Connect with us

artikel

KEHARUSAN TOBAT DAN KEUTAMAANNYA

Published

on

Ilustrasi by Google
EMBUN PAGI
Oleh: H. Eka Hardiana

Keharusan Taubat
Tobat dari dosa yang dilakukan orang Mukmin dalam perjalanannya kepada Allah, merupakan kewajiban beragama yang tak terelakan, diperintahkan Alquran Al-Karim dan dianjurkan sunnah Nabawy.

Semua ulama telah sepakat, baik ulama zhahiriyah, bathiniyah, fikih maupun pemerhati perilaku telah menyepakati hal ini. Sampai-sampai Sahl bin Abdullah berkata, “Siapa yang mengatakan bahwa tobat bukan wajib, maka dia adalah orang kafir, dan siapa yang setuju dengan pendapat ini, juga orang kafir. Tidak ada sesuatu yang lebih wajib bagi manusa selain dari tobat, tidak ada hukuman yang lebih keras daripada hukuman karena tidak ingin mengetahui masalah tobat. Padahal tidak sedikit manusia yang tidak menguasai ilmu tobat

[Bersambung]

Sumber:
Kitab At-Tauba IIallah, Dr. Yusuf Al-Qardhawy, Penerbit Maktabah Wahbiyah Cairo, cet 1 – 1998

Pamoyanan, 19 Sya’ban 1441 / 13 April 2020 (Zoom)
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

