Jum’at maupun salat berjamaah.

Perang yang merusak
Penghentian shalat dan ibadah di berbagai masjid karena perang, tidak lantas menjadikan tanah haram juga terbebas dari tragedi itu. Tragedi pertama yang menimpa penduduk Madinah adalah tindakan represif terhadap penduduk Madinah tahun 63 H yang dilakukan pasukan Yazid bin Muawiyah. Al-Qadhi Iyyad dalam kitab Ikmal al-Maualiim bi Fawaid Muslim menceritakan bagaimana tindakan barbar pasukan Yaid di Madinah.”Tentara Yazid pun menyerbu Madinah dan membunuh siapa saja selama 3 hari lamanya. Beberapa sahabat dan anak-anak kaum muhajirin dan Anshar itu ikut terbunuh. Akibatnya salat di masjid nabawipun dihentikan selama tragedi itu terjadi”. 

Tragedi berdarah yang paling populer menimpa masjidil haram adalah tindakan Abu Thair al-Qaramity yang memimpin pasukannya membantai para jamaah haji di hari tarwiyyah pada tahun 317 H. ibadah haji pun dihentikan pada tahun itu. Ribuan orang dibunuh di dalam masjidil haram, hajar aswad pun dicabut dan dipindahkan ke daerah timur Saudi yaitu al-Ihsa. Imam Adz-Dzahaby dalam Tarikh al-islam mengatakan, “Akibat tragedi berdarah itu, wukuf di Arafah dibatalkan, termasuk pula kegiatan ibadah Jum’ah dan salat berjamaah”.

Tindakan keji kaum Qaramitah juga terjadi pada lain waktu. Sejarawan Abdul Malik al-Ashamy dalam kitab Samth al-Nujum al-Awaly mengatakan bahwa pada tahun 250 H, Pemberontak Syiah pimpinan Ismail bin Yusuf al-Akhyadhar yang dikenal dengan sebutan sang pembantai, itu masuk ke kota Mekah. Gubenur Mekah saat  itu pun melarikan diri. Ismail dan pasukannya pun mengepung rumah sang Gubernur lalu merampok seluruh isi rumahnya juga rumah-rumah di sekitarnya. Kemudian ia naik ke Ka’bah lalu menyobek kiswahnya dan juga perbendaharaan masjidil haram. Ia merampok mekah dan membakar sebagiannya. Setelah 50 hari menduduki kota Mekah, ia pun bergegas pergi.

Setelah itu, Ismail sang pembantai pun berniat menyerang kota Madinah. Di sanapun ia membuat kerusakan di mana-mana sehingga salat berjamaah dihentikan selama hampir setengah bulan. Kemudian ia kembali ke Mekah lalu mengepungnya sampai banyak yang mati kelaparan dan kehausan. Saat itu juga berbarengan dengan wukuf di Arafah, maka ia pun membunuh 1100 jamaah haji. Para jamaah haji pun melarikan diri dari Arafah sehingga tidak tersisa satu jamaah pun kecuali Ismail dan para tentaranya”.

Pengalaman pahit penduduk Madinah akibat kekejaman pasukan Ismail, juga terulang lagi tatkala dua pemberontak Syiah bernama Muhamad dan Ali, putra Husein bin ja’far al-Shadiq. Keduanya memimpin pasukan menyerbu Madinah tahun 271 H dan membuat kerusakan di dalamnya. Ibn katsir dalam al-Bidayah menyebutkan bahwa keduanya itu membunuh banyak orang, merampok semua harta. Akibatnya salat Juma’t dan salat berjamaah di Masjid Nabawi pun dihentikan”. Hal yang sama terjadi tatkala pecah Perang Duania Pertama. Pengarang kitab Muallimuu al-Masjid al-Nabawi ketika menjelaskan biografi Sykeh Alifa Hasyim yang saat itu ia adalah imam masjid nabawi. Tatkala pasukan Syarif bin Husein bin Ali mengepung Madunah, maka Gubernur Madinah bernama Fakhry Basya itu menjadikan masjid nabawi sebagai markas militer. Mimbar masjid pun dipaki sebagai menara pengintai. Hal ini mengakibatkan salat Jum’at dan salat berjamaah pun dihentikan karenanya. Adzan pun tidak pernah dikumandangkan dari mimbar untuk beberapa saat. (Zoom)
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

artikel

KEHARUSAN TOBAT DAN KEUTAMAANNYA

Published

on

Ilustrasi by Google
EMBUN PAGI
Oleh: H. Eka Hardiana

Keharusan Taubat
Tobat dari dosa yang dilakukan orang Mukmin dalam perjalanannya kepada Allah, merupakan kewajiban beragama yang tak terelakan, diperintahkan Alquran Al-Karim dan dianjurkan sunnah Nabawy.

