Connect with us

Dakwah

Lima Semangat Pengorbanan Kader Dakwah PUI

Published

on

Oleh Eka Hardiana

DALAM mukadimah Anggaran Dasar Persatuan Ummat Islam (PUI) disebutkan: “…Karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala telah dianugerahkan kepada manusia tanpa batas. Di antaranya nikmat taufiq dan hidayah. Taufiq merupakan nikmat Allah untuk memperoleh keridlaan dan hidayah-Nya. Adapun hidayah Allah hanya diberikan kepada manusia yang berlaku mujahadah(jihad). Kesiapan mujahadah tersebut harus dibina melalui usaha tarbiyah dan dakwah dalam jalinan silaturahim guna mewujudkan mu’amalah antara sesama manusia di atas prinsip-prinsip tauhidullah, ta’aruf, musawah, musyawarah, ta’awun, ukhuwah, tasamuh dan istiqamah…”

Amal da’awi (kerja dakwah) hanya menerima dan menampung orang-orang yang siap bekerja maksimal dan optimal dengan seluruh potensi yang dimilikinya. Medan dakwaj tidak menerima orang-orang malas. Harakah Islamiyah bukan tempat penampungan para pengangguran dakwah, orang-orang membicarakan dan menyuarakan Islam, namun tidak menindaklanjuti langkah konkret dengan dakwah, tarbiyah dan jihad fi sabilillah dengan waktu, pikiran, tenaga, harta dan nyawa.

Dakwah Islam adalah dakwah para Nabi, Shidiqin, Syuhada, dan Sholihin serta orang yang siap berjuang dengan harta dan nyawa untuk meraih surga dan keridhaan-Nya.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”(QS; At-Taubah:111).

Tugas aktivis dan kader PUI saat ini adalah membangun umat dan negara dengan dakwah, tarbiyah dan mujahadah (jihad). Umat tidak dapat dibangun dengan sisa waktu, tenaga, pikiran, harta dan kerja sambilan.

Setiap kader dakwah PUI dituntut berjuang menegakkan ‘izzul islam wal muslimin (Kejayaan Islam dam kaum Muslimin) dengan mengorbankan waktu, kesenangan, harta, nyawa, dan potensi lain yang dimilikinya.

Dakwah ini tidak menerima orang-orang yang berorientasi keduniaan, yang hanya memikirkan, istri, anak, jabatan, pangkat, kedudukan, rumah, rupiah, dan kendaraan mewah. Kejayaan Islam dan kemenangan dakwah tidak akan menjadi sebuah kenyataan kecuali dengan mujahadah (jihad), tidak ada mujahadah tanpa pengorbanan, dan pengorbanan yang diminta dari kader dakwah adalah pengorbanan yang tanpa batas.

 

Semangat Pengorbanan: Semangat Kader Dakwah

Imam Hasan Al Bana Rahimahullah dalam Majmu’atur Rasail menegaskan:

“Wahai ikhwah, ingatlah baik-baik. Dakwah ini adalah dakwah suci, jamaah ini adalah jamaah mulia. Sumber keuangan dakwah ini dari kantong kita bukan dari yang lain. Nafkah dakwah ini disisihkan dari sebagian jatah makan anak dan keluarga kita. Sikap seperti ini hanya ada pada diri kita, para kader dakwah dan tidak ada pada yang lainnya. Ingatlah dakwah ini menuntut pengorbanan. Minimal harta dan jiwa”.

Menyelami ungkapan di atas, begitu gamblang bagi kita, bahwa semangat pengorbanan merupakan semangat kader dakwah. Karena prilaku inilah yang mengantarkan kepada kemenangan dakwah. Semangat ini tidak boleh kendur, melainkan harus terus terpatri dalam sanubari setiap aktivis dan kader PUI agar tetap berkobar-kobar.

Tidak kendur, tidak rapuh, tidak pula redup lalu mati. Karenanya, semangat ini perlu diimplementasikan pada amal nyata bukan berkobar-kobar saja. Implementasinya pada lima kesemangatan yang menjadi agenda harian dalam diri aktivis dan kader PUI untuk menyongsong kemenangan.

