Connect with us

Kajian

Garda Pangan Jangan Dilupakan

Published

on

Prof Dr Luki Abdulah
Wabah Covid-19 kini memasuki bulan kedua di Indonesia. Penyebaran wabah penyakit ini sangat cepat hingga saat ini telah menerpa 22 provinsi. Epicentrum Covid-19 adalah Jakarta, yang merupakan Ibukota tempat mencari nafkah masyarakat sub-urban baik yang berasal dari kota sekitarnya, provinsi bahkan dari pulau di luar Pulau Jawa. Merebaknya wabah penyakit ini sungguh super cepat dan tidak bisa diduga dari mana dan dari siapa penularannya.
Berbagai upaya baik pemerintah pusat, pemerintah daerah khususnya DKI Jakarta maupun seluruh komponen masyarakat terfokus semua aktivitasnya menghadapi penyakit ini. Pemberlakuan work from home menjadi satu cara agar terjadi social distancing untuk menghentikan penyebaran Corona. Masyarakat dan pemerintah bahu membahu melakukan berbagai upaya sanitasi lingkungan ataupun proteksi diri agar tidak menjadi beban tenaga medis yang menjadi garda terdepan dalam penanganan Covid-19.
Saking fokusnya kita semua yang ada di urban dengan Covid-19, kita hampir melupakan saudara-saudara kita di pedesaan yang berprofesi sebagai petani, peternak dan nelayan. Kita yang ada di kota sangat sibuk dengan isu Corona padahal selama stay home kita disuplai pangan oleh petani, peternak dan nelayan. Urusan sekolah, bekerja, berdagang,kontrak proyek, membangun gedung, wisata, produksi di pabrik, usaha transportasi boleh ditunda… tetapi urusan pangan tidak bisa ditunda. Ini soal hidup dan mati. Pentingnya kita mencegah dan menanggulangi Covid-19 sama pentingnya dengan kita memproduksi pangan. Oleh karena itu, petani, peternak dan nelayan adalah garda pangan terdepan (seperti halnya tenaga medis menjadi garda terdepan penanganan covid-19), yang harus diperhatikan juga kesehatannya dan jangan sampai terkena wabah Covid-19. Mereka akan sangat repot, ditengah kondisi mereka yang sulit untuk menjangkau fasilitas kesehatan yang serba terbatas.
Petani, peternak dan nelayan benar-benar secara sistematik harus dilindungi oleh Pemerintah baik pusat maupun daerah. Sekali mereka terpapar Covid-19 (a’udzubillahi mindzaalik) maka penyebaran akan sulit dibendung, karena kondisi kultural dan sosial mereka yang guyub sering berkumpul, menjenguk tetangga sakit, serta terbatasnya alat pelindung diri yang dimiliki oleh keluarga mereka. Tidak bisa terbayangkan jika ini terjadi dan kemungkinan akan menyebabkan gangguan pada produksi bahan pangan, sehingga mengakibatkan kelangkaan (shortage) yang berdampak jangka panjang. Sementara itu diyakini pemerintah belum siap memiliki stok yang cukup untuk bahan pangan, terutama sumber protein hewani yang sistem penyimpanannya tidak sederhana.
Padahal dalam waktu yang kurang dari satu bulan Ramadhan akan datang dan harus dipastikan kebutuhan pangan bisa tercukupi. Sebenarnya Ramadhan bisa menjadi hikmah bagi masyarakat muslim yang berpuasa, karena dengan menahan lapar dan dengan tidak mengkonsumsi pangan selama puasa dapat mengurangi tingkat kebutuhan pangan. Namun seperti biasanya dan ini yang terjadi secara tradisi, di bulan Ramadhan justru kebutuhan pangan malah meningkat. Inilah yang menjadi kekahawatiran apabila kondisi kesehatan petani, peternak dan nelayan terganggu oleh Covid-19. Kemungkinan import bahan pangan juga tidak mudah, karena beberapa negara sumber komoditi import juga mengalami persoalan yang sama akibat Covid-19 ini.
Sistem logistik pangan antar wilayah tidak dalam kondisi normal dengan adanya pembatasan pelaku usaha logistik dan karantina wilayah, sehingga stok bahan pangan bisa terhambat dan bisa menyebabkan supply shock. Selain itu pasar-pasar tradisional, supermarket dan grosir-grosir bahan pangan saat ini mengalami penurunan aktivitas, karena pembatasan jam buka untuk menghindari kerumunan agar tidak terjadi penyebaran wabah penyakit. Jika hal ini tidak diambil tindakan yang masif, maka masyarakat tidak akan mudah mendapatkan bahan pangan dan berpotensi terganggunya asupan gizi yang memadai dan kesehatan masyarakat.
