Connect with us

Berita

PUI Desak DPR Evaluasi Program Organisasi Penggerak Kemendikbud

Published

on

Organisasi Masyarakat yang lahir sebelum era kemerdekaan, Persatuan Ummat Islam, menyoroti polemik Program Organisasi Penggerak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Menurut Sekretaris Jenderal DPP PUI, Raizal Arifin, Secara kelembagaan PUI mengapresiasi yang menjadi program menteri Nadiem, tapi harus dievaluasi secara benar supaya tepat sasaran. “Banyak Ormas yang lahir sebelum kemerdekaan, yang sudah bergerak di Bidang pendidikan tanpa pamrih, sampai sekarang masih eksis,” kata Azzam, sapaan akrab Raizal Arifin, kepada Tim Media, Selasa (28/7).

Jadi, kata Azzam, tak elok Organisasi sebesar itu disama ratakan dengan lembaga yang baru kemarin sore lahir. “Kami berharap polemik ini segera berakhir, Mas Nadiem bisa mengadakan silaturahim bersama organisasi yang memiliki jaringan pendidikan agar program ini bisa berjalan efektif,” katanya. Ia juga mendesak, DPR RI perlu melakukan evaluasi yang menyeluruh terhadap Program Organisasi Penggerak Kemendikbud, supaya program ini benar-benar matang ketika di gulirkan. “Dengan semangat kebersamaan, semoga permasalahan pendidikan ini bisa cepat tuntas,” pungkasnya. (Zoom)

Continue Reading
1 Comment

1 Comment

  1. Munipah Munipah

    02/08/2020 at 22:50

    Mantuuul…..
    Allahu Ghooyatunaa…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita

Dampak Stres dan Cemas di Saat Krisis (Covid-19)

Published

on

Muhammad Iqbal, PhD
Semakin hari jumlah korban terinfeksi dan meninggal dunia semakian hari semakin terus bertambah, situasi ini tentunya sungguh menakutkan dan menimbulkan tekanan psikologis bagi masyarakat.
Sejak berkembangnya pendemi covid-19, masyarakat diminta di rumah. Semua diminta berdiam diri di rumah, siswa belajar di rumah dan orang tua bekerja di rumah, dan stres itu bermula ketika rumah yang didiami tidak sehat, baik dari segi kebersihan, ventilasi, kelayakan dan tata ruang sehingga berada di rumah bagi sebagian orang adalah sumber tekanan baru.
Pemberitaan di sosial media yang berseliweran, tidak valid, hoax dan pembatasan gerak membuat situasi mencekam dan menimbulkan kecemasan dan panik semua lapisan, sehingga banyak yang bertindak diluar alam sadar seperti memborong barang makanan dan mengurung diri takut tertular, bolak-balik mencuci tangan secara berlebihan dan memutuskan hubungan sosial.
Demikian juga orang tua dan siswa yang belajar di rumah karena banyaknya tugas dan tidak terbiasa dengan pembelajaran melalui daring “online” banyak siswa dan orang tua yang stres, karena mereka memiliki pengetahuan yang terbatas, fasilitas yang terbatas ( tidak semua punya HP/ Laptop) dan waktu yang terbatas ( bila anaknya banyak bagaimana mengerjakan secara bersama) dan itu semua dilakukan secara bersama dengan tugas rumah tangga (memasak, mencuci, membersihkan rumah) atau mengerjakan tugas kantor (WFH).
Demikian juga dengan guru yang stres menjalankan tugasnya mengoreksi dan memberi kelas online dimana mereka kebanyakan baru belajar dan tidak terbiasa dan ini menjadi sumber stres baru.
Demikian juga dengan penurunan pendapatan ekonomi keluarga yang membuat semua orang mengalami stres, cemas dengan tekanan hidup, mereka memikirkan bagaimana kehidupan mereka ke depan.
Padahal stres dan cemas itu sangat berbahaya, karena berdampak langsung dan tidak langsung kepada kesehatan fisik dan kesehatan mental, di beberapa Negara pada fase ini korban semakin banyak karena kondisi psikis yang menurun sehingga daya tahan tubuh lemah dan mudah tertular penyakit termasuk covid-19.
Cemas dan stres menyebabkan daya tahan tubuh menurun, gangguan konsentrasi dan emosi, gangguan fisik dan psikosomatis dan bisa menyebabkan depresi.
Solusi terbaik adalah dengan mengurangi tekanan dan kecemasan salah satu caranya dengan meningkatkan hormon endorfin atau dikenal dengan “hormon kebahagiaan” dengan cara banyak melalukan aktifitas yang positif, berolah raga, berkarya, berdoa dan bersyukur, tersenyum, hiburan, hobi dan minat, optimis dan banyak menerima informasi positif.
kepada Kemendikbud agar meminta guru, dosen agar tidak terlalu memberi beban tugas yang berat kepada siswa karena bisa menyebabkan stres kepada siswa dan orang tuanya, bagi siswa yang tidak punya fasilitas yang baik juga harus diberi kesempatan untuk belajar yang sama .
Kepada pemerintah diharapkan memberikan kepastian subsidi ekonomi bagi keluarga yang berdampak langsung serta memberikan informasi yang jelas sehingga dapat menurunkan tekanan dan kecemasan. Orang tua harus bisa memberikan ketenangan di rumah, karena kecemasan pada orang tua akan berdampak kepada anak yang juga akan cemas. (Zoom/pui.or.id)
Muhammad Iqbal, PhD
Dekan Psikologi Universitas Mercu Buana
Anggota Dewan Pakar Pusat PUI
Hp : 081218953316
Continue Reading