 

1. Semangat Pengabdian.

Semangat pengorbanan ini akan selalu bersemayam manakala ia mengingat betul bahwa apa yang ia lakukan merupakan pengabdian kepada Allah SWT. Sehingga seluruh kontribusi bernilai ibadah. Ia memandang bahwa apa saja yang ia perbuat masuk dalam bingkai ibadah kepada Allah SWT. Semua itu akan senafas dengan firman Allah Ta’ala,”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS; Adz-Dzariyat:56)

 

2. Semangat Pelayanan.

Doktrin “nahnu khadimul ummat” (kita pelayan umat) mesti diingatkan kembali. Bahwa apa yang sedang kita lakukan adalah untuk kepentingan umat, kepentingan orang banyak. Semua kader perlu mengubah pola pikirnya, yakni tentang apa yang sudah ia berikan untuk umat?

Oleh karena itu, semangat pelayanan terhadap umat ini merupakan bagian sikap dari kader dakwah. Sikap ini tidak boleh mengendur karena betapa banyak hal yang dapat kita perbuat untuk umat. Siapa lagi yang akan berbuat kalau bukan kita yang memulainya.

 

3. Semangat Pembelaan.

Pengorbanan yang dilakukan kader dakwah adalah untuk membela banyak orang yang sedang menanti segala kontribusinya. Mereka menunggu-nunggu siapa yan membela untuk kepentingan diri mereka.

Belajarlah dari karyawan perusahaan obat yang mogok kerja. Manager mereka mengajak pergi ke rumah sakit untuk melihat bahwa banyak pasien di sana sedang membutuhkan obat yang mereka buat. Bila mereka mogok kerja, berapa banyak pasien yang akan meninggal dunia? Akibatnya, muncullah semangat ketekunan mereka untuk giat kembali bekerja.

Demikian pula pada kader dakwah. Mereka harus melihat pada lapisan masyarakat. Mereka sedang menanti uluran tangan kader dakwah yang mau membela kehidupan mereka.

 

4. Semangat Pembinaan.

Masyarakat luas selalu menjadi obyek penderita. Mereka selalu dibodohi segelintir orang. Karenanya, masyarakat luas harus dibina dan kader dakwahlah yang harus membina mereka.

Kenikmatan pembinaan jangan hanya dirasakan oleh kader dakwah, melainkan juga harus meluas ke kalangan yang lebih luas lagi. Maka, semangat pembinaan terus digelorakan. Tidak ada waktu luang kecuali untuk membina mereka. Sebagaimana yang dikenal dengan istilah Tarbiyah Jamahiriyah.

 

5. Semangat Pemberdayaan.

Banyak potensi di tengah masyarakat yang tersia-siakan karena tidak atau belum diberdayakan secara maksimal. Potensi itu harus dapat bermanfaat untuk umat ini. Ini hanya bisa kita dapati apabila kita berdayakan mereka. Semangat pengorbanan kader dakwah juga semangat untuk memperdayakan potensi umat yang terbengkalai ini. Dengan demikian, umat dapat kembali menikmati apa yang mereka miliki selama ini.
Siapa Yang Hendak Ikut Kami?

Hari ini adalah hari-hari perjuangan sekaligus sebagai hari-hari pengorbanan. Pengorbanan ini hanya akan dilakukan oleh mereka yang siap berada di garis terdepan dalam perjuangan.

Pada situasi seperti ini, kita harus buang jauh-jauh sikap umat Nabi Musa AS. Ketika diserukan kepada mereka untuk berjuang di barisan depan mereka menjawab: “…pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah kamu berdua, kami menanti di sini saja” (QS; Al-Maidah:24). Akan tetapi sikap siap yang mesti dilakukan adalah sikap siap sedia menyambut seruan perjuangan.