Dilema produksi dan permintaan bahan pangan sudah mulai terasa sebagai dampak wabah Covid-19. Dalam kondisi pedesaan tidak terganggu dengan wabah covid-19, petani, peternak dan nelayan masih bisa menghasilkan bahan pangan. Petani dan peternak sudah bersiap menghasilkan barang yang akan dijual untuk suplai selama Ramadhan, disisi lain kondisi market di kota semakin lesu akibat terbatasnya akses masyarakat ke pasar karena harus stay home (masyarakat tidak mau ada resiko terpapar dengan datang ke kerumunan di pasar). Berdasarkan pantauan di lapangan dari para pelaku usaha ternak, banyak peternak mengeluh karena harga ayam, kambing, domba dan sapi turun hingga dibawah harga pokok produksi. Baiklah masalah turun harga dan berkurangnya keuntungan mungkin saja bukan prioritas saat kondisi seperti seperti ini. Namun mereka memerlukan kepastian kapan usaha mereka akan pulih kembali. Semakin cepat kondisi normal, maka insyaallah semakin cepat juga pemulihan ekonomi pedesaan. Oleh karena itu desa seyogyanya menjadi wilayah yang ‘tidak boleh’ tersentuh Corona, karena desa adalah lumbung pangan.
Bayangkan jika penyebaran Covid-19 sampai ke pedesaan apa yang akan terjadi?. Produksi dan suplai pangan akan terganggu, pasar dan grosir bahan pangan tidak optimal menyediakan komoditi, dan akses masyarakat kota terhadap pangan terbatas. Hal ini jangan sampai terjadi dan harus segera diantisipasi, dikalkulasi dengan cermat, hal-hal apa yang harus mendapat perhatian dari pemerintah, pengusaha dan masyarakat agar suplai shock ini tidak terjadi.Berkaca dari dampak Covid-19 yang berpotensi menyebabkan persoalan kelangkaan bahan pangan, maka ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian pemerintah dan masyarakat:
  1. Masyarakat yang kini berada di urban terutama di Jakarta harus menyadari bahwa berdiam di Jakarta dan tidak mudik merupakan perbuatan yang mulia karena dapat mengurangi resiko penyebaran di desa mereka berasal. Perlu disosialisasikan bahwa berperilaku tidak mudik dan tetap di rumah adalah salah satu perjuangan bagi kemanusiaan dan negara. Menjaga nyawa diri sendiri dan orang lain adalah sebuah kewajiban dalam Islam. Jikalau kita tidak pernah berjasa bagi negara dan orang lain maka saatnya sekarang melakikan hal ini.
  2. Pemerintah harus sekuat tenaga dan menghasilkan program inovatif untuk menahan masyarakat kota agar tidak mudik menjelang ramadahan dan lebaran, misal dengan pembatasan angkutan, kontrol ketat di station dan pool angkutan darat, bandara dan dermaga, dan penyediaan jatah hidup (jadup) bagi warga yang tidak bisa mudik dan tidak bisa mencari nafkah. Koordinasi antar pimpinan daerah dan pusat menjadi sangat penting. Saat ini bukan masanya untuk menonjolkan siapa yang paling berpengaruh, tetapi siapa yang legowo melayani masyarakat agar tidak menjadi pembawa bencana berkepanjangan bagi warga desa pemasok bahan pangan.
  3. Pemerintah perlu menjamin penyediaan pangan yang mudah diakses oleh masyarakat kota yang tetap tinggal di kota/rumah dengan menfungsikan pasar daerah yang lebih terkoordinir dan lebih lebih baik tatakelolanya untuk menyediakan bahan pangan. Kerjasama pemerintah dengan jasa transportasi online menjadi sangat penting, masyarakat dapat memanfaatkan jasa pengiriman bahan pangan lewat secara online, selain memudahkan untuk mendapat bahan pangan juga membantu pelaku jasa transportasi online tetap berpenghasilan. Jika hal ini tidak terwujud makan arus mudik tidak akan terbendung dengan berbagai akibatnya di pedesaan.
  4. Pemerintah perlu mengantisipasi dan memberikan perhatian lebih disaat sekarang untuk memastikan pasokan pangan dari desa ke kota dengan tetap memperhatikan keuntungan bagi petani, peternak dan nelayan. Perlu insentif berupa kemudahan permodalan, pendampingan secara online atau menggunakan media lain, input produksi dan akses pasar bagi para garda pangan ini agar mereka tetap bersemangan berproduksi dalam rangka menyangga suplai import tidak bisa dilakukan. Pemerintah juga harus berupaya agar mereka terjaga kesehatannya sehingga terus bisa beraktivitas di ladang, sawah,kandang dan laut atau danau.
  5. Edukasi segera tentang manajemen kesehatan dan penanganan Covid-19 kepada para tokoh agama, tokoh masyarakat, ulama, para pimpinan rukun warga melalui berbagai media yang dapat dijangkau oleh mereka tanpa harus berkerumun. Agar masyarakat desa mulai memahami bagaimana mencegah dan menangani wabah ini.
Semoga dengan berbagai ikhtiar ini Allah azza wa jalla melindungi kita semua dan juga para garda pangan di desa, sehingga mereka masih bisa menghasikan bahan pangan untuk dipasok ke kota. (Zoom/pui.or.id)
Prof Dr Luki Abdulah
Guru Besar IPB
Anggota Dewan Pakar Pusat PUI
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kajian