Semua ulama telah sepakat, baik ulama zhahiriyah, bathiniyah, fikih maupun pemerhati perilaku telah menyepakati hal ini. Sampai-sampai Sahl bin Abdullah berkata, “Siapa yang mengatakan bahwa tobat bukan wajib, maka dia adalah orang kafir, dan siapa yang setuju dengan pendapat ini, juga orang kafir. Tidak ada sesuatu yang lebih wajib bagi manusa selain dari tobat, tidak ada hukuman yang lebih keras daripada hukuman karena tidak ingin mengetahui masalah tobat. Padahal tidak sedikit manusia yang tidak menguasai ilmu tobat

[Bersambung]

Sumber:
Kitab At-Tauba IIallah, Dr. Yusuf Al-Qardhawy, Penerbit Maktabah Wahbiyah Cairo, cet 1 – 1998

Pamoyanan, 19 Sya’ban 1441 / 13 April 2020 (Zoom)
Continue Reading

artikel

COVID-19 DAN OPTIMALISASI FUNGSI MASJID

Published

on


Kana Kurniawan
Oleh: Kana Kurniawan)*

Sejak wabah Covid-19 masif merebak. Telah terjadi perubahan ritual keagamaan signifikan. Baik yang wajib maupun yang sifatnya syiar. Pada kawasan zona merah, ulama dunia maupun MUI mengeluarkan fatwa diperbolehkan melaksanakan sholat berjamaah di masjid, sholat jumat diganti sholat dzuhur di rumah dan menghindari syiar dakwah yang melibatkan banyak orang. MUI daerah juga mengeluarkan himauan serupa, terutama di kawasan zona merah. Sebagaiman kaidah, menolak kemafsadatan diutamakan daripada mengambil kemaslahatan (dar’ul mafasid muqodam ‘ala jalbi al-masholih).
Tak bisa dipungkiri, upaya pemutusan mata rantai virus Covid-19 yang digalakan pemerintah pusat dan derah melalui penutupan pusat perkantoran, tempat wisata, batasan jam buka swalayan dan pertokoan menjadikan pergerakan ekonomi menurun. Terutama para pekerja informal sangat terancam. Orang mau belanja ke luar rumah khawatir, dan cemas dengan sebaran Covid-19 yang masif. Belum lagi para pengusaha terpaksa merumahkan karyawan, tapi harus membayar upah. Pilihannya: bertahan waktunya terbatas atau pemutusan hubungan kerja.
Konsep Al-Ma’un: Masjid Jadi Alternatif
Memang era sekarang adalah era dilematis di semua sektor. Alangkah baiknya kita berpikir mencari jalan dari kekuatan umat yang ada, yakni memaksimalkan fungsi masjid. Meski sholat berjamaah untuk sementara tidak di masjid. Tapi fungsi lain harus tetap dipertahankan bahkan jadi alternatif meringankan beban ummat. Konsep lock down, sebagai cara memutus sebaran virus dipandang sangat efektif. Tapi keberlangsungan hidup umat harus tetap diperhatikan. Kiranya konsep QS. Al-Ma’unbisa menjadi landasan operasional pada masa sekarang ini.
Pertama. Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) membuka pos layanan terpadu umat. Umat diedukasi dengan pentingnya meningkatkan kesalehan sosial. Peduli lingkungan beserta kondisi masyarakat. Mengkordinir para dermawan yang mau memberikan bantuan langsung kepada masyarakat. Kebutuhan umat atau dhu’afa yang terdampak dan sedang melakukan self isolation, atau social distancing harus diutamakan. Mendata warga sekitar bersama pengurus RT/RW. Lalu mendistribusikan secara langsung melalui RT/RW setempat tanpa melibatkan banyak orang. Selain itu, DKM bisa mendirikan dapur umum, membuat nasi sedekah bagi para pekerja informal.
Kedua. DKM menginisiasi kerjasama dengan lembaga-lembaga filantropi seperti BAZNAS RI, Rumah Zakat, ACT, Dhompet Dhuafa, P3K PUI, LazisMU dan LazisNU serta lembaga lainnya. Agar partisipasi lembaga-lembaga tersebut lebih maksimal dalam kerja kolaboratif. Dalam situasi darurat, lembaga filantropi banyak yang memiliki sumber daya yang digunakan dalam situasi kedaruratan. Mulai dari relawan, produk layanan, obat-obatan dan lain sebagainya.