Akhirnya, mencuatlah pertanyaan besar. Siapa yang hendak ikut perjalanan kami? Jawabannya ada pada diri masing-masing aktivis dan kader dakwah PUI. Namun ada baiknya kita merenungi nasihat seorang ulama dakwah, Syaikh Muhammad Ahmad Rasyid:

“Sesungguhnya kami telah bangkit untuk meraih keagungan, sedangkan keterbelakangan telah berlalu dari kami. Kami telah merencanakannya, langkah ini menuntun kami untuk meraih kejayaan dan kemenangan. Maka majulah wahai saudaraku, sesungguhnya kafilah dakwah ini telah berjalan. Mereka telah berangkat untuk meraih kegemilangan. Sesungguhnya kemenangan itu hanya dapat diraih dengan tekad dan pengorbanan”.  Allahu A’lam.

 — Penulis Ketua Bidang Pembinaan Organisasi dan Koordinator Antar Daerah PW PUI Jabar

 

Continue Reading
1 Comment

1 Comment

  1. rudy

    04/05/2016 at 11:49

    saya sangat ingin bergabung dengan PUI, karena saya melihat kebenaran di dalamnya, tapi saya masih sangat awam dalam hal keorganisasian, di tambah lagi di daerah saya(Lhokseumawe)belum ada organisasi ini, bolehkah saya bergabung? dan bagaimana caranya?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Dakwah

JANGAN MERUSAK AMALMU

Published

on

EMBUN PAGI (Oleh: Eka Hardiana)

Ayat Alquran yang membuat orang beriman gemetar dan takut di antaranya adalah ayat ini : 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَلَا تُبْطِلُوْۤا اَعْمَا لَـكُمْ 

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan janganlah kamu merusakkan segala amalmu.”
(QS. Muhammad [47]: Ayat 33)

Ibnu ‘Umar radhiyallahu anhu pernah berkata: “Kami sekelompok shahabat Rasulullaah mengira bahwa tidak ada sedikitpun kebaikan, kecuali PASTI DITERIMA (ALLAH). Hingga turunlah ayat (diatas).” 
(Diriwayatkan Ibnul Mubaarak; dikutip dari Tafsir IBnu Katsiir)

Sesungguhnya kebaikan, dapat menghapuskan keburukan; dan sesungguhnya keburukan dapat menghapuskan kebaikan.

Yang dimaksud dengan “merusak amal” adalah: 

  1. Janganlah engkau merusak amal ketaatan dengan melakukan dosa-dosa besar.
  2. Janganlah engkau merusak amalmu dengan bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.
  3. Janganlah engkau merusak amalmu dengan RIYAA’, UJUB, SUM’AH, KERAGU-RAGUAN, GHIBAH, dan NIFAQ.


Diantara pelajaran penting ayat diatas, yang dapat kita petik adalah sikap para sahabat : “Janganlah kita merasa bahwa Allah telah menerima amalan kita (sedangkan kita tidak tahu secara pasti hal tersebut) yang akibat anggapan tersebut (merasa amalan kita sudah banyak, dan kita menjadi takabbur dan ujub karenanya), menjadikan kita bermudah-mudahan terhadap dosa, sekecil apapun itu.

Sahabat Umar radhiyallahu ‘anhu menanyakan kepada para shahabat tentang tafsir ayat diatas. Ibnu Abbas menjawabnya:

“Yakni perumpamaan orang yang RAJIN beramal dengan ketaatan kepada Allah, lalu Allah mengirimkan setan kepadanya (kemudian ia mengikuti jejak langkah syaithan tersebut), lalu dia banyak bermaksiat sehingga amal-amalnya terhapus” 
(Fathul Baari (VII/49); al-Bukhari (4538)

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا

“Aku benar-benar mengetahui diantara umatku pada hari Kiamat nanti, ada yang datang dengan membawa kebaikan sebesar gunung di Tihamah yang putih, lalu Allah Azza wa Jalla menjadikannya seperti kapas berterbangan (menjadikannya sia-sia.).”

قَالَ ثَوْبَانُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لَا نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَا نَعْلَمُ قَال

Tsauban bertanya, “Ya Rasulullah, jelaskan kepada kami siapa mereka itu agar kami tidak seperti mereka sementara kami tidak mengetahui!” Beliau bersabda,

أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنْ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا

“Sesungguhnya mereka adalah saudara-saudara kalian dan dari golongan kalian, mereka shalat malam sebagaimana kalian mengerjakannya, tetapi mereka adalah kaum yang jika kembali kepada apa yang di haramkan Allah (berbuat dosa), maka mereka terus mengerjakannya.”
(HR. Ibnu Majah, disahihkan oleh Syaikh Al-Bani dalam Silsilatul Ahaadits Shahihah No. 505).