Qiyāmullail Menolak Adzab Mengundang Rahmat

Published

on

Oleh : Dr. Wido Supraha (Wakil Ketua DPP PUI)
Qiyāmullail menolak adzab, demikianlah pelajaran yang dapat kita ambil dari kisah mimpi Abdullāh ibn ‘Umar r.a. ketika usia muda belia, yang pernah diceritakannya kepada Hafshah r.a., dan Hafshah r.a. menceritakannya kepada Nabi , tentang diperlihatkannya Neraka. Ketika itu, Nabi justru menjawab makna mimpi tersebut dengan memotivasi Ibn ‘Umar r.a. agar selalu qiyāmullail, berdiri di setiap malam sambil membaca Al-Qur’ān dan menikmati kandungannya, qiyām ma’a Al-Qur’ān.

Jika Nabi Muhammad diwajibkan untuk selalu qiyāmullail, sebagaimana Surat Al-Isrā’ [17] ayat 79, agar menempati Tempat Terpuji (al-Maqām al-Mahmūd), tempat beliaumemohonkan syafa’atnya bagi umatnya, maka siapapun yang mengikuti Nabi dalam qiyāmullail tentu akan mendapatkan pujian dari Allāh sebagaimana Surat As-Sajdah [32] ayat 16 dan Surat Adz-Dzāriyat [51] ayat 17, yaitu digelari dengan muhsinin sebagai ciri keimanan dan ketakwaan. 