artikel

WASPADA TERHADAP AKIBAT DOSA (Bagian Kedua)

Published

on

Ilustrasi by Google
Oleh: H. Eka Hardiana

Para Salafus Shaleh Mengingatkan Untuk Selalu Waspada Terhadap Dosa dan Kemaksiatan

Maimun bin Mihran mengatakan, “Apabila seorang hamba berbuat dosa maka ada satu titik hitam di hatinya. Apabila dia bertobat maka titik hitam tersebut terhapus. Oleh karena itu, engkau melihat hati orang mukmin berkilau seperti cermin, dari mana pun setan datang pasti dia melihatnya. Adapun yang selalu berbuat dosa maka setiap kali dia berbuat dosa maka titik hitam hinggap di hatinya dan terus memenuhi hatinya hingga hatinya menjadi hitam, tidak bisa melihat setan ketika mendatanginya.
[Shifatus Shafwah: 4/412]

Dosa dan maksiat, sebagaimana yang diajarkan oleh para salafus shaleh dari generasi tabi’in, adalah membawa kemalangan bagi pelakunya dan mempunyai akibat yang buruk bagi diri dan keluarga. Karena kemaksiatan, seorang hamba menjadi hina di sisi Rabb-nya dan hilang kewibawaannya dari hati para makhluk. Hasan Al-Bashri mengatakan, “Mereka menganggap kecil Allah sehingga bermaksiat kepada-Nya. Kalau mereka mengagungkan-Nya maka Allah akan melindungi mereka.”
[At-Tabshirah, Ibnul Jauzy, hal 132]

Para salafus shaleh selalu mengingatkan kita untuk selalu waspada terhadap akibat dosa dan maksiat, karena hati mereka selalu sadar. Apabila dunia terasa sempit, periksalah dirimu karena kesempitan hanya datang karena akibat dosa yang telah engkau kerjakan. Apabila engkau susah memahami ilmu atau lupa hapalan, periksalah dirimu. Apabila engkau terputus dari mengerjakan ketaatan yang dahulu biasa engkau kerjakan, itu karena dosa yang telah engkau kerjakan.

“Berapa banyak orang membiarkan pandangannya berbuat dosa sehingga Allah membutakan mata hatinya. Atau, dia membiarkan lisannya sehingga hatinya tidak jernih, atau dia lebih memakan makanan yang syubhat sehingga menghalangi ibadahnya, tidak bisa menegakkan qiyamulail dan kehilangan kenikmatan dalam beribadah.”
[Shaidul Khathir, Ibnul Jauzi, hal 56].