Kita berlindung kepada Allah dari ketertipuan terhadap amalan-amalan kita; sehingga menjadikan kita takabbur, sehingga menjadikan kita menganggap mudah untuk melakukan dosa.

Tanda baiknya amalan kita adalah amalan yang mengiringinya. Jika kita mengamalkan amalan buruk, maka itulah buah dari amalan sebelumnya (meskipun amalan sebelumnya terlihat “baik”).

Oleh karenanya jika ternyata kita dapati dalam diri kita sibuk dengan amalan ketaatan, tapi sering jatuh kepada maksiat; maka mungkin “amalan ketaatan” yang kita lakukan tersebut hanyalah secara zhahirnya saja yang saleh; tapi secara batin, penuh dengan kedustaan (riyaa’/sum’ah). Na’udzubillah.

Maka kita memohon kepada Allah, agar dimudahkan serta diberikan kekuatan untuk beramal saleh secara TERANG-TERANGAN maupun secara SENDIRIAN; baik secara LAHIR maupun BATHIN.

Rasulullah Shallallahu alaihi wa Salam bersabda:

وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِخَوَاتِيمِهَا

Sungguh amalan itu tergantung dengan penutupannya.” 
(HR. Bukhari)

Beliau juga bersabda:

لَا عَلَيْكُمْ أَنْ لَا تَعْجَبُوا بِأَحَدٍ حَتَّى تَنْظُرُوا بِمَ يُخْتَمُ لَهُ

“Janganlah kalian merasa kagum dengan (amalan) seseorang hingga kalian dapat melihat akhir dari amalnya.

Said bin Jabir berkata :
“Sesungguhnya seorang hamba melakukan perbuatan kebaikan lalu perbuatan baiknya itu menyebabkan ia masuk neraka, dan sesungguhnya seorang hamba melakukan perbuatan buruk lalu perbuatan buruknya itu menyebabkan dia masuk syurga. Hal itu kerana perbuatan baiknya itu menjadikan, dia bangga pada dirinya sendiri (takabbur, kemudian ujub), sehingga dengan sebab takabbur dan ujubnya tersebut; maka Allah mewafatkannya diatas keburukan tersebut. Sementara seseorang yang melakukan perbuatan buruk (senantiasa hatinya mengingkari dan merasa bersalah atas perbuatannya tersebut), hingga menjadikan ia senantiasa memohon ampun serta bertaubat kepada Allah kerana perbuatan buruknya itu (dengan sebab rasa takutnya tersebut, maka Allah memberinya petunjuk, dan mewafatkannya diatas taubatnya tersebut).”

و اللّٰه اعلم بالصواب 

Pamoyanan, 18 Rajab 1441 H/13 Maret 2020 M (Zoom)
Continue Reading

Dakwah

KARENA BEDA, KITA BERSATU

Published

on

Oleh: Egi Sopian. (Ketua Biro Dakwah DPW PUI Jawa Barat)

Perbedaan yang terjadi di tengah-tengah kehidupan manusia baik dalam urusan agama maupun urusan dunia sejak dahulu kala dan akan tetap ada sampai hari kiamat nanti. Hal ini merupakan hikmah ilahiyah supaya tampak jelas antara yang haq dan yang batil, tetapi orang-orang yang mendapat rahmat dan petunjuk Allah SWT tidak akan berbeda pendapat dalam perkara ushuuluddiina/dasar-dasar agama karena mereka mengetahui jalan kebenaran dan mengikutinya untuk kemaslahatan umat manusia. 

ولو شاء ربك لجعل الناس أمة واحدة ولايزالون مختلفين. إلا من رحم ربك ولذلك خلقهم.

Artinya: “Jika Tuhanmu menghendaki, tentu Allah jadikan umat yang satu. Tetapi, mereka senantiasa berselisih pendapat. Kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Untuk itulah, Allah menciptakan mereka” (QS. Hud [11]: 118-119).