Ilustrasi by Google

Nikmatilah qiyāmullail sebagaimana Nabi menikmatinya hingga bengkak kedua telapak kaki beliau . Begitu begitu menikmatinya, sehingga terkadang beliau membaca Surat Al-Baqarah, An-Nisā dan Āli ‘Imrān dengan tartil, penuh pemaknaan, di rakaat pertama qiyam-nya. Terkadang cara beliau menikmati qiyām-nya dengan mengulang-ulang satu ayat sepanjang malamnya, baik ketika berdiri, ruku’, sujud dan berdo’a, seperti ketika membaca Surat Al-Māidah [5] ayat 118.

Keshalihan individu didorong untuk melahirkan keshalihan sosial. Setiap manusia yang telah merasakan nikmatnya qiyāmullail secara individu didorong untuk membagi kenikmatan itu kepada orang-orang terdekatnya, dimulai dari keluarganya, seperti istri, anak bahkan menantu, sebagaimana perintah Allah dalam Surat Thaha [20] ayat 132. Suami yang selalu berusaha membangunkan istrinya, seperti dengan memercikkan air ke wajah istri tercintanya, sehingga mereka berdua dapat melakukan qiyāmullail berjama’ah akan mendapatkan tambahan gelar: adz-Dzākirīn wa adz-Dzākirāt. Begitu pun teladan Nabi yang membangunkan Ali r.a. dan Fathimah r.a. untuk mengerjakan qiyāmullail menegaskan mulianya saling tolong-menolong (ta’āwun) dalam kebaikan dan ketakwaan.

Meraih nikmatnya beribadah harus menjadi keinginan kuat hamba Allah yang pandai bersyukur. Membiasakan tidur di awal malam agar dapat bangun di ⅓ akhir malam untuk menikmati kandungan bacaan Al-Qur’an-nya sembari menguatkan hafalan (murāja’ah) adalah kebiasaan orang-orang shalih. Kenikmatan yang dampaknya tidak saja melahirkan kesehatan jiwa namun juga kesegaran jasad di sepanjang hari itu.

Mengejar kualitas qiyāmullail adalah lebih utama daripada sekedar kuantitas jumlah raka’at. Jika mengantuk maka boleh ditidurkan kembali sekedar untuk menghilangkan rasa kantuk dan agar proses tadabbur Al-Qur’ān tetap dapat berjalan baik. Setiap manusia tentu memiliki kebiasaan qiyāmullail yang tidak sama dalam hal kuantitas dan kualitas, namun tetaplah bertahan dalam menjaga kebaikan yang telah dimulai seperti merutinkan qiyāmullail ini, karena meninggalkan kebiasaan baik adalah sebuah kehinaan. 

Seorang laki-laki yang berat menegakkan qiyāmullail tanpa adanya udzur adalah karena disebabkan kedua telinganya yang dikencingi syaithan paska melilitkan 3 (tiga) ikatan pada diri manusia. Ketiga ikatan ini hanya bisa dilepas dengan berusaha bangun di waktu malam sembari mengingat Allāh , berwudhu dan kemudian qiyāmullail. Tegakkanlah qiyāmullail meskipun hanya witir sebelum tidur. Tegakkanlah qiyāmullail meskipun hanya sempat shalat witir satu rakaat menjelang masuk waktu Subuh.

Tidak saja menolak adzab Allāh, kebiasaan manusia membagi salam dan makanan di siang hari, dilanjutkan qiyāmullail di waktu manusia sedang tidur, akan mengundang rahmat-Nya dan memasukkan pengamalnya ke Jannah dengan penuh kedamaian. Oleh karenanya, qiyāmullail adalah shalat yang afdhal setelah shalat wajib (fardhu), sementara qiyāmullail yang afdhal adalah yang paling lama berdirinya.