Ketiga. Melalui pengeras suara, akun media sosial atau WhatsApp Group (WAG) jamaah. Pos terpadu DKM mengedukasi warga terkait pola hidup sehat dan halal serta pengetahuan Covid-19 serta sejenis penyakit lainnya. DKM menggandeng para medis di lingkungannya. Sebab, di kalangan masyarakat masih banyak yang minim informasi tentang bahaya virus dan cara penanganannya. Seperti kejadian di suatu daerah, ada salahsatu warganya yang meninggal karena Covid-19 lalu oleh keluarganya dimandikan dan dikuburkan layaknya jenazah bukan karena Covid-19. Demikian sikap tanpa informasi yang baik, bisa berakibat fatal.
Keempat. Penguatan dan pemberdayaan ekonomi umat. Kalangan masyarakat bawah yang paling terdampak secara ekonomi harus dicarikan solusinya. Pelarangan bepergian terutama pekerja informal harus diberikan pilihan. Roda ekonomi mereka harus tetap berjalan. Artinya, masa-masa “karantina” tidak terlalu membebani ekonomi mereka. Misalnya, kotak amal ada yang khusus digunakan sebagai modal keuangan syariah masjid. Peran membantu (QS. Al-Ma’un: 7) bisa jadi alternatif. Jamaah masjid bisa menggunakan dana tersebut dengan akad pinjaman melalui lembaga simpan pinjam atau koperasi masjid.
Kelima. Para kyai atau ustadz di masjid-masjid harus mencari alteratif dakwah tanpa tatap muka, yakni dakwah virtual. Bagaimana pun kondisinya, umat yang sedang cemas dan bingung harus terus diberikan pencerahan agama. Memberikan pemahaman atas ujian wabah Covid-19—yang tidak dianggap sebagai penyakit biasa, tetapi sebagai bahan muhasabah. Bertaubat atas dosa dan kesalahan kepada Allah SWT, sesama dan alam sekitar. Masa ini sebagai masa uzlah (mengasingkan diri) yang disertai sikap hijrah. Meninggalkan sifat-sifat buruk, dan semakin shalih dalam ibadah dan bermasyarakat. Serta semakin meningkat nilai keimanan dan ketaqwaannya.
Dari lima langkah gerak tersebut, menurut hemat penulis bisa menjadi solusi umat dari masjid di tengah mewabahnya Covid-19. Masjid jadi magnet perbaikan umat sekaligus melayani kebutuhan umat. Tulisan ini semoga menjadi inspirasi dari konsep ishlah tsamaniyah (delapan perbaikan) PUI yang disarikan dari Dewan Syariah Pusat PUI. Fungsi masjid memaksimalkan perannya: ishlah al-a’qidah (perbaikan akidah), ishlah al-‘ibadah (perbaikan ibadah), ishlah al-ummah(perbaikan ummat) dan ishlah al-iqtishad (perbaikan ekonomi). Wallahu ‘alam bishowab.  
Penulis adalah Pjs. Ketua Umum PP Pemuda PUI, Alumni Ponpes Nurul Iman, Kuningan dan Ketua Divisi Dakwah DKM Ad-Durul Mantsur, Bogor. 
(ZOOM)

Continue Reading

artikel

Dosa-Dosa Besar dan Macamnya

Published

on

H. Eka Hardiana
Oleh: H. Eka Hardiana

EMBUN PAGI

Di dalam Alquran, Assunnah, Ijma’ para sahabat dan tabi’in, dan penjelasan para ulama, telah dipaparkan jenis-jenis perbuatan dosa yang dilakukan oleh manusia. 

Bila kita meninjau berdasarkan tingkat dosa-dosa tersebut menurut kriteria syar’i, dosa dapat dikelompokkan menjadi dua macam: dosa besar dan dosa kecil.

Dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

اِنْ تَجْتَنِبُوْا كَبٰٓئِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَنُدْخِلْـكُمْ مُّدْخَلًا كَرِيْمًا

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan akan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).”
(QS. An-Nisa’ [4]: Ayat 31)

Allah Ta’ala berfirman:

اَلَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبٰٓئِرَ الْاِثْمِ وَ الْفَوَاحِشَ اِلَّا اللَّمَمَ
“(Yaitu) mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil.”
(QS. An-Najm [53]: Ayat 32)

Dalam hadis sahih disebutkan, “Shalat lima waktu, dari Jumat ke Jumat, dari Ramadhan ke Ramadhan adalah saat penghapusan dosa-dosa yang ada di antara mereka selama dosa-dosa besar ditinggalkan.” (HR. Muslim).