artikel

COVID-19 DAN OPTIMALISASI FUNGSI MASJID

Published

on


Kana Kurniawan
Oleh: Kana Kurniawan)*

Sejak wabah Covid-19 masif merebak. Telah terjadi perubahan ritual keagamaan signifikan. Baik yang wajib maupun yang sifatnya syiar. Pada kawasan zona merah, ulama dunia maupun MUI mengeluarkan fatwa diperbolehkan melaksanakan sholat berjamaah di masjid, sholat jumat diganti sholat dzuhur di rumah dan menghindari syiar dakwah yang melibatkan banyak orang. MUI daerah juga mengeluarkan himauan serupa, terutama di kawasan zona merah. Sebagaiman kaidah, menolak kemafsadatan diutamakan daripada mengambil kemaslahatan (dar’ul mafasid muqodam ‘ala jalbi al-masholih).
Tak bisa dipungkiri, upaya pemutusan mata rantai virus Covid-19 yang digalakan pemerintah pusat dan derah melalui penutupan pusat perkantoran, tempat wisata, batasan jam buka swalayan dan pertokoan menjadikan pergerakan ekonomi menurun. Terutama para pekerja informal sangat terancam. Orang mau belanja ke luar rumah khawatir, dan cemas dengan sebaran Covid-19 yang masif. Belum lagi para pengusaha terpaksa merumahkan karyawan, tapi harus membayar upah. Pilihannya: bertahan waktunya terbatas atau pemutusan hubungan kerja.
Konsep Al-Ma’un: Masjid Jadi Alternatif
Memang era sekarang adalah era dilematis di semua sektor. Alangkah baiknya kita berpikir mencari jalan dari kekuatan umat yang ada, yakni memaksimalkan fungsi masjid. Meski sholat berjamaah untuk sementara tidak di masjid. Tapi fungsi lain harus tetap dipertahankan bahkan jadi alternatif meringankan beban ummat. Konsep lock down, sebagai cara memutus sebaran virus dipandang sangat efektif. Tapi keberlangsungan hidup umat harus tetap diperhatikan. Kiranya konsep QS. Al-Ma’unbisa menjadi landasan operasional pada masa sekarang ini.
Pertama. Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) membuka pos layanan terpadu umat. Umat diedukasi dengan pentingnya meningkatkan kesalehan sosial. Peduli lingkungan beserta kondisi masyarakat. Mengkordinir para dermawan yang mau memberikan bantuan langsung kepada masyarakat. Kebutuhan umat atau dhu’afa yang terdampak dan sedang melakukan self isolation, atau social distancing harus diutamakan. Mendata warga sekitar bersama pengurus RT/RW. Lalu mendistribusikan secara langsung melalui RT/RW setempat tanpa melibatkan banyak orang. Selain itu, DKM bisa mendirikan dapur umum, membuat nasi sedekah bagi para pekerja informal.
Kedua. DKM menginisiasi kerjasama dengan lembaga-lembaga filantropi seperti BAZNAS RI, Rumah Zakat, ACT, Dhompet Dhuafa, P3K PUI, LazisMU dan LazisNU serta lembaga lainnya. Agar partisipasi lembaga-lembaga tersebut lebih maksimal dalam kerja kolaboratif. Dalam situasi darurat, lembaga filantropi banyak yang memiliki sumber daya yang digunakan dalam situasi kedaruratan. Mulai dari relawan, produk layanan, obat-obatan dan lain sebagainya.
Ketiga. Melalui pengeras suara, akun media sosial atau WhatsApp Group (WAG) jamaah. Pos terpadu DKM mengedukasi warga terkait pola hidup sehat dan halal serta pengetahuan Covid-19 serta sejenis penyakit lainnya. DKM menggandeng para medis di lingkungannya. Sebab, di kalangan masyarakat masih banyak yang minim informasi tentang bahaya virus dan cara penanganannya. Seperti kejadian di suatu daerah, ada salahsatu warganya yang meninggal karena Covid-19 lalu oleh keluarganya dimandikan dan dikuburkan layaknya jenazah bukan karena Covid-19. Demikian sikap tanpa informasi yang baik, bisa berakibat fatal.
Keempat. Penguatan dan pemberdayaan ekonomi umat. Kalangan masyarakat bawah yang paling terdampak secara ekonomi harus dicarikan solusinya. Pelarangan bepergian terutama pekerja informal harus diberikan pilihan. Roda ekonomi mereka harus tetap berjalan. Artinya, masa-masa “karantina” tidak terlalu membebani ekonomi mereka. Misalnya, kotak amal ada yang khusus digunakan sebagai modal keuangan syariah masjid. Peran membantu (QS. Al-Ma’un: 7) bisa jadi alternatif. Jamaah masjid bisa menggunakan dana tersebut dengan akad pinjaman melalui lembaga simpan pinjam atau koperasi masjid.
Kelima. Para kyai atau ustadz di masjid-masjid harus mencari alteratif dakwah tanpa tatap muka, yakni dakwah virtual. Bagaimana pun kondisinya, umat yang sedang cemas dan bingung harus terus diberikan pencerahan agama. Memberikan pemahaman atas ujian wabah Covid-19—yang tidak dianggap sebagai penyakit biasa, tetapi sebagai bahan muhasabah. Bertaubat atas dosa dan kesalahan kepada Allah SWT, sesama dan alam sekitar. Masa ini sebagai masa uzlah (mengasingkan diri) yang disertai sikap hijrah. Meninggalkan sifat-sifat buruk, dan semakin shalih dalam ibadah dan bermasyarakat. Serta semakin meningkat nilai keimanan dan ketaqwaannya.
Dari lima langkah gerak tersebut, menurut hemat penulis bisa menjadi solusi umat dari masjid di tengah mewabahnya Covid-19. Masjid jadi magnet perbaikan umat sekaligus melayani kebutuhan umat. Tulisan ini semoga menjadi inspirasi dari konsep ishlah tsamaniyah (delapan perbaikan) PUI yang disarikan dari Dewan Syariah Pusat PUI. Fungsi masjid memaksimalkan perannya: ishlah al-a’qidah (perbaikan akidah), ishlah al-‘ibadah (perbaikan ibadah), ishlah al-ummah(perbaikan ummat) dan ishlah al-iqtishad (perbaikan ekonomi). Wallahu ‘alam bishowab.  
Penulis adalah Pjs. Ketua Umum PP Pemuda PUI, Alumni Ponpes Nurul Iman, Kuningan dan Ketua Divisi Dakwah DKM Ad-Durul Mantsur, Bogor. 
(ZOOM)

Continue Reading

artikel

Dosa-Dosa Besar dan Macamnya

Published

on

H. Eka Hardiana
Oleh: H. Eka Hardiana

EMBUN PAGI

Di dalam Alquran, Assunnah, Ijma’ para sahabat dan tabi’in, dan penjelasan para ulama, telah dipaparkan jenis-jenis perbuatan dosa yang dilakukan oleh manusia. 

Bila kita meninjau berdasarkan tingkat dosa-dosa tersebut menurut kriteria syar’i, dosa dapat dikelompokkan menjadi dua macam: dosa besar dan dosa kecil.

Dalam hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

اِنْ تَجْتَنِبُوْا كَبٰٓئِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَنُدْخِلْـكُمْ مُّدْخَلًا كَرِيْمًا

“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu dan akan Kami masukkan kamu ke tempat yang mulia (surga).”
(QS. An-Nisa’ [4]: Ayat 31)

Allah Ta’ala berfirman:

اَلَّذِيْنَ يَجْتَنِبُوْنَ كَبٰٓئِرَ الْاِثْمِ وَ الْفَوَاحِشَ اِلَّا اللَّمَمَ
“(Yaitu) mereka yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji, kecuali kesalahan-kesalahan kecil.”
(QS. An-Najm [53]: Ayat 32)

Dalam hadis sahih disebutkan, “Shalat lima waktu, dari Jumat ke Jumat, dari Ramadhan ke Ramadhan adalah saat penghapusan dosa-dosa yang ada di antara mereka selama dosa-dosa besar ditinggalkan.” (HR. Muslim).