Kebiasaan qiyāmullail akan melahirkan pola tidur Muslim dalam 3 (tiga) waktu yakni tidur di awal malam, dilanjutkan paska qiyāmullail sambil menanti Subuh (jika dibutuhkan), serta tidur menjelang Zhuhr yang disebut qailulah (jika mudah dikerjakan), sebagaimana surat An-Nūr [24] ayat 58. Kehidupan harian seorang Muslim fāqih dengan demikian sejatinya telah dimulai sekitar kurang dari pukul 2 (dua) dinihari, karena ⅓ (sepertiga) akhir malam dimulai di waktu ini. Di waktu inilah ia mulai mencari waktu yang paling mustajab sambil berdiri dan ia pun menyempurnakannya dengan banyak memohon ampun (istighfār) di waktu sahur.

Sekali lagi, menikmati qiyāmullail harus menjadi target utama. Agar tidak cepat lelah, hendaknya memulai malam dengan 2 (dua) raka’at yang ringan. Begitu utama keutamaan qiyāmullail sehingga ketika karena sesuatu hal seseorang tidak dapat meninggalkannya dibolehkan menggantinya dengan 12 (dua belas) rakaat di di siang hari. Begitu utama bacaan Al-Qur’an di kala qiyāmullail, sehingga tatkala suatu malam ia tertidur sehingga tidak dapat membaca bagian (hizb) yang direncanakannya, maka dapat diganti dengan membacanya di antara waktu Subuh dan Zhuhr, insyā Allāh akan mendapatkan pahala yang sama. Wallāhu a’lam. (Zoom)
Continue Reading

Berita UPZ

Sedekah Subuh, Sedekah Harian Anda dan Keluarga

Published

on

Nah, di antara sekian banyak waktu dalam sehari, subuh merupakan saat yang paling utama untuk bersedekah. Sedekah subuh, begitu orang-orang biasa menyebutnya. Keutamaan sedekah pada waktu subuh tertuang dalam hadis yang artinya:
“Tidak ada satu subuh pun yang dialami hamba-hamba Allah kecuali turun kepada mereka dua malaikat. Salah satu di antara keduanya berdoa, ‘Ya Allah, berilah ganti bagi orang yang berinfak’, sedangkan yang satunya lagi berdoa ‘Ya Allah, berilah kerusakan bagi orang yang menahan hartanya.” – HR. Bukhari & Muslim
1. Didoakan Malaikat
Dari hadis di atas diketahui bahwa siapa pun yang melaksanakan sedekah subuh, maka baginya kemudahan rezeki. Sebaliknya, malaikat mendoakan kebinasaan dan kebangkrutan pada siapa saja yang tidak mau berinfak dan menyumbangkan sebagian hartanya.
2. Dilipat Gandakan Hartanya
Berbagi tidak akan membuat kamu miskin. Begitu juga jika kamu rutin melakukan sedekah subuh. Membiasakan diri bersedekah justru akan mendatangkan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka, dengan jumlah yang berlipat banyaknya. Seperti firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah: 261 yang artinya,
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang dia kehendaki. Dan Allah maha luas (karunia-Nya) lagi maha mengetahui.” 
3. Menghapus Dosa
Sedekah adalah amalan tambahan yang dapat menghapus dosa. Kalau kamu ingin diampuni dari segala dosa dan kesalahan, banyak-banyaklah bersedekah, terutama saat subuh. “Sedekah dapat menghapus dosa sebagimana air memadamkan api.” (H.R. Tirmidzi)
4. Menolak Bala dan Su’ul Khotimah
Tak ada seorang pun yang ingin mati dalam keadaan su’ul khotimah. Pun semua orang pasti mendambakan hidup yang penuh ketenangan, kebahagiaan, dan kenyamanan. Namun, musibah dan hal buruk lain bisa datang kapan saja.
Dengan melakukan sedekah subuh rutin, kamu akan terhindar dari segala macam kemalangan dan akhir yang buruk (su’ul khotimah). Kematian mendadak juga bisa dicegah dengan bersedekah secara rutin. Nabi bersabda, “Obatilah orang-orang yang sakit dari kalian dengan sedekah. Sesungguhnya sedekah itu dapat meredam murka Allah, dan menolak kematian yang buruk.” (HR. Tirmidzi)
Ini Keutamaan Mengamalkan Sedekah Subuh secara Rutin
“Kamu sekali-kali tidak akan sampai mencapai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menginfakkan sebahagian harta yang kamu cintai. Dan apa yang kamu infakkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” Ali Imran: 93
Mengapa Harus Perbanyak Sedekah Subuh?
Sedekah subuh memiliki keutamaan dibandingkan sedekah pada waktu lainnya. Saat sebagian orang masih terlelap, kamu sudah sibuk meraih ridha Allah SWT dengan bersedekah. Tak selalu berupa uang, sedekah subuh juga bisa dilakukan dengan berzikir, membagi makanan, mengajar ngaji, atau melakukan kebajikan lain yang bersifat sosial. Sedekah subuh dimulai sejak azan subuh sampai terbit fajar. Lakukan sedikit demi sedikit sampai kamu bisa konsisten setiap hari.