Adapun amal yang dapat menghapus dosa mempunyai tiga tingkatan, yaitu:

1. Penghapusan atau Pengobatan

Penghapusan dosa-dosa kecil yang dsebabkan oleh lemahnya keikhlasan dalam beramal dan melaksanakan haknya.

Diibaratkan semacam tingkatan obat yang lemah yang dapat membantu usaha perlawanan terhadap penyakit scara kuantitas dan kualitas.


2. Perlawanan

Melawan dosa-doa kecil dan peningkatan perlawanan secara gigih sedikit demi sedikit untuk menghapus dosa yang besar.


3. Upaya dan Ikhtiar

Memperkuat usaha penghapusan dosa-dosa kecil sehingga terbangun suatu kekuatan yang dapat menghapuskan sebagian dosa besar.

Dalam kitab hadis, Shahihain, disbutkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda, “Jauhilah tujuh pembinasa!”

Ditanyakan, “Apakah itu ya Rasulullah?”

Beliau bersabda, “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan haq, makan harta anak yatim, makan riba, melarikan diri dari peperangan, dan menuduh wanita (yang telah kawin) yang tidak tahu-menahu dan mukminat dengan tuduhan perzinaan.” (H.R. Bukhari)

Selanjutnya dalam kitab yang sama disebutkan, suatu saat beliau ditanya, “Dosa apa yang terbesar di sisi Allah?” 

Beliau bersabda, “Engkau menjadikan sekutu untuk Allah, sedangkan Dia yang menciptaknmu.”

“Lalu apa lagi?”

Beliau bersabda, “Engkau membunuh anak-anakmu karena engkau takut (kalau) ia makan bersamamu.”

“Lalu apa lagi?”

Beliau bersabda, “Engkau berzina dengan istri tetanggamu.”

Lalu Allah Ta’ala menurunkan yang membenarkan itu:

وَالَّذِيْنَ لَا يَدْعُوْنَ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ وَلَا يَقْتُلُوْنَ النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَـقِّ وَلَا يَزْنُوْنَ 

“dan orang-orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina;”
(QS. Al-Furqan [25]: Ayat 68)


Banyak orang berbeda pendapat dengan memberi kriteria tentang dosa besar, apakah jumlahnya terbatas?

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berpendapat bahwa dosa besar ada empat. Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu berpendapat lain. Ia menyebut dosa besar ada tujuh. Abdullah bin Amr bin Ash mengatakan ada sembilan, kemudian yang lain ada yang mengatakan tujuh puluh dan lain sebagainya.

Berkatalah Abu Thalib Al-Makki, “Aku mengumpulkan pendapat para sahabat, maka aku temukan empat macam dosa besar yang bersemayam di dalam hati, yaitu:
1. Syirik kepada Allah
2. Mengulang-ulangi maksiat
3. Putus asa dari Rahmat Allah
4. Merasa aman dari Hukuman Allah

Kemudian empat dosa besar dari lidah:
1. Bersaksi palsu
2. Menuduh wanita baik-baik berbuat zina
3. Sumpah yang menyesatkan (palsu)
4. Sihir

Tiga dosa besar dalam perut:
1. Meminum arak (khamr)
2. Makan harta anak yatim
3. Makan Riba

Dua macam dosa besar dalam kemaluan:
1. Zina
2. Homoseks

Selanjutnya dua dosa besar pada tangan:
1. Membunuh
2. Mencuri

Pada kaki ada satu, yang melarikan diri dari medan perang. Dan satu bergabung pada seluruh badan, yaitu mendurhakai kedua orang tua.

Mereka yang berpendapat bahwa dosa besar tidak dibatasi dengan jumlah, antara lain, ada yang mengatakan bahwa semua yang jelas dilarang Allah dalam Alquran adalah dosa besar dan yang dilarang Rasulullah Shllallahu alahi wa Sallam adalah dosa kecil.

Sumber:
Kitab Ad-Dau wa Ad-Dawa, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah. Edisi Indonesia: Terapi Penyakit Hati, Qishti Press

Pamoyanan, 15 Sya’ban 1441 H/9 April 2020 M (Zoom)
Continue Reading

@ Copyright - Infokom DPW PUI Jabar