Oleh karena itu, Sofyan Ats-Tsauri secara terus terang memberitahu kita, “Aku terhalang dari mengerjakan qiyamulail karena dosa yang pernah aku kerjakan lima bulan yang lalu.”
[Hilyatul Auliya’: 7/17]

Adh-Dhahak berkata, “Tidaklah seseorang mempelajari Alquran lalu lupa kecuali karena dosa yang telah dia kerjakan. Karena, Allah Ta’ala telah berfirman,

وَمَاۤ اَصَا بَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍ 

“Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu).”
(QS. Asy-Syura [42]: Ayat 30), dan lupa hapalan Alquran adalah musibah terbesar.”
[Az-Zuhd, Abdullah bin Mubarak, hal. 22]

“Aku meyakini, ” kata Abdullah bin Mubarak, “Jika seseorang lupa ilmu yang dia pelajari, itu karena dosa yang dia perbuat.”
[Az-Zuhd, Abdullah bin Mubarak, hal. 22]

(Bersambung)

Sumber:
Kitab Lamhah Tarbawiyah min Hayah At-Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal (Edisi Indonesia, Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in)

Pamoyanan, 4 Sya’ban 1441 H/29 Maret 2020 M (Zoom)
Continue Reading

artikel

WASPADA TERHADAP AKIBAT DOSA (Bagian Pertama)

Published

on

H. Eka Hardiana
EMBUN PAGI


Oleh: H. Eka Hardiana

Bahaya Akibat Dosa dan Kemaksiatan

“Apabila aku berbuat dosa maka aku mengetahui akibatnya dari tingkah laku keledai dan pembantuku.” — Fudhail bin Iyadh [Hilyatul Auliya’: 8/109]


“Guruku,” kata Ibnul Jala’, “melihatku ketika aku sedang mengamati seseorang yang tidak berjenggot (mirip perempuan), kata beliau: ‘apa ini? Sungguh, engkau akan menanggung akibatnya.’ Maka aku lupa hafalan Quranku setelah 40 tahun.”

[Shaidul Khatir, Ibnul Jauzi, hal 26]


Para salafus saleh menyebutkan hal tersebut kepada kita untuk mengingatkan bahaya akibat dosa dan maksiat.


Berapa banyak kenikmatan yang dicabut dari kita karena dosa, tapi kita tidak menyadarinya.


Penyebabnya adalah hati kita lalai sehingga tidak merasakan hukuman yang ada.


“Ketahuilah bahwa musibah yang paling besar adalah tertipu dengan keselamatan setelah mengerjakan dosa, karena hukumannya datangnya belakangan. Sedang hukuman yang paling besar adalah kalau orang tidak merasa tertipu sehingga ketika agamanya hilang, hatinya buta atau buruk dalam menentukan pilihan dirinya, namun dia mendapati badannya sehat dan segala tujuannya tercapai.”

[Shaidul Khatir. Ibnul Jauzi, hal 194]


Berangkat dari sini, seorang tabi’in besar, Abu Hazim mengingatkan kita.


Kata beliau, “Apabila engkau melihat Allah Azza wa Jalla terus menerus memberikan nikmat-Nya kepadamu sementara engkau bermaksiat kepada-Nya maka waspadalah!”

[Shifatus Shafwah: 2/505]


Para Tabi’in mendidik para pengikut dan muridnya agar selalu waspada terhadap akibat dosa.


Al-A’masy berkata, “Ketika kami berada di samping Mujahid, beliau berkata, ‘Hati manusia seperti begini’, lalu beliau menghamparkan telapak tangannya.


‘Apabila seseorang berbuat dosa maka akan seperti ini’, beliau melipat satu jarinya, ‘kemudian apabila berbuat dosa lagi’, beliau melipat jari kedua, ‘kemudian apabila berbuat dosa lagi’, beliau melipat jari ketiga, ‘kemudian apabila berbuat dosa lagi’, beliau melipat jari yang keempat. Kemudian beliau menggenggam ibu jarinya bersama jari-jari yang lain tatkala seseorang berbuat dosa yang kelima, dan berkata, ‘Kemudian ditutuplah hatinya’.”

[Shifatus Shafwah: 2/540


(Bersambung)


Sumber:

Kitab Lamhah Tarbawiyah min Hayah At-Tabi’in, Asyraf Hasan Thabal (Edisi Indonesia, Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in)


Pamoyanan, 3 Sya’ban 1441 H/28 Maret 2020 M. (Zoom)

Continue Reading

@ Copyright - Infokom DPW PUI Jabar