Rekening Donasi:
Bank Syari’ah Mandiri
Nomor Rekening : 770 002 2247
an. UPZ PUI Jabar
Konfirmasi transfer via SMS/WA ke Nomor wa.me/6285651070313
an. Admin UPZ PUI Jawa Barat

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
#upz #upzpui #upzpuijabar #ramadhan #puasa #ramadan #lebaran #ramadhankareem #islam #muslim #dirumahaja #hijrah #indonesia #idulfitri #muslimah #covid #ramadhantiba #sunnah #like #hijab #corona #dakwah #puasaramadhan #bukapuasa #quran #raya #marhabanyaramadhan #umroh
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
sumber: kitabisa.com (Zoom)

Continue Reading

Kajian

Sambutlah Ramadhan Dengan Kegembiraan

Published

on

Ilustrasi by Google

Hari ini adalah hari yang paling dinanti oleh setiap muslim di seluruh dunia. Dimana datangnya bulan yang  penuh dengan keberkahan, penuh dengan ampunan, penuh dengan Keistimewaan. Alangkah bahagianya kita bisa dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan. Marhaban yaa Ramadhan, Marhaban Yaa Syahrul Syiyam, Marhaban Yaa Syahrul Maghfirah.

Allah berfirman dalam Quran Surat Al-Baqarah 2:183.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Terjemah : Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

Tafsir Kemenag
Para ulama banyak memberikan uraian tentang hikmah berpuasa, misalnya: untuk mempertinggi budi pekerti, menimbulkan kesadaran dan kasih sayang terhadap orang-orang miskin, orang-orang lemah yang tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya, melatih jiwa dan jasmani, menambah kesehatan dan lain sebagainya. Uraian seperti di atas tentu ada benarnya, walaupun tidak mudah dirasakan oleh setiap orang. Karena, lapar, haus dan lain-lain akibat berpuasa tidak selalu mengingatkan kepada penderitaan orang lain, malah bisa mendorongnya untuk mencari dan mempersiapkan bermacam-macam makanan pada siang hari untuk melepaskan lapar dan dahaganya di kala berbuka pada malam harinya. Begitu juga tidak akan mudah dirasakan oleh setiap orang berpuasa, bahwa puasa itu membantu kesehatan, walaupun para dokter telah memberikan penjelasan secara ilmiah, bahwa berpuasa memang benar-benar dapat menyembuhkan sebagian penyakit, tetapi ada pula penyakit yang tidak membolehkan berpuasa.
Kalau diperhatikan perintah berpuasa bulan Ramadan ini, maka pada permulaan ayat 183 secara langsung Allah menunjukkan perintah wajib itu kepada orang yang beriman. Orang yang beriman akan patuh melaksanakan perintah berpuasa dengan sepenuh hati, karena ia merasa kebutuhan jasmaniah dan rohaniah adalah dua unsur yang pokok bagi kehidupan manusia yang harus dikembangkan dengan bermacam-macam latihan, agar dapat dimanfaatkan untuk ketenteraman hidup yang bahagia di dunia dan akhirat.
Pada ayat 183 ini Allah mewajibkan puasa kepada semua manusia yang beriman, sebagaimana diwajibkan kepada umat-umat sebelum mereka agar mereka menjadi orang yang bertakwa. Jadi, puasa sungguh penting bagi kehidupan orang yang beriman. Kalau kita selidiki macam-macam agama dan kepercayaan pada masa sekarang ini, dijumpai bahwa puasa salah satu ajaran yang umum untuk menahan hawa nafsu dan lain sebagainya. Perintah berpuasa diturunkan pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijri, ketika Nabi Muhammad saw mulai membangun pemerintahan yang berwibawa dan mengatur masyarakat baru, maka dapat dirasakan, bahwa puasa itu sangat penting artinya dalam membentuk manusia yang dapat menerima dan melaksanakan tugas-tugas besar dan suci. (quran.kemenag.go.id)