Adapun amal yang dapat menghapus dosa mempunyai tiga tingkatan, yaitu:

1. Penghapusan atau Pengobatan

Penghapusan dosa-dosa kecil yang dsebabkan oleh lemahnya keikhlasan dalam beramal dan melaksanakan haknya.

Diibaratkan semacam tingkatan obat yang lemah yang dapat membantu usaha perlawanan terhadap penyakit scara kuantitas dan kualitas.


2. Perlawanan

Melawan dosa-doa kecil dan peningkatan perlawanan secara gigih sedikit demi sedikit untuk menghapus dosa yang besar.


3. Upaya dan Ikhtiar

Memperkuat usaha penghapusan dosa-dosa kecil sehingga terbangun suatu kekuatan yang dapat menghapuskan sebagian dosa besar.

Dalam kitab hadis, Shahihain, disbutkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda, “Jauhilah tujuh pembinasa!”

Ditanyakan, “Apakah itu ya Rasulullah?”

Beliau bersabda, “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan haq, makan harta anak yatim, makan riba, melarikan diri dari peperangan, dan menuduh wanita (yang telah kawin) yang tidak tahu-menahu dan mukminat dengan tuduhan perzinaan.” (H.R. Bukhari)

Selanjutnya dalam kitab yang sama disebutkan, suatu saat beliau ditanya, “Dosa apa yang terbesar di sisi Allah?” 

Beliau bersabda, “Engkau menjadikan sekutu untuk Allah, sedangkan Dia yang menciptaknmu.”

“Lalu apa lagi?”

Beliau bersabda, “Engkau membunuh anak-anakmu karena engkau takut (kalau) ia makan bersamamu.”

“Lalu apa lagi?”

Beliau bersabda, “Engkau berzina dengan istri tetanggamu.”

Lalu Allah Ta’ala menurunkan yang membenarkan itu:

وَالَّذِيْنَ لَا يَدْعُوْنَ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ وَلَا يَقْتُلُوْنَ النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَـقِّ وَلَا يَزْنُوْنَ 

“dan orang-orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sembahan lain dan tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina;”
(QS. Al-Furqan [25]: Ayat 68)


Banyak orang berbeda pendapat dengan memberi kriteria tentang dosa besar, apakah jumlahnya terbatas?

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berpendapat bahwa dosa besar ada empat. Abdullah bin Umar radhiyallahu anhu berpendapat lain. Ia menyebut dosa besar ada tujuh. Abdullah bin Amr bin Ash mengatakan ada sembilan, kemudian yang lain ada yang mengatakan tujuh puluh dan lain sebagainya.

Berkatalah Abu Thalib Al-Makki, “Aku mengumpulkan pendapat para sahabat, maka aku temukan empat macam dosa besar yang bersemayam di dalam hati, yaitu:
1. Syirik kepada Allah
2. Mengulang-ulangi maksiat
3. Putus asa dari Rahmat Allah
4. Merasa aman dari Hukuman Allah

Kemudian empat dosa besar dari lidah:
1. Bersaksi palsu
2. Menuduh wanita baik-baik berbuat zina
3. Sumpah yang menyesatkan (palsu)
4. Sihir

Tiga dosa besar dalam perut:
1. Meminum arak (khamr)
2. Makan harta anak yatim
3. Makan Riba

Dua macam dosa besar dalam kemaluan:
1. Zina
2. Homoseks

Selanjutnya dua dosa besar pada tangan:
1. Membunuh
2. Mencuri

Pada kaki ada satu, yang melarikan diri dari medan perang. Dan satu bergabung pada seluruh badan, yaitu mendurhakai kedua orang tua.

Mereka yang berpendapat bahwa dosa besar tidak dibatasi dengan jumlah, antara lain, ada yang mengatakan bahwa semua yang jelas dilarang Allah dalam Alquran adalah dosa besar dan yang dilarang Rasulullah Shllallahu alahi wa Sallam adalah dosa kecil.