Kendati perbedaan pendapat, tujuan, orientasi dan cita-cita merupakan fitrah manusia, tetapi upaya untuk menghilangkan konflik dan memperkecil jurang perpecahan merupakan tugas mulia seorang muslim. Karena itu, dia sadar bahwa perbedaan adalah rahmat untuk mencari meeting of mind/ titik temu, mendinamiskan serta memperkaya khazanah kehidupan. Oleh karena itu, segala bentuk prasangka, sentimen, serta niat saling mengungguli dalam pengertian negatif harus dihindari seoptimal mungkin karena akan meruntuhkan tatanan pergaulan manusia dan mengkhianati posisi kebersamaan. 
Pancaran sikap dan karakter seorang muslim justru karena cinta, dia tidak ingin orang lain merasa terancam, resah serta tersakiti karena kehadiran dirinya, memprioritaskan kemanusiaan di atas kepentingan individu. Secara umum, hal ini disabdakan Rasulullah SAW: “Sayangilah penduduk bumi niscaya yang di atas langit pun akan menyayangi kalian” (HR. Abu Dawud).
Dalam perbedaan inilah terdapat keindahan dan kesempurnaan hidup, sekaligus menunjukkan kuasa Allah SWT. Adapun sebab-sebab perbedaan itu sendiri, di antaranya adalah: 
Pertama, Tidak Sanggup Memahami Permasalahan. 
Masing-masing belah pihak tidak sanggup memahami permasalahan secara komprehensif/ lengkap. Hal ini diumpamakan seperti sekelompok orang buta yang memegang seekor gajah besar. Orang pertama memahaminya melalui satu sisi, orang kedua juga memahaminya melalui sisi yang lain, begitulah orang ketiga dan seterusnya. 
Setiap mereka memberikan ciri-ciri gajah berdasarkan apa yang mereka pegang. Sejatinya, jika telah diketahui inti permasalahan yang diperselisihkan, maka lenyaplah segala bentuk perbedaan. 
Syaikh Muhammad Abu Zahrah berkata: “Pandanglah pada kebenaran, bagaimana mampu menyatukan mereka, pandanglah kebohongan dan kesalahan yang masuk pada diri mereka hingga meretakkan persatuan mereka”.
Kedua, Fanatisme Golongan. 
Sejarah mencatat, ketika terjadi pertempuran antara blok Musailamah Al-Kadzdzab dengan kaum Muslim, salah seorang kaki tangannya berkata: “Demi Allah, sesungguhnya tampak jelas bahwa tampangmu adalah tampang pendusta, tetapi tidaklah mengapa aku menjadi kaki tanganmu, karena bagiku seorang pendusta yang membawa keberuntungan lebih baik dari pada orang jujur yang membahayakan”.
Ketiga, Melakukan Taklid Tanpa Ilmu. 
Taklid buta semestinya tidak dilakukan seorang muslim, apalagi jika disertai dengan sikap keras kepala, mengingkari kebenaran, dan tunduk kepada hawa nafsu. Seyogyanya dia mengetahui dalil dari Al-Qur’an dan sunnah yang menjadi landasan orang yang diikutinya tersebut. 
Allah SWT berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya, pendengaran, penglihatan dan hati, semua akan diminta pertanggung jawaban” (QS. Al-Isra’ [17]: 36).
“Ya Allah, satukanlah hati kami, perbaikilah hubungan sesama kami, tunjukkanlah kami jalan kebenaran, selamatkanlah kami dari kegelapan menuju cahaya, jauhkanlah kami dari perbuatan-perbuatan keji yang nampak maupun yang tersembunyi” aamiin. (Zoom)
Continue Reading