Marilah kita sambut Ramadhan dengan:

a.    Berpuasa dengan hati yang suka cita,
b.    Bersemangat dalam Menunaikan Ibadah Wajib
c.    Menghidupkan Setiap Waktu dengan Ibadah Sunnah
d.    Sering Berinteraksi dengan Alquran
e.    Menyantuni Dhuafa, Faqir dan Miskin

Allah SWT Berfirman dalam Surat Yunus 10: 58

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

Terjemah :
Katakanlah (Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.”

Tafsir Kemenag
Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad saw agar mengatakan kepada umat-Nya bahwa rahmat Allah adalah karunia yang paling utama, melebihi keutamaan-keutamaan lain yang diberikan kepada mereka di dunia. Oleh sebab itu, Allah memerintahkan agar mereka bergembira dan bersyukur atas nikmat yang mereka terima, yang melebihi kenikmatan-kenikmatan yang lainnya.
Kegembiraan orang-orang mukmin karena berpegang teguh kepada Al-Qur’an digambarkan dalam ayat lain sebagai berikut: Allah berfirman: Dan pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman. (ar-Rum/30: 4) Dan firman-Nya: Dan orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka bergembira dengan apa (kitab) yang diturunkan kepadamu (Muhammad). (ar-Rad/13: 36) Dikatakan bahwa karunia Allah dan Rahmat-Nya lebih baik dari yang lain, yang dapat mereka capai, karena karunia Allah dan rahmat-Nya yang terpancar dari Al-Qur’an adalah kekal untuk mereka, sedangkan kenikmatan yang lain bersifat fana dan sementara, yang hanya dapat mereka rasakan selama mereka mengarungi kehidupan di dunia saja, apabila mereka kembali ke alam baka, kenikmatan yang dapat mereka kumpulkan di dunia itu tidak berguna lagi bagi mereka.(quran.kemenag.go.id)
Hadis Nabi:

أتاكم رمضان شهر مبارك. فرض الله عز وجل عليكم صيامه , تفتح فيه أبواب السماء , وتغلق فيه أبواب الجحيم , وتغلّ فيه مردة الشياطين , لله فيه ليلة خير من ألف شهر , من حرم خيرها فقد حرم

Telah datang kepada kalian ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah wajibkan kepada kalian puasa di bulan ini. Di bulan ini, akan dibukakan pintu-pintu langit, dan ditutup pintu-pintu neraka, serta setan-setan nakal akan dibelenggu. Demi Allah, di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik dari pada 1000 bulan. Siapa yang terhalangi untuk mendulang banyak pahala di malam itu, berarti dia terhalangi mendapatkan kebaikan. (HR. Ahmad, Nasai 2106, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth). 
Diambil dari: Silabus, Talim dan Ceramah Ramadhan (Zoom)
Continue Reading

@ Copyright - Infokom DPW PUI Jabar