Sumber:
Kitab Ad-Dau wa Ad-Dawa, Ibnul Qayyim Al-Jauziyah. Edisi Indonesia: Terapi Penyakit Hati, Qishti Press

Pamoyanan, 15 Sya’ban 1441 H/9 April 2020 M (Zoom)
Continue Reading

artikel

KETIKA WABAH DAN KONFLIK MENGGANGU IBADAH DI RUMAH ALLAH (PART IV)

Published

on

Dr.H. Engkos Kosasih, Lc., M.Ag

Oleh : Dr.H. Engkos Kosasih, Lc., M.Ag
(Ketua DPW PUI Jawa Barat)


Para Agresor dan Diktator

Penghentian salat Jum’at adzan jamaah pun bukan hanya dialami masjdil haram dan masjid nabawi saja, melainkna juga dialami oleh Masjid al-Aqsha yang menjadi langgganan pelecehan dan penghentian ritual di dalamnya. Ketika kaum Salib berkuasa, salat di masjid al-Aqsha dihentikan selama 90 tahun lamanya yang dimulai tahun 492 H. Mereka menakulkan Yerusalem dengan melakukan pembantaian massal. Ibn al-Atsir dalam al-Kamil menyebutkan bahwa Pasukan Salib membunuh kaum muslimin di al-Qasha lebih dari 70.000 orang, termasuk para imam, ulama dan para ahli ibadah lainnya yang sengaja meninggalkan tanah aiarnya demi beribadah di masjid suci ini.

Hal serupa terjadi menimpa masjid-masjid di Andalusia setelah pasukan kristen Spanyol menaklukan Andalusia pada awal abad ke 7 H. Sejarawan Andalusia, Abdullah bin Anna dalam kitab Daulatul islam fi al-Andalus menyebutkan bahw Spanyol tidak taat melakasanakan perjanjian tatkala penyerahan Cordoba terjadi untuk menghormati kebebasan beragama bagi kaum muslimin. Mereka justru menutup seluruh masjid, melarang kaum muslimin menjalankan ritual agama serta menodai keyakinan dan syariat mereka. Pada tahun 656 H, pasukan Mongol pimpinaun Hulagu Khan menaklukan Bagdad, kemudian Bangsa Tartar pimpinan Timur Lenk juga menaklukan Damaskus tahun 803 H. akibatnya, para pengkhotbah, para imam maupun para hafidz Qur’an itu semuanya dibunuh. Salat Jum’at dan salat berjamaah di Bagdad-pun dihentikan beberapa bulan lamanya. Imam al-Subky dalam kitab tabaqat al-Syafiiyyah juga menggambarkan kekejaman Khulagu tatkala menyerbu Bagdad,”Ia membunuh pimpinan umat islam, lalau semua umat islam. Salib pun diangkat, masjid-masjid dirusak sehingga negeri itu hancur berkeping-keping tak tersisa sedikitpun. Ditambhkan pula oleh Ibn Khaldun dalam kitab tarikhnya yang menyebutkan bahwa tatkala pimpunan Tartar bernama Mahmud Qazan itu menaklukan Damaskus pada tahun 699 H, ia pun melakukan pembunuhan dan perampokan di mana-mana. Mereka menyerbu masjid Bani Umayyah dengan melecehkan kehormatan masjid tanpa terkecuali. Mereka membunuh para qadhi dan para khatib. Salat berjamaah dan Jum’at pun dihentikan. Padahal Qazwan ini adalah berasal dari generasi Tartar yang masuk Islam!

Penaklukan Timur Lenk ke Damaskus juga tidak kalah sadisnya padahal ia mengaku masuk islam dan berdamai dengan penduduk Syam melalui tebusan perang yang dibayarkan para penduduk setempat agar mereka tidak dibunuh atau dirampok. Namun ia mengkhianati kesepakatan. Ia tetap merampok, membunuh dan membakar sebagian kota Damaskus. Syhawat dunia telah melupakan agama. Akibatanya semua ibadah di berbagai masjid berupa adzan dan iqamat pun dihentikan. Demikian dijelaskan al-Maqriy dalam kitabnya, al-Suluk li Ma’rifah Duwal al-Muluk”.

Ibn Khaldun sempat menyaksikan hari-hari kelabu tatkala mengunjungi Damaskus setelah dihancurkan Timur Lenk. Ia mneyebutkan kebiadaban Timur lenk dan pasukannya yang menyebabkan masjid Jami Umayah itu terbakar sehingga tidak bisa digunakan untuk salat. Dalam buku rihlahnya itu beliau menyebutkan tindakan Timur Lenk yang sengaja membakar berbagai properti sehingga apinya itu menerpa masjid Umayah yang agung. Atapnya pun terbakar lalu terlempar. Begitu pula dindingnya pun runtuh. Ini sungguh tindakan keji yang sangat bodoh. Hal senada diungkapkan Muibiruddin al-Maqdisy dalam kitab al-Tarikh al-Mukhtabar” bahwa salat Jumat tidak bisa dilaksanakan di masjid Umayyah kecuali hanya sekali saja, yaitu Jumat pertama tatkala Tartar menguasai Syam.