Berjiwa Besar

MEREKA BERJIWA BESAR

Published

on

Oleh: Egi Sopian. (Ketua Biro Dakwah DPW PUI Jawa Barat)
Jiwa besar adalah semangat untuk memaafkan sekaligus melupakan kesalahan yang sempat dilakukan orang lain terhadapnya to forgive and to forget. Dikatakan berjiwa besar karena seseorang bisa jadi memaafkan, namun tidak berangkat dari lubuk hati yang tulus sehingga tidak berkenan melupakan segala dendam kesumat, baik secara pribadi maupun kelompok. Maka, setiap kebulatan hati apabila tidak dibarengi dengan kesadaran hanya akan melahirkan sikap keras kepala dan membuahkan kegelisahan pelakunya.
Allah swt menunjukkan salah satu ciri orang yang cerdas secara ruhaniah adalah mereka yang mampu menghapus bekas luka hatinya sebagai bentuk kesalehan, kepeduliannya terhadap kemanusiaan untuk membangun kualitas moral yang lebih baik lagi. Sebagaimana dalam firman-Nya, 
وأن تعفوا أقرب للتقوى ولا تنسوا الفضل بينكم إن الله بما تعملون بصير. 
Artinya: “Pemaafan kamu itu lebih dekat kepada takwa. Janganlah kamu lupa kebaikan di antara kamu. Sesungguhnya, Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Baqarah [2]: 237).
Hubungan baik, antara lain dicerminkan oleh kesediaan untuk saling memaafkan, menuturkan kebaikan, dan melupakan keburukan sehingga menjadi pahala semuanya. Hal ini benar-benar membuktikan jiwa yang sudah teruji dan terlatih dengan takwa.
Ketika Rasulullah SAW dihina, dicemooh dengan kata-kata kotor dan dilempari batu hingga terluka bercucuran darah oleh penduduk Thaif. Pada saat itu, Malaikat Jibril mendatanginya dan menawarkan bantuan untuk membalaskan kepedihan hatinya seraya berkata: “Apakah engkau mau aku timpakan dua gunung kepada mereka? “. Tapi, Rasulullah SAW tidak menghendakinya dan dijawab tawaran tersebut dengan do’a, “Ya Allah, ampunilah mereka, karena sesungguhnya mereka itu kaum yang tidak mengerti”.
Inilah leadership by example/ kepemimpinan dengan keteladanan yang menunjukkan kearifan, optimisme yang luar biasa dan menampakkan jiwa besar Rasulullah SAW. Keagungan akhlaknya menggaung ke seantero jagad dan diabadikan dalam firman-Nya, “Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (QS. Al-Qalam [68]: 4).
Manshur bin Muhammad Al-Kuraizi berkata: “Aku akan paksakan sifat pemaaf pada diriku untuk orang-orang yang berbuat keburukan mereka kepadaku. Karena manusia itu tidak lebih lebih dari tiga golongan (yaitu) orang yang mulia, orang yang tidak mulia, dan orang yang seimbang dengan kita. Adapun orang yang lebih dariku, maka aku mau mengakui keutamaan dia dan aku mengikuti kebenaran padanya. Karena kebenaran itu harus diikuti. Kalau ternyata orang itu lebih rendah kemuliaannya dariku dan ternyata dia berbuat buruk kepadaku, maka aku sudah melindungi diriku dengan cara aku untuk tidak menjawab dia. Kalau ternyata dia seimbang denganku lalu terpeleset di dalam kesalahan, maka aku sudah berbuat kebaikan. Karena sifat halim/ penyantun merupakan sifat yang lebih baik bagi orang yang bijak”.
Dengan demikian, berjiwa besar merupakan orang yang menyikapi sesuatu untuk satu kepentingan besar, kemaslahatan Islam dan muslimin, bukan jiwa kerdil yang senang jika dipuji dan marah jika dikritik, begitu pula tidak lagi menghargai kebersamaan yang pernah dijalin waktu silam. Satu keburukan di mata manusia bisa menghapus semua kebaikan, tetapi satu kebaikan di mata Allah bisa menghapus semua keburukan. 
Allah swt berfirman: “Dan tidaklah sama kebaikan dan keburukan. Tolaklah (keburukan itu) dengan cara yang lebih baik, maka orang-orang yang antaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang amat setia” (QS. Fushshilat [41]: 34).
“Ya Allah, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan lepaskanlah kekakuan lidahku, agar mereka mengerti perkataanku” aaminn. (Zoom)
Continue Reading

@ Copyright - Infokom DPW PUI Jabar