Hilangnya Keamanan Publik
Masjid tidak hanya terganggu karena perang saja, namun juga terganggu karena kerusuhan sosial yang tidak bisa diatasi oleh pemerintah. Ibn Syahin al-Malthy dalam bukunya Nailul Amal fi Dzail ad-Duwal menyatakan pada sebuah Jum’at di tahun 802 H, terjadi konflik antar pangeran dinasti Mamluk. “Kairo benar-benar genting dibuatnya. Pintu-pintu masjid ditutup, para khatib tidak bisa bebas berkhutbah, juga leluasa menjalankan shalat. Bahkan di beberapa masjdi tidak boleh digelar salat Jum’at, juga menunaikan salat di dalamnya. Orang-orang diliputi kecemasan yang mendalam sehingga pasar-pasarpun ditutup. 

Mesir juga akrab dengan kegentingan yang menyebabkan orang-orang meninggalkan salat Jum’at dan salat berjamaah di masjid. Sejarawan al-Khairany dalam kitab Ajaib al-Atsar bahwa pada tahun 1230 H, terjadi upaya kudeta yang gagal terhadap Gubernur Muhamad Ali Basya. Kudeta ini mengakibatkan kegoncangan publik. “Kudeta gagal ini belum dikenal di manapun yang berlangsung selama 5 jam lamnya, dari mulia sebelum Jumat sampat Asar. Orang-orang pun dibuat panik karena kahawatir atas harta dan nyawanya. Maka hari itu pula salat Jum’at dibatalkan karena masjid-masjid ditutp rapat. Orang-orang sibuk waspada dengan menyiapkan senjata pertahanan diri”.

Sejarawan Maroko, Abu Al-Abbas al-Nashiry dalam kitab al-istiqsha li akhbar Dual al-Magrib al-Aqsha” menyebutkan bahwa tatkala Sultan Abdul Malik bin Zaidan itu terbunuh, diangkatlah sadaranya yang bernama al-Walid bin Zaidan sebagai sultan. Akhiranya kegoncangan melanda kota Fas karena pelaksanaan salat Jumat dan Tarawih itu dihentikan di masjid al-Qurawain selama beberapa saat lamanya. Pada malam lailatul Qadar, tak ada seorang pun berani salat di dalamnya karena ketegangan yang memuncak pasca pembunuhan sultan tersebut. 

Ibn Adzary al-Marakasyi dalam kitab al-Bayan al-Maghrib menyebutkan bahwa tatkala dinasti Fatimiyyah berpindah ke Mesir, para penguasa lokal terus terbiasa menyebut nama-nama penguasa dinasti dalam semua khutbah Jum’at. Hal ini menyebabkan penduduk Quraiwan memboikot salat Jum’at agar terhindar dari mendoakan dinasti yang terkenal zalim itu dan dianggapnya juga perbuatan bid’ah. Kalau pun sebagaian jamaah ikut salat Jum’at, pasti berkata dengan berbisik-bisik, “Ya Allah, saksikanlah..Ya Allah saksikanlah”. Lalu ia pun pergi dan menunaikan salat duhur empat rakaat. Begitulah keadaan genting terjadi sampai-sampai taka ada seorang pun yang ikut menunaikan salat Jum’at. Salat Jum’at pun dihentikan dalam rentang waktu yang lama. Disebutkan bahwa khutbah yang menyebut-nyebut dinasti Fatimiyyah itu masih berlangsung sampai tahun 400 H setelah itu dihentikan dan bendera dinasti pun dibakar.

Kesimpulannya setelah menjelaskan rentetan sejarah dihentikannya salat Jum’at dan salat berjamaah di masjid, maka apa yang terjadi pada saat ini berupa penghentian serupa karena virus Covid 19 guna menghindari penularan, itu bukanlah perkecualian sejarah. Hal-hal serupa pernah terjadi karena berbagai sebab yang ada. Sebagian alasan itu sama dengan kita dari aspek alasan medis, sebagiannya lagi adalah dari aspek kemudaharatan yang ringan dan sebagiannya lagi memperhatikan kemdharatan yang lebih besar. Tentu saja suasana tidak ideal ini walaupun terjadi tentu ada ujungnya sebagaimana peperangan dan bencana itu berakhir. Semoga segera pulih sedia kala guna memakmurkan kembali rumah Allah dengan berbagai kegiatan ibadah. Wallahu a’lam bissawab. (Zoom)
Continue Reading

@ Copyright - Infokom DPW PUI Jabar